Arsip

Archive for the ‘Pelajaran Hidoepku’ Category

Pelajaran dari Shelo

Pa-pa.. Ma-ma..
Suara si kecil Shelo di tengah langkah-langkah kecilnya yang tertatih saat belajar berjalan. Seolah memberitahu kami bahwa dia MAU BELAJAR! Meski terkadang terjatuh, menangis, atau kemudian memilih merangkak. Namun tak berapa lama lagi dia kembali berjalan, di tengah mainannya yang berserakan. Menghindari ‘rintangan’ yang dia buat agar kakinya tidak terantuk berulangkali.

Sahabat..
Si kecil ini mengingatkan kami berdua selaku orang tuanya tentang banyak hal hanya dari latihan berjalannya. Pertama bagaimana dia mengingat dan memanggil orang tuanya saat kesulitan. Ini seolah mengajak kami untuk mengingat Tuhan dalam segala keadaan. Saat susah seperti ini atau nanti jikalau sudah berhasil.

Kedua adalah kemauan dan kegigihannya untuk mau belajar. Tentu saja ini pukulan telak buat kami utamanya aku yang kadang pasrah dengan keadaan dan berhenti pada satu titik buntu karena sempitnya pemikiran. Dan ketiga yang paling menarik..

Shelo berani melewati rintangannya dan berusaha untuk tidak terantuk kakinya. Astaga! Bukankah keadaan sekarang ini adalah pilihan dan konsekuensi atas keputusanku sendiri? Kenapa harus takut dan ngeri. Aku pasti bisa.. Pasti bisa.

Terima kasih anakku.. Kita tumbuh bersama menjadi anak dan orang tua yang semakin baik ke depannya.

IMG_20160622_213605

Iklan

Segelas Air Setelah Makan

Dulu pernah saya tuliskan tentang secangkir kopi sisa yang kadang mengingatkan saya akan pergumulan hidup. Sekarang coba saya coretkan lagi tentang hal yang hampir sama meski bedanya ini terjadi saat saya sudah menikah. Ya.. hanya kebiasaan kecil yang saya maknai dengan pemahaman saya sendiri tanpa dikotori oleh maraknya berita konyol yang menghiasi linimasa berbagai media massa.

Jadi begini ceritanya.. Setiap kali makan bersama isteri tercinta, kami selalu berbagi tugas bilamana saya tidak malas dengan berpura-pura mengasuh anak (jangan ditiru). Kalau tidak malas ya bisa kebagian jatah merapikan area makan (lesehan di ruang tamu), mengembalikan perabot makan, atau mencuci piring-piring kotor. Namun ajaibnya dan baru saya sadari dua hari belakangan ini, selalu ada segelas air putih yang disiapkan isteri meski saat acara makan pun sudah minum dari gelas yang sama.

Mau bertanya apa arti dan maknanya sama nyonya rumah, pastinya jawabannya hanya senyum dan cengar-cengir belaka. Maka baiklah saya merenungkan dan membuat maknanya sendiri (biar kelihatan dewasa hahaha).

Segelas air sesudah makan sebenarnya mengandung dua makna mendalam bagi saya. Pertama, adalah simbol bahwa meskipun sudah berkecukupan, maka kita harus menyiapkan tabungan dalam kehidupan kita. Detik berikutnya tentu kita tidak bisa tebak, mana tahu setelah makan kita kehausan karena cuci mencuci atau sapu menyapu? Demikian juga kita tidak bisa menebak apakah kita akan sehat selamanya atau kondisi keuangan kita akan stabil selalu. Tidak hanya tabungan materi, tabungan amal baik, iman, cinta, dan pengharapan tentunya juga utama.  Jadi makna pertama segelas air setelah makan adalah SELALU BERSIAP untuk setiap kejadian dalam hidup kita.

Makna kedua adalah perlambang KESETIAAN. Isteri saya menyiapkan segelas air tersebut agar saya tidak cari-cari air lagi bilamana haus. Sudah disediakan.. dan terus menerus disediakan. Adakalanya dalam hidup kita sering tidak setia. Tidak hanya pada pasangan, tetapi juga pada hal-hal lainnya. Dalam pekerjaan, pelayananan, bahkan dalam pemikiran kita.

Jadi segelas air setelah makan dari isteri saya bermakna kesiapan untuk setia, pada siapa? Pada-Nya yang paling utama, yang lain baru berikutnya. Sekian

Belajar dari Shelomitha.. Impossible become I’m Possible

Februari 13, 2016 Tinggalkan komentar

Hari tidak begitu bersahabat kemarin.. Kantong cekak dan cuaca gerimis membuat seisi penghuni FR3 termasuk si Centil tidak bisa kemana-mana di masa prapaskah ini. Alhasil hanya berpindah ruangan demi ruangan serta tentunya mengawasi si ratu kecil kami merajalela. Ya.. si cantik yang kian bertambah pintar ternyata mampu membuatku belajar hal yang luar biasa. Kok bisa?

Awalnya biasa saja, hanya sekedar bermain bertiga di ruang tamu. Sebagaimana kesukaan si kecil, Ia akan berada di depan pintu dan memandang ke arah taman depan. Mungkin mau bilang bahwa rumput FR3 lebih hijau dari rumput tetangga hehehe.. Hingga kami menyadari bahwa si kecil sudah bisa berdiri sendiri di teralis pintu serta mencoba bergerak ke kiri dan kanan. Waw.. amazing.. (ups, gini doang ditulis di blog??).

Tentu tidak.. Mamanya Shelo bereksperimen dengan menempatkan kaos kaki puteri kami di sela teralis dan jaring kawat sehingga terjepit rapat. Turut pula ditempatkan topi kupluknya dan secara tak sengaja tingginya tidak sama. Tanpa dikomando, Shelo berdiri di terali tersebut dan mengambil satu kaos kaki yang bisa diraihnya. Hap! satu didapat dengan tangan kirinya yang mungil. Kami mengawasi dan berjaga di belakangnya agar tidak terjerembab karena memang belum begitu baik keseimbangan anak usia 8 bulan ini.

Kaos kaki dan topi kupluk yang menjadi obyek berikutnya terjepit lebih tinggi sehingga meski berjinjit pun kami yakin anak cantik ini tidak mampu meraihnya. Kami amati dia sejenak terdiam, mengamati satu kaos kaki yang belum terambil. Dan tiba-tiba kaos kaki itu bergerak turun. What?? Ini semacam sulap kang Demian kah? Kami amati lagi dengan seksama.. ternyata Shelo menepukkan jemari kirinya ke arah jaring kawat berulang-ulang sehingga mengendorkan jepitan. Akibatnya kaos kaki menjadi turun dan dengan sigap Shelo menggapainya dengan tangan kanannya.

20160212_145243

Ya Tuhan.. Shelo mengajarkan pada kami bahwa sesuatu yang tidak mungkin bisa diubah menjadi mungkin apabila kita mau melakukan sesuatu hal dengan berpikir sejenak dan melakukan tindakan nyata. Luar biasa.. Tuhan menegur kami yang masih acapkali mengeluh dengan hidup dan berbagai kesulitan yang kami hadapi melalui buah hati kami. Kami bisa.. dan pasti bisa.. hanya perlu berpikir sejenak, mohon petunjukNya dan lakukan.. Sebab tiada yang tak mungkin terselesaikan karena Dia memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan umatNya.

Selamat dinihari sahabat.. sudahkah belajar dari keluarga?

Aku mau Waras tidak Sinting lagi.. Bagaimana dengan Anda?

November 30, 2014 Tinggalkan komentar

Sudah lama sekali ingin menulis coretan ini.. Namun sepertinya baru kali ini nemu momen yang pas.. maklum penulis eh pencoret kambuhan.. Kadang kambuh.. tapi sering banget nggak-nya. Kenapa sekarang? Ya karena akhir bulan.. tepat untuk memulai bulan baru. Yups.. penghujung November.. setelah diskusi serius dengan isteri mengenai ART yang masih minus di bulan ini hehehe..

Waras dan sinting adalah dua istilah yang kerap kudengar dan kucermati setiap sesi training yang dibawakan di pabrikku. Seorang trainer terbaik kami selalu mengungkapkan bahwa hanya ada dua jenis manusia di muka bumi yaitu yang SINTING dan WARAS.. Ups! Kirain wanita dan pria.. (meski ada yang di antaranya). Dan hebatnya lagi, beliau selalu bertanya.. “Anda SINTING atau WARAS?” Kadang keki juga ditanya seperti itu, coba deh kalau telinga Anda mendengarnya.. pasti akan teriak kenceng WARAAAAS bukan? Tunggu dulu soooob.. Coba telaah maksudnya di bawah ini..

Manusia SINTING adalah mereka yang menginginkan hasil berbeda dengan cara yang sama sedangkan mereka yang WARAS adalah melakukan hal yang berbeda dari sebelumnya untuk memperoleh hasil yang berbeda pula..

Nah.. hayoo.. MIKIR kan? (kayak Cak Lontong..). Hasil berbeda tentu bisa jadi yang lebih baik, lebih banyak, lebih bagus, dan lebih lainnya ATAU justru sebaliknya.. Meski tentu pengennya hasil berbeda yang dimaksud adalah yang memiliki nilai plus dari sebelumnya. Masak iya ada yang mau lebih bodoh, lebih ceroboh, lebih miskin?

Bagaimana dengan aku? Nah.. karena buruh pabrik, maka aku coba akan uraikan dalam lingkungan pabrik. Untuk rekan-rekan yang mau berefleksi maka silakan kondisinya diganti dengan lingkungan masing-masing.. di instansi pemerintah, di pasar, atau dimana saja.

Bagi buruh sepertiku, kadang yang terpikir di benak adalah bagaimana bekerja lebih baik, mendapatkan pendapatan lebih banyak, posisi lebih tinggi, dan karir yang lebih cemerlang. Ternyata selama ini aku masih SINTING pemirsa.. Sebab masih mengandalkan cara-cara yang sama untuk mendapatkan hasil produksi yang maksimal, komunikasi yang efektif, gaji yang lebih banyak, dan lain sejenisnya. Kerja ya masih masuk mepet jam masuk, jarang blusukan ke line, delegasi yang tidak jelas, kontrol yang kurang ketat, dan seterusnya.

Bagaimana untuk menjadi WARAS? Nah.. mulai Desember aku harus masuk kerja lebih awal, koordinasi dan komunikasi lebih tepat guna dan konsisten, memimpin dengan baik, delegasi yang cermat dan terarah, rajin blusukan dan jemput bola, serta tetap haus ilmu dan tidak puas diri. BERHASIL? Itu nanti.. yang penting lakukan dulu. Jika gaji tidak naik? Berarti harus cari pendapatan di luar pabrik semacam usaha sampingan asal jangan sampai KORUPSI. Apalagi di usiaku harus mulai melirik dunia wiraswasta karena bekerja terus di pabrik tetap bukan pilihan utama dan ada batasnya (baca : pensiun). Posisi tidak naik, karir tidak cemerlang? Woooh.. mungkin bukan di pabrik ini, jadi ya harus PINDAH KERJA  apabila sudah diupayakan dengan usaha yang maksimal (dan jujur tentunya).

Itu yang akan saya lakukan untuk menjadi WARAS.. Tolong ingatkan kalau masih SINTING lagi. Bagaimana dengan Anda? Yang sudah WARAS jangan jadi SINTING setelah baca coretan ini ya..

 

WARAS : Tak ada alasan untuk kehilangan komunikasi karena baterai habis.. ojo cengeng..

WARAS : Tak ada alasan untuk kehilangan komunikasi karena baterai habis.. ojo cengeng..

Menikmati Hidup Baru..

Maret 31, 2014 2 komentar

Pagi ini bangun lebih pagi meski kalender berwarna merah. Ya, hari ini rencananya akan kerja bakti di gereja jelang perayaan paskah bersama umat lainnya. Ya.. semenjak resmi menggawangi PPKC (Paguyuban Pekerja Katolik Cikande) bersama beberapa pekerja lainnya, aku juga mencoba hidup menggereja dan tidak hanya melulu mencari nafkah saja. Beragam kesibukan baru terkait pelayanan dan liturgi menghiasi jam demi jam hidupku selepas jam kerja pabrik. Mulai dari latihan koor, doa rutin, pertemuan APP, tugas parkir gereja, dan yang lainnya.. termasuk kerja bakti pagi ini.

Lantas apa istimewanya? Tokh umat lainnya juga mempunyai kesibukan yang sama, lebih padat dan dahsyat malahan.. Baca selanjutnya…

The Doctor Is Back! Saya Juga Ah..

Hari Minggu kali ini di pabrik.. Sepertinya masih cinta pabrik saja diriku. Setelah Sabtu sore kemarin mereguk kemenangan bersama team bola pabrik dalam perempat final turnamen antar pabrik se-kawasan Pancatama Cikande Serang. Lanjut melihat kemenangan Valentino Rossi di Moto GP Assen Belanda setelah sekian lama tidak pernah merasakan podium tertinggi di gelaran balap motor tersebut.

Ya.. kemenangan Vale atau The Doctor seperti menginspirasiku. Bagaimana tidak, di tengah kepungan pembalap muda dan kemampuan teknis team kompetitor yang merata, Vale bisa mencicipi lagi sebuah kemenangan yang menjadi incaran anak-anak muda generasi sesudahnya. Satu pengalaman berharga dimana The Doctor harus merubah gaya membalapnya menyesuaikan trend pesaingnya. Walau sulit tetapi dia tetap mencoba beradaptasi. Jika awalnya dia akan menunggu beberapa lap untuk pengkondisian pacuan dengan kondisi sirkuit, kemarin dia melakukan “gas poool” dari awal.

Aku bukan pengamat sebuah balapan yang baik, hanya satu sisi saja yang ingin kubahas dimana Vale MAU BERUBAH demi sebuah kemenangan. Ini seolah mengingatkanku akan hasil terakhir psikotest-ku dimana aku masih belum cukup percaya diri dalam pengambilan keputusan. Ya! Aku juga harus bisa BERUBAH seperti Vale.. lebih percaya diri, lebih cepat dan tepat saat menjadi decision maker, dan bisa menjadi yang terdepan seperti slogan merk motor tunggangan Vale. Semoga!!

Be a Mr. Clock…

Sebentar lagi akan terdengar raungan sirine  tanda jam makan malam untuk shift 2 di pabrikku. Dan pantat teposku pun masih betah bertahan di kursi ruang kerja padahal sudah ada partner yang siap ‘mendepakku’ sebab waktuku sudah habis. Giliran dia yang jaga karena aku shift pagi.. Sebentar.. waktu habis? Owh.. ya.. aku ingat semalam saat terbangun sebentar karena alarm di HP (sisa setting alarm untuk pertandingan Chelsea vs Benfica). Mata kriyap kriyip.. tetapi melihat HaPe dan jam weker kecil malah ingat dengan MR. CLOCK..

Artis? Atlet? Politikus? Siapa si Mr. Clock? Anak farmasi di kampusku Sanata Dharma angkatan 2000 pasti tahu tentang beliau. Kalau lupa ya aku ingetin.. Namanya Mas Suryono (kalau salah koreksi ya..), dulu pacaran ma mbak Novi kalau gak keliru, punya usaha rental DVD-VCD (aku pelanggan setia termasuk saat heboh kasus Nanda-Ahmed dari Bandung ituh..). Tapi yang jelas beliau adalah mentor saat TITRASI Noceng (ospek fakultasku)..

Kenapa jadi Mr. Clock? Mukanya kayak jam dinding? Baca selanjutnya…