Selamat Datang 2019

Selamat Tinggal 2018
Selamat Datang 2019

Resolusi tahun ini saya ingin KREATIF..

Keluarga
Tahun lalu diprotes isteri agar keluarga dijadikan yang utama. Oke deh bu Kapolda.. tahun ini saya janji lebih fokus pada keluarga. Terlebih anak kedua sebentar lagi lahir, harus lebih meluangkan waktu di sedikitnya waktu yang tersisa. Meski tujuan besarnya agar kedamaian kerukunan dan kebahagiaan hadir di tengah keluarga besar saya.

Rajin
Tahun lalu masih gagal euy.. kali ini harus lebih rajin lagi dan tidak menjadi seorang penunda. Hal yang baik dijadikan kebiasaan dan budaya.

Efisiensi
Makin banyak hal dan tanggung jawab yang diemban. Harus makin cerdas dalam bekerja dan menerapkan efisiensi dalam berbagai sisi. Termasuk dalam keluarga juga.. ojo boros boros..

Achievement
Ya, harus memperbaiki pencapaian tahun lalu ke tingkatan yang lebih baik. Karena di setiap kemarin adalah masa yang tak pernah diulang dan hanya akan jadi pengalaman, hari ini ada kesempatan, dan hari esok penuh harapan.

Tangguh
Tidak lagi mudah mengeluh.. harus tekun dan berdaya upaya dalam menyelesaikan semua tugas dan permasalahan. Mengeluh saya sadari hanya akan melahirkan berbagai alasan dan pengecualian yang tidak akan bisa mengembangkan pribadi saya.

Inovatif
Setiap hari harus mulai berfikir untuk mengembangkan diri dan lingkungan dimana saya berada, entah di keluarga, kerjaan, atau komunitas yang saya ikuti. Memilih menjadi waras daripada menjadi sinting yang selalu melakukan hal sama untuk hasil yang berbeda.

Fun
Tentu harus punya cara untuk menjalani semua aktivitas dan rutinitas dalam bingkai keceriaan dan penuh kegembiraan. Hati yang gembira adalah obat yang paling mujarab. Kenapa harus bersedih jika Tuhan sebenarnya selalu mempersiapkan yang terbaik untuk kita?

IMG-20181211-WA0063-01

Sudah tetapkan resolusi 2019 mu sahabat?

Kategori:PLUS plus

Lima Tipe Karyawan versi Kemacetan Jalan Tol

September 9, 2018 Tinggalkan komentar

Sahabat.. ada yang pernah kena macet di jalan tol? atau justru sering? Pasti menjemukan dan mengesalkan. Namun entah akhir-akhir ini bagi saya justru mengasyikkan karena ada yang saya pelajari dari situasi tersebut.

Kalau di jalan biasa mungkin kita bisa cari jalan alternatif memanfaatkan layanan map dari beberapa aplikasi di gadget kita, atau istilah kerennya jalan tikus. Tapi kalau di jalan tol? Yang ada hanya pilihan tetap di jalur atau berpindah jalur (pastikan tidak membahayakan diri sendiri atau pengendara lain ya..).

Dari sinilah saya belajar mengamati tipe pengendara saat menghadapi kemacetan jalan tol. Dan saya menganalogikannya sebagai tipe karyawan saat menjalani hari-hari di tempat kerja. Kok bisa? Ya.. dengan menganggap bahwa kemacetan itu adalah hambatan dalam pekerjaan sehingga ada beberapa tipe karyawan sebagai berikut :

1. Si Lincah bin Aktif
Pernah lihat ada pengendara yang langsung pindah jalur jika ada kemacetan? Tak hanya sekali, tetapi berkali-kali, ke kanan, ke kanan lagi, atau kadang balik ke jalurnya lagi. Pokoknya selagi ada yang kosong langsung pindah jalur. Karyawan pun ada yang lincah bergerak dalam menyelesaikan kendalanya, pakai cara A, B, C, bahkan ke A lagi jika memang dirasa cara tersebut adalah yang paling cepat. Pokoknya kendala teratasi meski harus diakui tidak semua akan menyukai caranya, apalagi jika pindah jalurnya tidak pakai lampu sein, pasti banyak yang akan membunyikan klakson.

2. Si Pengikut
Pengendara yang ini baru akan pindah jalur kalau mobil depannya mulai pindah. Tidak mau memulai duluan karena acuannya hanya kendaraan di depannya (ada temen bermacet ria). Ini juga ada di beberapa perusahaan, yaitu karyawan yang tanpa ide, hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh temannya.

3. Si Pengambil Risiko
Hampir sama dengan si Lincah, tapi pengendara ini memilih melewati bahu jalan tanpa memikirkan peraturan (hanya untuk kondisi darurat) dan keselamatan dirinya sendiri. Intinya cepat sampai tujuan meski risikonya ketangkap pak polisi kalau sedang apes atau bahkan menabrak kendaraan yang sedang parkir di bahu jalan. Ada karyawan yang mirip karakternya dengan pengendara ini lho.. yaitu mereka yang sering mengabaikan peraturan dan proses karena mementingkan hasil akhir. Hati-hati, biasanya mereka cenderung egois dan sering ceroboh dalam pekerjaannya.

4. Si Tukang Ngeluh
Ini jenis pengendara yang sering membunyikan klakson saat kemacetan. Apalagi jika melihat jalur di sampingnya lancar namun ketika dia berpindah malah jadi macet, pindah lagi eh macet lagi. Kalau di perusahaan, pengendara ini mirip dengan karyawan yang gampang mengeluh dengan pekerjaannya. Apalagi kalau sudah mencoba beberapa cara tetapi problem tidak bisa terselesaikan. Akibatnya sering pakai istilah ‘Why Always Me?’

5. Si Perhitungan
Nah.. kalau yang ini adalah pengendara yang tetap setia di jalurnya meski yang lain sudah berpindah tempat. Kanan terus broo.. ntar juga nyampe. Karyawan yang senada dengan pengendara ini adalah yang penuh perhitungan, selalu berhitung tanpa bertindak sehingga problem lama tidak selesai bahkan sampai dibantu teman kerjanya. Ibaratnya butuh polisi pengatur lalu lintas yang membantu mengurai kemacetan dan memprioritaskan jalur yang dilaluinya. Karena lama berhitungnya, hingga membuat neraca untung rugi, sebutan lain bisa disematkan untuk karyawan jenis ini yaitu si MALAS atau si PASIF.

Ya.. itulah 5 tipe karyawan jika dianalogikan dari perilaku pengendara saat menghadapi kemacetan jalan tol. Barangkali ada yang menemukan tipe lainnya?

Telu Limo

Mei 21, 2018 1 komentar

Kau mau apa, pasti kan kuberi
Kau minta apa, akan kuturuti
Walau harus aku terlelah dan letih
Ini demi kamu sayang..

Entah kenapa lagu dari Wali Band ini terasa menyentuh relung hatiku di pergantian hari. Ya, karena saat melihat wajah dua bidadariku terlelap aku sadar belum banyak yang bisa kuberikan untuk mereka. Semakin bertambah usia ini namun belum semua kebutuhan mereka tercukupi. Masih pontang panting.. masih compang camping.

Kadang terkikik geli namun di sisi lain tersayat pedih bila si kecil ditanya kenapa tidak ke suatu tempat dan menyahut karena papanya belum gajian. Ada pula suatu ketika batin terpukul ketika mantan pacar (baca : isteri) memangkas anggaran belanjanya habis-habisan. Dan mulai keluhan muncul dalam hati.. membenarkan makna prihatin yang tersemat dalam namaku “perih yo mung dibatin”..

Tidak munafik jika memang uang adalah salah satu tonggak utama dalam keluarga. Tidak semuanya bisa dibeli hanya dengan cinta dan kasih belaka. Ada kalanya berbenturan dengan realita yang membuatku hanya bisa selonjoran sambil garuk kepala. Diamput!

Sesekali mencoba berdamai dengan mengingat banyak orang yang tidak bergaji tetap. Di tempat lain ada yang penghasilannya cukup hanya untuk hari itu saja. Hari esok akan dicukupkan lagi oleh Tuhan katanya. Sudah tenang eh dibakar lagi dengan kutipan bahwa jika seseorang tidak bisa menjadi kaya maka itu adalah salah dirinya sendiri. Lha kampret kan..

Tapi usia 35 alias telung puluh limo, yang bisa disingkat telu limo, seolah menggiringku ke dalam kenyataan yang harus kujalani. TELU berarti TEkun LUru.. atau rajin mengais atawa giat bekerja. Selama ini aku sudah melakukannya atau belum? LIMO bermakna LIlo lan nriMO alias super duper ikhlas. Wis dilakoni durung?

Jawabannya ternyata belum semua. Kerja masih standar bahkan mungkin kurang. Ikhlas apalagi.. wong masih iri dan gumunan dengan orang lain yang lebih sukses. Jadi ya.. harus berubah!

Lha terus kenapa kok ditulis jadi coretan? Aib kok diumbar?

Ya.. hanya berteriak tanpa gaduh, menangis tanpa keluh, melalui coretan ini. Nyuwun dongane saja bagi para sahabat agar saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik di pertambahan usia kali ini. Matur nuwun..

FB_IMG_1526837651291

COC (Cemplon Oh Cemplon)

Dulu waktu kuliah, saya punya teman yang namanya Doni, namun sering dipanggil Cemplon. Tiba-tiba beberapa hari ini nama itu betah mengaduk-aduk pikiran saya. Namanya ya.. bukan Doni Cemplonnya, saya bukan jeruk makan jeruk. Ya.. Pak Cemplon pedagang keliling yang mengambil satu sudut pikiran saya. Sosok yang menurut saya inspiratif dan menyentak saya di setiap hembusan nafas..

Halah, kok bukan Marion Jola? Oh tentu tidak.. Karena sentakannya lain pemirsah. Pak Cemplon ini mengajarkan lagi kepada saya bagaimana untuk BERDAMAI dengan apa yang kita miliki sekarang dan melakukan pekerjaannya penuh GAIRAH. Ya.. PASSION, satu kata yang setiap mengawali hari kerja selalu saya dengungkan. Satu kata yang mudah diucapkan tetapi terkadang sulit untuk dilakukan. Gairah dalam bekerja tentunya, kalau gairah yang lain mah BSJ.. Buka Sithik Joss, gampang dipraktekkan.

Menjaga PASSION dalam rutinitas pekerjaan memang tidak gampang dan penuh perjuangan. Ada faktor eksternal seperti tekanan dari atasan, rekan, bahkan bawahan (kawus..), kenaikan gaji yang melambat seperti kereta masuk stasiun, ditikung teman saat mau naik pangkat atau bonus yang tidak turun seperti hujan di musim kemarau (kalau turun yo mung sak crit) yang membuat kita mudah loyo. Atau juga faktor internal seperti stamina yang tidak lagi prima, dengkul kopong seperti saya sehingga susah jelajah area produksi, atau mulai memunculkan mu s uh di beberapa sudut area kerja sehingga kita males bergerak atau berkomunikasi (salahmu dewe dul..). Semuanya berpadu dan kita simpulkan bahwa ya sudah aku segini aja yang diejawantahkan dengan kampanye terzolimi atau kempar kempor mengaku aku bahagia dengan keadaan sekarang (huex).

Beberapa dari contoh di atas pernah kualami dan membuat gairah bekerja menurun. Mulai geli geli basah (baca : gelisah) kalau sudah makan siang, kok tidak segera pulang, dan seterusnya. Memang, masih bisa diatasi karena belum kronis amat. Tapi sekarang aku punya jurus jitu untuk mengatasinya. Tinggal buka baju eh buka youtube terus ketik Pak Cemplon, dijamin sembuh. Beneran? Atau hanya guyonan seorang apoteker salah jurusan? Bener kok.. Buka aja dulu.. Udah kronis apa akut penurunan gairah kerja sampean ?

Haiyah.. Kupreet..

Isinya kok cuma wong bakulan ngekak-ngekek ra karuan? Hehehe.. Sabar, itulah obatnya. Buka video lainnya dan cari apakah Pak Cemplon ini pernah lesu dan kurang gairah? Kalau ada tolong dikoreksi ya.. Menurut saya si bakul satu ini mempunyai lima bukti bahwa beliau memiliki passion yang kuat dalam menjalankan profesinya. Pertama, candaannya bukan hafalan dan punya banyak variasi guyonan tanpa menyakiti perasaan orang bahkan justru membuat nyaman lingkungan sekitarnya. Kedua, kreatif dalam menjalankan prosesi penawaran barang ke konsumen, bahkan beberapa kali diselingi promosi air mineral yang gak ada manis-manisnya (pilih sing sijine to pak…). Ketiga, mampu membuat semua perhatian tertuju padanya dan fokus (ya iya wong lagi nunggu harga termurah) namun tetap mau melayani satu demi satu pembelinya. Keempat, tetap peka dan menempatkan konsumen sebagai raja, semisal berhenti untuk ngiket payung agar gak roboh dan menimpa pembeli di sekitarnya, meski sedang asyik-asyiknya bekerja. Kelima, ada satu sesi dimana beliau bersedekah meski saya tidak tahu berapa untungnya si bakul satu ini.. (mugi lancar rejekimu pak)..

Lha terus apa manfaat kelima bukti itu buat saya? Puji Tuhan ada.. Apa lagi jika ditautkan dengan coretan saya tentang Pemimpin 5M. Yang pertama selaras dengan MENGAYOMI dimana pemimpin harus mampu membuat nyaman sub ordinatnya. Poin kedua senada dengan poin MENGARAHKAN sedangkan yang ketiga sama dengan MELAYANI. Keempat mencerminkan bagaimana untuk mau MENDENGARKAN dan yang terakhir sesuai dengan MEMBAGIKAN. Loh pemimpin 5M ki opo? Golekono dewe lah.. Yang jelas matur nuwun pak Cemplon.. sudah membuat saya selalu bergairah dan bersemangat.. termasuk menulis coretan sederhana ini. Salam sehat dan sukses selalu..

Catatan Akhir Tahun 2017

Tahun 2017 sudah terlewat.. dan baru nyadar bahwa blog ini paling aktifnya kalau pergantian tahun atau si empunya berulang tahun. Hidup segan mati tak mau hahhaa.. Tapi sudahlah tak mengapa karena menulis itu berteriak tanpa gaduh dan mengeluh tanpa suara uuhhh.. Yang penting sekedar membersihkan sarang laba-laba agar gak kena temuan major kalau audit..

Ada apa ya? Sepanjang tahun kemarin.. seteguk bir dingin mulai menggerakkan jemariku..

20170215_144414-02

Baca selengkapnya…

Akoe dan Talenta

November 18, 2017 Tinggalkan komentar

Hari ini ke gereja sore.. homili Romo tentang bagaimana mengembangkan talenta yang ada di dalam diri kita. Yah.. setiap orang memang dikaruniai (baca : diberi titipan) oleh Tuhan dengan talenta atau bakat alias kemampuan yang berbeda-beda. Talenta ini kemudian harus dikembangkan karena Dia akan mengambilnya jika seseorang hanya memendamnya. What?!?

 

Sejenak kusempatkan diri merenung menjelang tidur tentang hal ini. Sambil menghela nafas aku tersenyum.. dan mengangguk setuju dengan paragraf yang kutulis sebelumnya. Geli.. karena kadang masih iri dengan teman-teman, saudara, bahkan artis yang multitalenta dan menangguk rejeki karenanya. Ya.. geli, karena kenapa harus iri? Sebab semua orang punya talenta kok.. tinggal mau atau nggak mengembangkannya. Dan aku? Sepertinya termasuk mereka yang diambil talentanya oleh Tuhan karena tidak mengembangkannya. Mau bukti?

Baca selengkapnya…

Mau Dibawa Kemana Negeri Ini?

Menjelang istirahat hari ini, mencoba untuk sedikit berfikir mengenai apa yang terjadi di sekitarku saat ini.. Semuanya bermula dari hari libur nasional yang ditetapkan pemerintah (melalui Pak Jokowi) untuk memperingati hari lahir Pancasila. Satu hal yang baru pertama kali dilakukan selama Indonesia merdeka.. (mohon koreksi jika salah). Ada apa ini? Apakah karena republik ini dalam kondisi genting?

Melalui siaran radio swasta yang kebetulan mewawancarai satu tokoh penting negeri ini, saya mendapati bahwa tatanan bangsa ini mulai bergeser. Dan.. sedikit banyak ada beberapa gambaran yang membuat saya setuju untuk membuat spesial hari lahirnya ideologi dan dasar negara bangsa ini. Kenapa? Karena sudah GAK JELAS!

Generasi Nunduk..

Ya, saat ini ada fenomena Generasi Nunduk di negeri ini. Generasi yang kalau ngumpul malah asyik mainan gadget tinimbang diskusi dan bedah ide bagaimana untuk membangun bangsa ini. Raga berdekatan tapi fokusnya saling berjauhan. Satu maen game, yang lain asyik nonton konten porno.. ladalahhh.
Note : saya juga..

Apatis..
Kasar memang.. tapi itulah kenyataannya. Di antara kita mulai tidak peduli dengan keadaan sekitar. Bagaimana kita mendiamkan pengguna jalan yang melanggar marka jalan, menerobos lampu merah, atau melawan arus bahkan melewati jalur yang bukan peruntukannya. Kita diam.. tak menegur, tidak protes, tak pula mengingatkan atau mencegah, seolah hal itu biasa dan menjadi tugas polisi atau dishub untuk menertibkan.. malah ikut-ikutan melakukan pelanggaran. Ahaaay..
Note : kali ini saya juga satu di antaranya

Karbitan
Banyak ajang adu bakat untuk mencetak selebritis dadakan, meski beberapa di antaranya ada yang memang melalui perjalanan panjang dan berliku untuk mencapainya. Sekejap ada sosok yang dipuja karena apa yang dilakukan, melalui jogetan, tulisan, suara, atau hal lainnya. Tapi seketika pula dihujat, dikucilkan, dicap plagiat, bahkan dianiaya.. meski seharusnya publik lebih bijak untuk membiarkan yang instan ini menjadi konstan..
Note : yang ini saya diam saja.. (pura-pura bijak)

JEmpolmu Harimaumu..
Dulu mulutmu harimaumu, sekarang berubah jempolmu harimaumu. Melalui media sosial kita dengan mudahnya mencela, menista, memperolok, bahkan melecehkan orang lain. Nanti kalau sudah dicari yang berwajib lantas menghilang, pura-pura amnesia, pura-pura dalam perahu, dan seterusnya. Garang lewat jempol tapi gamang saat mau diborgol.. Seperti kasus persekusi yang viral belakangan ini. Bagi saya yang jadi korban salah karena kurang memperhitungkan akibat dari tarian jempolnya. Pihak lawannya pun salah juga karena memilih intimidasi dan kekerasan dalam menanggapinya. Tinggal pak polisi yang kelimpungan menyelesaikannya. Tuh kan.. malah bikin repot gara-gara jempol kita..
Note : saya nggak ikut2an.. ingat isteri dan anak, kalau diborgol siapa yang akan menafkahi mereka?

LAtah..
Ya, kita sering latah melihat kondisi sekitar. Ada yang begini ikut begini, ada yang begitu ikut juga begitu. Seolah tidak bisa jadi diri sendiri dan cenderung mengekor orang lain yang diidolakan. Bahkan latah meniru gaya hidup artis beken meski harus gali lobang tutup usia eh tutup lobang..
Note : saya No, masak iya harus pakai rok karena mengidolakan tokoh wanita..

Selfie..
Mulut mencong, sedikit nunduk, mata mengerling ke arah lain, dan lain sebagainya.. ini adalah salah satu fenomena yang menguasai media sosial generasi saat ini. Semuanya hobby swafoto yang terkadang menjurus ke narsisisme alias mengagumi diri sendiri. Iya aja untuk yang ganteng cantik, mau gaya apa tetep pantes (meski belum nemu yang selfie saat berjuang di toilet). Yang jelek? Mau digimanain ya harus terima nasib laah..
Note : ini… Guwe banget!!

Ya, itulah GAK JELAS yang saya maksud.. tinggal kita putuskan, mau ikut gak jelas atau mau berubah ke arah yang lebih baik? Karena pilihan kita akan menjadi jawaban judul tulisan ini.. matur nuwun