Arsip

Posts Tagged ‘kopi’

Pesan Untuk Kangmas Ranieri

Februari 16, 2016 2 komentar

Halo sahabat, apa kabar? Sebentar.. saya seruput dulu kopi buatan isteri saya agar tambah lancar ngetiknya. Dijamin aman tanpa sianida meski kalau ada berarti belahan hati saya sudah lelah menghadapi suaminya hahaha.. Mumpung tahun baru monyet api dimulai, siapa tahu saya lebih rajin mengisi blog sederhana ini. Srupuuuut..

Bagi sahabat penggemar sepakbola, pastinya sedang mantengin liga Inggris yang demikian ketat dan penuh kejutan. Apalagi kalau bukan kiprah Leicester City yang memuncaki klasemen sementara setelah mengandaskan tim kaya bertabur bintang Manchester City dengan skor 3-1 . Saya sebenarnya tidak peduli dengan kejutan itu karena bola itu bundar seperti halnya topi saya. Nasib sebuah tim sepakbola ada kalanya di atas juga kadang di bawah tergantung jadwal dari Gusti Allah. Tapi saya tergelitik dengan ucapan pembesut tim kejutan ini setelah berhasil nangkring di urutan satu liga. Beliau, Kangmas Claudio Ranieri, berujar bahwa timnya harus berfikir untuk juara. Weladalah.. beberapa bulan sebelumnya beliau bilang ke The Mirror bahwa tim asuhannya incar target lain bukan untuk memenangkan Liga Primer Inggris. Sampeyan ngincer opo Kang, isuk dele sore tempe? Ngincer mbak “J” buat ngopi bareng? Srupuuuut… Baca selanjutnya…

Iklan

Secangkir kopi dan sebatang rokok bersama Bapakku..

September 23, 2009 2 komentar

Pak..
Secangkir kopi sebatang rokok..
Kita mulai obrolan ini..
Aku tahu ku sudah dewasa..

Saatnya ku melangkah lebih lanjut..    Tuk siapkan bahtera rumah tangga..

Pak..
Secangkir kopi dan sebatang rokok mulai kita nikmati..
Keningmu berkerut.. Dan dengan helaan nafas panjang.. Kau mulai urai tanyaku..
Kau awali dengan kisahmu di masa lalu. Ah.. Apa yang ku alami tak ada seujung kuku dari kisah hidupmu.. Engkau begitu kuat dan tangguh.. Dalam kekangan waktu dan sembilu..
Pak.. Aku kagum dan bangga padamu.

Secangkir kopi dan setengah batang rokok tlah kita nikmati..
Kau pegang pundakku dan tatap mataku.. Seolah berkata ‘nak, kamu bisa lebih dariku.. Tergantung tekad dan usahamu’.. Lalu kau menepuk pipiku tiga kali.. Seolah aku tlah mengucap satu janji..

Baca selanjutnya…