Arsip

Posts Tagged ‘Lampung’

Balada Buruh dan MEA..

Januari 24, 2015 1 komentar

Masih kuingat seminggu yang lalu.. ketika undangan lokakarya dari Forum Pendamping Buruh Nasional menggelitikku untuk menyatroni Wisma Samadi di Klender. Tentu saja aku nggak sendiri, kami berempat mewakili Paguyuban Pekerja Katolik Cikande. Aku, isteriku, dan Suster Anas.. loh.. satunya siapa? Aaah.. tentunya si debay di janin isteriku. Hemh.. semoga tambah cerdas kamu ya naaak.. masih dikandung badan sudah diajak belajar tentang masalah orang dewasa. Pendek kata di tengah gerimis hujan, kami berempat mendarat juga dari Blue Bird Air ke pelataran salah satu rumah retret di sudut ibukota negara ini. Brrrrr… adem tenan.. namun langsung terbayarkan dengan keasrian Wisma Samadi dan kerennya kamar untuk menginapnya.. standar hotel bingits..

salah satu sudut Wisma Samadi Klender

salah satu sudut Wisma Samadi Klender

Lokakarya kali ini mengangkat tema ”Menyiapkan Buruh Menghadapi Pasar Bebas Asia Dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)”. Pesertanya lumayan banyak mulai dari Palembang, Lampung, Bogor, Bekasi, Tangerang, Jakarta, Serang, hingga Banten. Kami sebagai peserta berasal dari beragam perkumpulan, mulai dari serikat buruh, aliansi serikat buruh, atau paguyuban pekerja keagamaan. Rasanya diriku mengecil sampai seukuran semut jika berhadapan dengan mereka-mereka yang sudah malang melintang dalam aktivitas perburuhan. Ups.. karena keyboard sudah menunggu, biarlah ku membesar lagi ya.. Baca selanjutnya…

Iklan

Akoe dan Pak Bu Bos.. Belajar Membangun dan Merawat Jembatan..

November 29, 2013 Tinggalkan komentar

Sabtu Minggu kembali tiba… tapi seperti biasa Jumat petang masih nongkrong di pabrik tercinta. Aku teringat akan pengalaman weekend beberapa minggu lalu.. tatkala kembali harus ku takjub untuk kesekian kalinya terhadap Pak dan Bu Bos. Masih ingat siapa mereka? Ya.. kedua guru SD pujaanku.. Kali ini aku belajar bagaimana untuk membangun dan merawat jembatan..

Apa?? Jembatan?? Pakai kayu? Pakai Beton? Pakai Baja? BUKAAAAAN.. Tapi pakai kasih bin cinta..

Hemh.. bingung ya? begini ceritanya.. Suatu sore di awal November datang satu SMS dari Bu Bos tersayang yang mengabariku akan seseorang di masa laluku yang sedang menderita sakit. Om Jamari.. atau O’ Ai demikian kupanggil beliau saat ku kecil.  Om Jamari dulu adalah pemuda yang tinggal bersama bapak ibu di satu sudut desa kecil Srikaton (yang sekarang sudah menjadi hutan lindung) di propinsi Lampung, tanah kelahiranku. Pria gagah yang mirip dengan aktor Herman Felani itu sekarang terbaring tidak berdaya karena Parkinson yang dideritanya. Bu Bos mengajakku untuk meluangkan waktu menjenguknya di daerah Gedung Aji yang kira-kira 6 jam perjalanan dari rumahku di Lampung. Aku sontak mengiyakan dan mengatur jadwal agar bisa FREE di weekend, meski akhirnya tetap juga curi-curi waktu urus kerjaan saat hari “H”, dan bersama bapak ibu menyambangi O’ Ai yang dulu dengan telaten ikut mengasuhku.

Akhirnya di pertengahan November aku pulang ke Lampung, menjelang pagi mendarat di rumah, lantas beristirahat sejenak dan setelah Pak dan Bu Bos pulang dari kampus (baca : SD), kami pun meluncur ke TKP. Cuaca cerah kala itu sehingga jalan berliku dan sempit pun tidak terasa hingga mulai memasuki daerah Gedung Aji Baru dimana jalanan mulai jueleeeek dan bergelombang dahsyat. Daerah yang dikenal dengan daerah transmigrasi, dimana sebenarnya Bapak dulu mendapat satu jatah, namun karena Ibu menolak maka lantas dijual kepada orang lain.

hemh.. ini bagian awal.. selanjutnya lebih parah..

hemh.. ini bagian awal.. selanjutnya lebih parah..

Setelah bertanya kanan kiri.. sampailah kami di rumah O’ Ai.. ada sosok pemuda gagah yang menyambut, itu Heri anak sulungnya yang putus sekolah karena mengurus ayahnya yang tergolek tak berdaya di ruang tengah. Ada pula Bulik Minem isteri O’ Ai yang menyambut kami dengan kaget sukacita sebab sebenarnya Desember kami baru akan mengunjungi keluarga ini. Anak bungsu mereka tidak di rumah karena sedang menempuh pendidikan lanjutan pertama di Metro, satu daerah di Lampung juga. Baca selanjutnya…

#5.. Ngintilan Lan Klayu..

Barangkali ada yang mengerenyitkan kening saat membaca judul coretan kali ini. Yap.. dalam bahasa Indonesianya berarti apa ya? #garuk-garuk.. Pokoknya suka ikut bepergian dan mengintili eh mengekor. Itulah aku dulu.. sekarang sih kadang-kadang meski lebih sering dikintili dan diklayoni hahaha..

Tahun 90-an di desaku banyak sekali pemuda-pemudi yang merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Tak terkecuali dengan Om dan Bulik yang notabene adik-adik kandung Ibuku.. Ada si Nyah Ipit, Wek Wung, Om Bandot, dan Om Plenton.. Hemh, dan jaman dulu rasanya merantau itu sangat jauuuh karena komunikasi hanya via surat pos. Ketemu pun hanya beberapa kali dalam setahun dan sungguh berbeda dengan sekarang dimana bisa dipotong dengan perjalanan udara ataupun video call untuk tahu kabar dan kondisi saudara saat berjauhan. Minimal ya SMS, BBM, atau sekedar misscall biar ditelepon balik.. hahaha..

Ada saat-saat tertentu bagi empat perantau di atas untuk pulang ke rumah Mbah Kung dan Uti. Selain Natalan, Lebaran, Tahun Baru, ada juga hari-hari seperti ulang tahun desa dimana para perantau seolah punya janji untuk reuni dengan teman-temannya baik sesama perantau atau yang stay at village. Hemh.. rasanya kebiasaan itu sudah mulai memudar seiring modernisasi jaman dan mungkin daya jual dan pesona “ulang tahun desa” yang mungkin kalah pamor dengan gemerlapnya kota. Aku masih ingat bagaimana ulang tahun tetangga desa yaitu Sri Bhawono benar-benar menjadi agenda rutin para perantau, minimal jajanin bakso dan martabak buat saudara-saudarinya di rumah lah..

Aku lupa.. ada satu lagi yaitu liburan sekolah, dimana salah satu perantau pasti ada yang pulang. Kenapa? Karena ada satu anak kecil yang selalu menanti penuh harap di depan rumah (padahal gak ada kabar mau pulang via sms atau kentongan sekalipun). Atau si anak kecil itu tadi tiba-tiba terbangun pagi karena mendengar ada derit mobil berhenti di jalan besar yang jaraknya 100an meter dari ranjangnya. Meski gerimis atau dingin bukan kepalang, dia akan berlari kecil sampai depan rumahnya atau tak jarang ke arah jalan besar dan sering pula melangkah pulang dengan gontai bila ternyata hanya truk yang berhenti atau memang mobil penumpang tetapi bukan sosok yang diharapkannya. Ah.. dia benar-benar sok paham bahwa empat perantau pujaannya itu selalu datang pagi-pagi buta. Kadang terisak dia di kamar atau menghambur ke pelukan bapak ibunya sambil berkata masygul..

“Tak kiro Om opo Bulik kundur..”

(sumpah nangis juga sekarang diriku..) Baca selanjutnya…