Kangen Banget Pangkah

Dua bidadariku sudah terlelap saat coretan ini mulai kugoreskan. Bermula dari kontemplasi tentang bagaimana aku bisa seperti sekarang. Tiba-tiba pikiranku terbang ke satu sudut kecil di daerah Prambanan, tepatnya di Pangkah, di atas Sendang Sriningsih. Ya.. Pangkah atau sering disebut pula Gambir Sawit. Di sanalah beberapa tahun yang lalu aku dan rekan-rekan kuliah menjalankan program KKN (bisa dibaca di sini). Tapi justru bekal terbaikku adalah pasca kegiatan itu usai dimana aku seolah melebur menjadi keluarga dusun itu. Kandani kok..

Setelah program selesai, aku dan warga Pangkah sering bersilaturahmi satu sama lain. Kadang aku samperin di lokasi glidik (baca : kerja) mereka di penjuru Jogja. Bahkan pernah saat masa puasa aku menginap di proyek pembongkaran rumah dan sahur dengan satu piring nasi plus satu telur dadar untuk bertiga. Acap kali mereka yang datang ke kosku di seputaran Krodan, Maguwoharjo, untuk gitaran bareng atau mampir sebelum pulang weekend. Aku yo pasti melu…

Melu berarti ikut mereka pulang ke Pangkah, menikmati malam minggu dengan nongkrong di pos ronda, paketan AO dan empekgo (kadang geli wong anggur orang tua kok sering diminum anak muda), bahkan jaga parkir di balai desa Gayamharjo jika musim bulan Maria tiba. Tak hanya malam minggu sahabat.. hari biasa pun kadang aku bisa luangkan waktu untuk ‘munggah’ ke daerah perbukitan itu bila diampiri karena ada yang hajatan atau kenduri dan esok paginya pulang ke kos lagi. Aaaah.. seolah sudah keluarga sendiri, ibarat kata mau nginep tempat siapapun jadi dah..

Ikatan keluarga itu masih berlanjut hingga tak jarang saat team kesenian kuda lumping dusun itu manggung, aku pun selalu hadir. Hingga suatu ketika ada pawai di sudut Jogja yang tak pernah kusentuh pun juga kudatangi. Yang lebih cetar lagi adalah saat ada yang pindah rumah, dimana harus memindahkan genting dengan naik turun bukit, aku hadir berbekal semangat 45, baru sekali bolak balik sudah duduk manis ngos ngosan sinambi ngudut meh semaput. Padahal yang lain sampai berkali-kali. Payaaaah.. nafsu garang tenaga kurang.

Dan ikatan keluarga itu masih ada hingga kini.. dan sampai mati. Aku menemukan banyak keluarga baru di situ seiring bagaimana aku mengenali sudut demi sudutnya. Mulai dari Ndemang, Tompak, hingga Ngedam. Bahkan anak-anak kecil yang dulu masih bernyanyi riang, rela diberi kumis-kumisan saat pentas seni di akhir KKN kami, sekarang sudah beranjak remaja dan bahkan ada yang menikah mendahului kami para guru dadakannya dulu.

Aku tengok kedua bidadariku di kamar, aku pastikan suatu saat aku akan kembali menginjak tanah itu bersama mereka. Agar mereka tahu saat suami dan papanya mengambil air dengan mikul, nggendong, munji, nyangking, hingga pakai motor karena sudah tidak ada metode lain yang belum dicoba. Agar mereka mengerti bagaimana membaur dan menemukan keluarga baru dalam hidup ini. Agar mereka bisa menyebarkan kasih lebih luas lagi dalam setiap detik kehidupan keluarga kami.

I Love You Pangkah..

Kategori:PLUS plus

Pelajaran dari Shelo

Pa-pa.. Ma-ma..
Suara si kecil Shelo di tengah langkah-langkah kecilnya yang tertatih saat belajar berjalan. Seolah memberitahu kami bahwa dia MAU BELAJAR! Meski terkadang terjatuh, menangis, atau kemudian memilih merangkak. Namun tak berapa lama lagi dia kembali berjalan, di tengah mainannya yang berserakan. Menghindari ‘rintangan’ yang dia buat agar kakinya tidak terantuk berulangkali.

Sahabat..
Si kecil ini mengingatkan kami berdua selaku orang tuanya tentang banyak hal hanya dari latihan berjalannya. Pertama bagaimana dia mengingat dan memanggil orang tuanya saat kesulitan. Ini seolah mengajak kami untuk mengingat Tuhan dalam segala keadaan. Saat susah seperti ini atau nanti jikalau sudah berhasil.

Kedua adalah kemauan dan kegigihannya untuk mau belajar. Tentu saja ini pukulan telak buat kami utamanya aku yang kadang pasrah dengan keadaan dan berhenti pada satu titik buntu karena sempitnya pemikiran. Dan ketiga yang paling menarik..

Shelo berani melewati rintangannya dan berusaha untuk tidak terantuk kakinya. Astaga! Bukankah keadaan sekarang ini adalah pilihan dan konsekuensi atas keputusanku sendiri? Kenapa harus takut dan ngeri. Aku pasti bisa.. Pasti bisa.

Terima kasih anakku.. Kita tumbuh bersama menjadi anak dan orang tua yang semakin baik ke depannya.

IMG_20160622_213605

Balak Tiga

Hehehe.. Bukan Talak Tilu loh.. Tapi dua angka 3 yang jika di gaple disebut balak. Akupun sekarang melampauinya. Dan dengan cara yang berbeda.

1463763493859

Jika sebelumnya bisa hihi haha.. Ketiwi ketika eh ketawa.. Tapi tepat di pergantian hari kali ini aku diminta untuk merenung. Tentang masa yang bisa dibilang kurang beruntung. Meski tetap harus bergerak dan bukan mematung.

Kali ini dirayakan bertiga.. Tanpa apapun selain doa. Agar selalu sehat dan awet muda (baca : panjang umur). Agar mampu untuk bersyukur di setiap hela nafas yang diberikanNya. Agar mampu lebih baik lagi menjadi pria, suami, ayah, sekaligus kepala rumah tangga.

Selamat datang balak tiga.. Kupasrahkan detik demi detik mendatang kepadaNya. Rejeki anak soleh, ulang tahun dapat kue tema futsal.. Ayeee.. Thanks mama and shelo..

IMG_20160521_001144

Segelas Air Setelah Makan

Dulu pernah saya tuliskan tentang secangkir kopi sisa yang kadang mengingatkan saya akan pergumulan hidup. Sekarang coba saya coretkan lagi tentang hal yang hampir sama meski bedanya ini terjadi saat saya sudah menikah. Ya.. hanya kebiasaan kecil yang saya maknai dengan pemahaman saya sendiri tanpa dikotori oleh maraknya berita konyol yang menghiasi linimasa berbagai media massa.

Jadi begini ceritanya.. Setiap kali makan bersama isteri tercinta, kami selalu berbagi tugas bilamana saya tidak malas dengan berpura-pura mengasuh anak (jangan ditiru). Kalau tidak malas ya bisa kebagian jatah merapikan area makan (lesehan di ruang tamu), mengembalikan perabot makan, atau mencuci piring-piring kotor. Namun ajaibnya dan baru saya sadari dua hari belakangan ini, selalu ada segelas air putih yang disiapkan isteri meski saat acara makan pun sudah minum dari gelas yang sama.

Mau bertanya apa arti dan maknanya sama nyonya rumah, pastinya jawabannya hanya senyum dan cengar-cengir belaka. Maka baiklah saya merenungkan dan membuat maknanya sendiri (biar kelihatan dewasa hahaha).

Segelas air sesudah makan sebenarnya mengandung dua makna mendalam bagi saya. Pertama, adalah simbol bahwa meskipun sudah berkecukupan, maka kita harus menyiapkan tabungan dalam kehidupan kita. Detik berikutnya tentu kita tidak bisa tebak, mana tahu setelah makan kita kehausan karena cuci mencuci atau sapu menyapu? Demikian juga kita tidak bisa menebak apakah kita akan sehat selamanya atau kondisi keuangan kita akan stabil selalu. Tidak hanya tabungan materi, tabungan amal baik, iman, cinta, dan pengharapan tentunya juga utama.  Jadi makna pertama segelas air setelah makan adalah SELALU BERSIAP untuk setiap kejadian dalam hidup kita.

Makna kedua adalah perlambang KESETIAAN. Isteri saya menyiapkan segelas air tersebut agar saya tidak cari-cari air lagi bilamana haus. Sudah disediakan.. dan terus menerus disediakan. Adakalanya dalam hidup kita sering tidak setia. Tidak hanya pada pasangan, tetapi juga pada hal-hal lainnya. Dalam pekerjaan, pelayananan, bahkan dalam pemikiran kita.

Jadi segelas air setelah makan dari isteri saya bermakna kesiapan untuk setia, pada siapa? Pada-Nya yang paling utama, yang lain baru berikutnya. Sekian

10 Tips Perpanjangan dan Mutasi SIM

Mei 4, 2016 2 komentar

Anda kenal mbah Google? Dewasa ini simbah GOOGLE memang menjadi primadona dalam dunia per-kepo-an alias hal-hal yang ingin kita tahu. Jangankan nama universitas bahkan merk celana dalam favorit artis pun tinggal ketik di kolom pencarian dan tralala.. langsung nongol! Luar biasa bukan? Namun jangan salah.. tidak selamanya tanya ke simbah satu ini akan mempermudah hidup kita. Mau bukti? Sik sebentar nge-teh dulu.. cegluk (biasanya ngopi dulu.. srupuuut, tetapi ternyata sudah jadi ciri khas bang Denny Siregar, minggir deh saya).

Hal ini saya alami saat mau memperpanjang SIM yang sebentar lagi habis masa berlaku seiring pertambahan usia. Dan sesuai dengan KTP baru maka harus mengurus proses mutasi dari Depok ke Serang. Olala.. Bolak Balik.. Aduh Abang Dah Capek Coy #AADC2.

Karena memang tidak paham, maka sembari menunggu akal buntu untuk menghubungi biro jasa (a.k.a. Calo), jemarikupun menari di gadget dan laptop. Tangan kiri di gadget, tangan kanan di laptop, terus split kayak si Bang Jonru. Semuanya berulang ulang melakukan hal yang hampir sama yaitu mengetik kata “mutasi SIM” ditambahi beberapa kata sebagai bumbu penyedap rasa. Otomatis mata pun melihat tulisan demi tulisan, blog demi blog, hingga website resmi-nya POLRI. Dan semuanya menghasilkan kesimpulan yang mengerucut bahwa saya harus ke Depok bikin surat mutasi lalu balik ke Serang lagi dan begitulah. Apesnya lagi pengurusan SIM di kota Belimbing sudah berpindah dari Jalan Margonda ke Pasar Segar yang notabene kalau ngangkot akan naik turun berulang kali.

Sudah lemes aja dengkul saya (untung dah nikah).. Baca selanjutnya…

Akoe dan Tiga May Day Terakhir

Mei 3, 2016 4 komentar

Semenjak menggawangi satu paguyuban pekerja berbasis agama, May Day rasanya menjadi akrab bagiku. Ya.. sebagai seorang buruh alias pekerja, tentunya harus turut serta memperingati Hari Buruh Sedunia yang faktanya menghasilkan beberapa hal yang berpihak pada kaum buruh. Apa saja itu? Mulai dari adanya Cuti-Cuti Khusus (misal cuti hamil), Pembatasan Jam Kerja, Upah Minimum, THR, hingga BPJS. Dahsyat bukan?

Tak dipungkiri memang, beberapa aksi May Day ada yang berujung bentrok antara para buruh dengan aparat keamanan. Menurut opini saya hal itu dikarenakan ulah beberapa oknum yang tidak mampu mengontrol emosinya. Namun 1 Mei tetaplah menjadi satu ajang para buruh untuk berkonsolidasi satu sama lain utamanya yang tergabung dalam serikat buruh atau pekerja. Meski belakangan ini mulai bergeser ke aksi-aksi sosial dan simpatik, bahkan mampu mengadakan dialog dengan pemangku kepentingan untuk menyuarakan masukan dan kritik yang sekiranya membangun. Win Win Solution? Harusnya.. Faktanya? Semua tentu punya jawaban masing-masing.. Kalau menurut saya sih belum, masih ada yang pengen menang di beberapa poin diskusi.

Nah.. kalau kami memperingatinya dengan beberapa kegiatan berbeda untuk pekerja Katolik wilayah keuskupan Bogor. Tahun 2014 diperingati di Serang dengan adanya Dialog dengan Bapa Uskup Mgr. Paskalis Bruno Syukur. Berikutnya di tahun 2015 masih dengan dialog bersama gembala tertinggi di keuskupan Bogor tersebut di Kota Wisata – Cibubur. Nah.. tahun 2016 ini sedikit berbeda, dengan mengadakan Futsal dan Badminton Ceria di Sport Hall Flamengo – Serang. Tujuannya adalah membangun komunikasi internal dengan para pekerja dan calon pekerja (OMK dan KMK) se-Paroki Kristus Raja Serang. Berikutnya adalah menciptakan pekerja yang sehat dan kuat. Selanjutnya? Tentunya agar tercipta konsolidasi internal dan external untuk menjadikan buruh semakin cerdas dalam bekerja. Menempa buruh yang memiliki kompetensi di bidangnya untuk menghadapi MEA yang sudah mulai terasa dampaknya dengan invasi pekerja asing.

poster may day ppkc

Pertanyaannya sekarang? Sepeduli apa kita sebagai pekerja terhadap pergerakan buruh dan adanya MEA? Jangan-jangan MEA saja kita tidak tahu apa kepanjangannya… Semoga menjadi renungan bersama..

Aku dan Pengusaha Kaos.. Ampuhnya SEDEKAH..

Siang ini berkenalan dengan pengusaha kaos yang tertarik dengan desain kaos ajakan Sholat yang saya posting di medsos. Beliau tak menyangka karena ternyata saya non muslim meski saya akui untuk gambarnya saya mengambil dari internet. Lebih kaget karena profesi saya sebenarnya lebih lekat ke dunia obat daripada dunia seni. Akan tetapi sesaat kemudian saya yang gantian terkaget-kaget dengan cerita perjalanan usaha beliau.. Kenapa?

kaos muslim 3

Baca selanjutnya…