Arsip

Archive for the ‘Mengenang Masa Silam’ Category

Be a Mr. Clock…

Sebentar lagi akan terdengar raungan sirine  tanda jam makan malam untuk shift 2 di pabrikku. Dan pantat teposku pun masih betah bertahan di kursi ruang kerja padahal sudah ada partner yang siap ‘mendepakku’ sebab waktuku sudah habis. Giliran dia yang jaga karena aku shift pagi.. Sebentar.. waktu habis? Owh.. ya.. aku ingat semalam saat terbangun sebentar karena alarm di HP (sisa setting alarm untuk pertandingan Chelsea vs Benfica). Mata kriyap kriyip.. tetapi melihat HaPe dan jam weker kecil malah ingat dengan MR. CLOCK..

Artis? Atlet? Politikus? Siapa si Mr. Clock? Anak farmasi di kampusku Sanata Dharma angkatan 2000 pasti tahu tentang beliau. Kalau lupa ya aku ingetin.. Namanya Mas Suryono (kalau salah koreksi ya..), dulu pacaran ma mbak Novi kalau gak keliru, punya usaha rental DVD-VCD (aku pelanggan setia termasuk saat heboh kasus Nanda-Ahmed dari Bandung ituh..). Tapi yang jelas beliau adalah mentor saat TITRASI Noceng (ospek fakultasku)..

Kenapa jadi Mr. Clock? Mukanya kayak jam dinding? Baca selanjutnya…

Kubenci Ibuku.. Setiap Kali Ku Tersenyum..

Maret 10, 2013 2 komentar

Minggu ini sebelum ke gereja iseng bercermin dan aaah… selalu masygul setiap kali lihat deretan gigiku yang kian hari kian memprihatinkan. Perlu DIBEHEL.. kata drg. Saras yang terakhir kujumpai setahun yang lalu. Halah.. cowok ini, emang kenapa dok kalau tidak dibehel? Masalah buat loe?.. tanyaku kala itu. Si dokter nan manis dan pernah berbehel juga itu hanya menjelaskan bahwa di usia 40 tahunan maka gigiku akan berantakan terlebih empat geraham belakangku tumbuh tidak dengan semestinya. Ada yang ke samping kiri, kanan, mendesak gigi di depannya atau justru putar badan ke belakang. Satu sudah dieksekusi karena aku tidak tahan dengan sakitnya setiap kali makan yang keras dan sedikit goyang. Tapi memang gigiku tidak nice to see dan jauh dari perfect, saingan dengan punya Pak Bos karena beliau dulu pemuja dan penikmat empek-empek hingga gusinya habis “dimakan” kuah yang mengandung cuka berlebih. Kebiasaan buruk kami berdua yang masih merokok (membantu pemerintah dengan membakar barang berbahaya) juga menjadi faktor parkirnya karang gigi di deretan gigi yang kami punya.

jauh dari OK.. tapi ya wong punyanya ..

jauh dari OK.. tapi ya wong punyanya..

Jika melihat deretan gigiku seperti kutunjukkan di atas dan setelah  penjelasan dari dokter, serta membaca beberapa artikel seperti di sini dan di sini, maka aku MEMBENCI Bu Bos. Masih inget siapa bu Bos? Salah satunya bisa dibaca di sini.. Kenapa? Yah.. gigiku yang kuning, tak berderet rapi, gusi yang tidak OK, perawakanku yang pendek.. salah satunya ya dari Bu Bos karena waktu kecil aku diberi antibiotik saat cabut gigi.

Si gigi ini membuatku susah untuk tersenyum saat di foto karena tidak Pe-De.. Padahal katanya aku tuh lucu dan kocak.. Hingga suatu ketika saat ketika sama mantan pacar bikin foto-foto mesra dan syur di studio sempat diledek juru foto dan pengarah gaya.. “Senyum mas.. punya pacar cantik kok ekspresinya gak bahagia..” atau “Yaaaap.. senyuuum.. mbaknya luwes masnya tegang tuh.. tarik lagi bibirnya.. atau saya yang difoto aja..” ujar si juru foto. Kampret! Meski konteksnya bercanda.. galau juga diledekin seperti itu.. Alhasil sampai seumur ini, aku hanya memiliki beberapa foto dengan poses senyum dan yang terbaik  menurutku ya di bawah ini..

singkawang

Sahabat..  lembaran ratusan ribuan (info drg Saras dan non Dessy) sering menghantui setiap uang mulai terkumpul di tabungan. Sebab kira-kira perlu 5-6 jutaan untuk merawat gigiku. Kadarnya sih pengen banget dan gak sekedar pengen doang atau pengen aja.. Tapi… ah sudahlah dinikmati saja dulu. Masih ada waktu untuk kumpulin receh demi receh atau dikawatin sendiri pakai kawat jemuran hahahaa..

Balik lagi ke judul.. Sempat aku utarakan hal ini kepada Bu Bos dengan mimik bercanda. Eh.. beliau tiba-tiba serius dan berujar pelan.. “Ya.. waktu itu Ibu tidak pernah tahu tentang efek antibiotik seperti yang sudah mas pelajari di kuliah, Ibu begitu bodoh sehingga gigimu jelek dan gak punya senyum indah. Kala itu hanya ingin menenangkanmu karena gigi berlubang mamas membuatmu rewel seminggu lebih .. Maafin Ibu mas..” sambil matanya berkaca-kaca..

Ups.. segera kupegang tangan beliau dan berkata.. “Bu.. mas becanda kok.. Mas yang minta maaf karena gak boleh seharusnya bilang begitu. Mas kan sudah tahu dari kuliah yang semuanya karena Ibu.. mas janji nanti cucu cicitmu gak ada yang kuning dan jelek giginya. Maafin mas juga karena waktu itu kabur dan bikin Ibu panik..”  Dulu memang karena berlubang, setiap malam aku selalu rewel dan berisik sehingga dibawa Ibu ke dokter gigi untuk dicabut si gigi biang keroknya.. dan karena merasa kesakitan dan Ibu justru berlama-lama di Pak Mantri (padahal ngurus pembayaran), aku nekad ngabur ke rumah Pak Uwo (orang tua Pak Bos) dengan jalan kaki dan menyeberangi  jalan besar sebab . Ibu panik waktu itu dan mencari dari siang sampai sore sampai ke orang pintar padahal aku tenang-tenang sama Pak Uwo dan Mbok Uwo mainan gundu. Maklum.. dulu kan tidak ada hape dan lain-lain.. Hedeeeh..

Nah.. apakah aku masih membenci Ibu? Ya.. tapi kali ini Benar Benar Cinta.. setiap ku tersenyum melihat deretan gigiku.. aku akan selalu mengingat Ibu.. satu dari yang terbaik di hati dan hidupku.. Terima kasih bu..

(Kado telat buat Ibu di hari Wanita Internasional , 8 Maret 2013)

Balada Mentari dan Rembulan di Persimpangan Jalan

Februari 12, 2013 Tinggalkan komentar

(tercurah di kala pergantian hari.. saat gelisah tak terperi.. dua tahun yang lalu..)

 

Terkisahlah Mentari dan Rembulan..

Mentari setia memberi energi seluruh negeri dengan sinarnya..

Saat malam menjemput siang.. dan gelap menyelimuti..

Rembulan pun ganti bersinar dengan lembut cahayanya..

Mereka memberi warna dan saling melengkapi.. tak lelah.. dan tak henti..

 

Suatu ketika.. siang terhalang hujan, tak kutemukan mentari di sana..

Tak jarang awan berarak.. membuat rembulan tak menampakkan indahnya..

 

Lepas dari kisah sang mentari dan rembulan.. aku terdiam sendiri..

Di sudut kota kecil.. kumainkan jemariku di deretan abjad Aspire-ku..

Lelah hati ini ingin tertumpah di tulisan ini..

Apa kata orang, aku tak peduli..

Mungkin sesat pikiranku dalam menterjemahkan kebebasan berekspresi..

Dan sekali lagi.. aku tak peduli..

Karena ini soal hati.. Baca selanjutnya…

Satu Makna di Jembatan Ampera..

Oktober 14, 2012 5 komentar

Awal Oktober 2012.. Aku berkesempatan menjadi auditor untuk satu perusahaan pembuat satu produk perusahaan di mana aku bekerja. Dalam dunia bisnis ini disebut sistem toll manufacturing atau jasa maklon. Oh ya.. kali ini perusahaan rekanan yang kami audit ada di Banyuasin, Sumatera Selatan tapi aku menginap di satu hotel di kota Palembang. Tapi tentunya kali ini tidak akan kuceritakan bagaimana dan hasil audit team-ku di sana dong.. itu rahasia dapur perusahaan kami hehehe..

Di coretan singkat kali ini aku ingin menuangkan satu malam yang berkesan bagiku selama di bumi Palembang. Satu malam (dan benar memang satu malam) yang kulewati bersama beberapa sahabat lama. Setelah seharian lelah melakukan tugas audit, aku dan rombongan auditor melesat menembus kemacetan jalanan Banyuasin-Palembang menuju hotel. Sempat berkecamuk pikiranku sebab beberapa hari sebelumnya sudah janjian dengan dua sahabat lama untuk bertemu karena kebetulan mereka berdomisili di Palembang. Tambah deg-degan karena sampai jam 8 malam masih harus menutup acara hari itu dengan dinner di Bukit Golf Resto & Resort  Cafe. Alhasil sampai di hotel Grand Zuri pun sudah larut malam. Alamaaak.. mana bisa ketemuan nih..? sedangkan besoknya aku langsung pulang ke tanah Jawa langsung dari lokasi audit. Baca selanjutnya…

Kalau dipikir-pikir.. Guwe Emang Brandal…

September 1, 2012 Tinggalkan komentar

Badan lelah, capek, ngantuk berat.. tidak membuat mata ini pengen terpejam sedikitpun. Nyoba berseluncur di DuMay (belakangan aku baru tahu bahwa kata ini adalah akronim dari Dunia Maya) dan iseng melihat jadwal film di bioskop, yah kalian pasti tahu apa nama situsnya kan? Sebenarnya geli juga kenapa mesti ngeliat jadwal film, toh di Cikande aku juga bisa hemat untuk tidak mengeluarkan uang guna menikmati film-film yang sedang tayang. Bukan hemat atau pelit sih.. tapi karena letak bioskopnya juaauuuh, harus menyeret si merah centil selama satu  jam menuju Cilegon (lokasi TKP terdekat). Tapi.. ya biar saja, biar gak ketinggalan banget dengan celoteh teman-teman di jejaring sosial yang menyampaikan status sedang atau sudah nonton film ini dan itu.

Yap, singkat cerita mataku mulai melototin tuh situs film dari atas ke bawah, kanan ke samping, kadang order ke si tikus untuk klik sana dan klik sini. Perhatianku tertumbuk ke film Brandal Brandal Ciliwung yang di resensinya menceritakan tentang persahabatan lima sahabat penghuni bantaran kali Ciliwung. Kayaknya wajib nonton nih.. minimal bajakan atau download-annya deh. Sebab kalau dipikir-pikir sedari kecil sampai seuzur ini, aku paling seneng bikin gerombolan.. ya bolehlah dikatakan brandal di manapun aku tinggal. Mulai dari Brandal Mbul Tambi (SMP) Brandal Mabeskosta , Brandal Asrama(SMA), Brandal Sapen, Brandal Simbok, Brandal Mbah Mardi, Brandal Wirata, Brandal Farmasi (kuliah), Brandal Pangkah (KKN), Brandal Mabeskosmar, Brandal DePe, Brandal Futsalholic, Brandal Brafo, dan sekarang Brandal Cikande saat ada di dunia kerja. Banyak juga yah.. asal jangan bikin Brandal Jepit aja deh.. Atau justru Brandal Cinta??

Brandal biasanya identik dengan kenakalan dan kebandelan.. Tapi yang aku maksud di sini adalah BRANi dianDALkan.. Ya, Puji Tuhan aku dikaruniai Tuhan dengan orang-orang dan sahabat yang luar biasa di sekelilingku. Mereka yang benar-benar ada saat susah maupun senang serta saling menyediakan bahu untuk bersandar, menguatkan, dan meringankan setiap beban. Mereka.. yang membuatku menitikkan air mata kala menahan rindu bila lama tak bertemu. Mereka.. yang sungguh tulus untuk menerima  aku apa adanya, lengkap dengan kekurangan dan kelemahanku.

Itulah BRANDAL versiku.. bagaimana denganmu??

Aku Bangga Menjadi Alumni Fakultas Farmasi Sanata Dharma Yogyakarta

Malam mulai bergerak menghabiskan malam mingguku. Kali ini kulewatkan di sudut Cileduk tempat Om tercinta yang sudah menjadi Bapak saya yang kesekian apalagi setelah lantai atas rumahnya seolah menjadi lantai guwe banget.. Dan aku menjadi si anak sulung di keluarga kecilnya. Sebenarnya hampir kututup rapat peristiwa sore ini untuk tidak kucoretkan di blog sederhana ini, tetapi adik tingkat ajaib yang selalu membangkitkan semangat menulis saya kali ini sekali lagi berhasil membuat saya buru-buru menarikan jemari di keyboard Aspire yang makin menua ini lewat tulisannya. Membaca kembali judul coretan ini membuat saa merinding disco.. Sungguh saya bangga menjadi alumnus Farmasi Sanata Dharma Yogyakarta..

Kenapa begitu? Sangat banyak sekali penyebabnya.. Mulai dari dibentuknya grup di jejaring sosial yang dibentuk guna temu alumni akbar di bulan Oktober tahun ini.. Kemudian bagaimana fakultas ini menjalin relasi yang kuat dengan para stake holder untuk menampung lulusan yang siap kerja dan berkualitas.. Lalu berbagai prestasi terbaru yang ditorehkan oleh adik-adik kelas yang selengkapnya bisa disimak di sini.. Heuft, jadi iri bagaimana mereka bisa mengharumkan nama civitas akademiku itu.. Aku dulu belum bisa melakukannya, emang dasar kurang cerdas kali ya.. Tapi bangga juga ketika di tahun 2011 kemarin bisa hadir lagi di sana untuk memberikan Kuliah Tamu “Kemasan Farmasi” buat adik-adik S-1. Setidaknya bisa berbagi karena saya beruntung untuk lebih dulu belajar dan mempraktekannya dalam dunia kerja. Mohon DICATAT.. hanya beruntung karena saya bukan mahasiswa yang cerdas luar biasa jaman dulu.. Apa lagi? Ya tentu bagaimana bisa memberikan tempat PKL plus tempat mondok selama melakukan kegiatan tersebut di satu perusahaan farmasi PMA divisi Consumer Care yang cukup ternama di sudut Cimanggis Depok. Yaaah.. Dari semua itu ada satu kata “KEHANGATAN” yang bisa saya simpulkan sebagai penyebab BANGGA-ku terhadap fakultasku. Baca selanjutnya…

Jutaan Cinta di Mabeskosmar..

Januari 12, 2012 24 komentar

Adeuh.. aneh ya namanya.. Kayak markasnya rombongan Aparat Penegak  Hukum. Padahal itu kepanjangan dari  Markas Besar Kost Maryam.. Yah, tempat kost di bilangan Cisalak persis di pinggir Jalan Raya Bogor km 31 kadang juga 30 atau 32.. Wis pokoknya sekitar gang Masjid Cisalak Dech. Coretan ini orderan satu teman kost yang ngebet pengen narsisin kost tercinta kami di dunia pergoblokan eh perngeblogan. Denahnya? Tenang aja, ada satu gambar anak PKL dari Unpad yang aku upload di sini. Hemh.. terharu kalau liat gambar ini karena dibuat khusus untuk sang Pacar yang akan mengunjunginya dari Bumi Parahyangan.. So sweeet.. Cekidooot..

denah cinta untuk si yayang.. mabeskosmar..

Apa sih istimewanya MabeskosmaR? Tentu saja pilihan kamar yang bejibun.. sampe 78 kamar (hitungan terakhir sebelum ku pensiun dari tempat itu), parkiran yang luas, pilihan kamar mandi luar, mushola, Gazebo untuk kumpul, berbagai keistimewaan lain yang rasanya tidak tertandingi tempat kost atau kontrakan manapun di kawasan itu. Lainnya? Tentu Bu Hajjah Maryam yang tiada duanya, mpok Roos (nama bekenya Rosalinda) yang tulus dan selalu ceria, Pak Burhan yang jago soal bangunan, Mas Wawan yang kalau kerja kayak puasa Senin Kemis, dan.. Doggy.. si anjing putih kesayangan Mami (begitu panggilan kami terhadap Bu Hajjah pemilik kost) yang suka martabak, hamburger, sate, dan.. bakso. Appaaa? Ini sempat membuat kami tersedak ketika di suatu sore yang cerah kami kumpul untuk menikmati bakso Mas Darius yang merupakan pemangkal tetap di kostan itu  . Tiba-tiba Mami datang dan membawa mangkuk kosong, spontan kami komentar “ Tumben Mi, suka bakso juga?” Jawab Mami dengan santainya “ Ah.. Nggak, ni mau mbeliin si Doggy, dari tadi ngrengek terus minta bakso..” Duaaar!! Kami kaget dan tersedak karena berarti kami sama dengan…. Hahahahaaaayayyy…

Banyak memori tersimpan di sana sahabat.. Untaian kata tentu saja takkan cukup mengungkapnya. Mulai dari betapa isengnya kami, bandel, ramai, tapi selalu ada kasih di setiap tindakan. Konflik memang pernah terjadi, tapi bisa dihitung dengan jari tanganku saja.. Setidaknya selama lima tahun kuhabiskan waktuku di sana. Namun yang terpenting.. ada cinta yang terbentuk antara kami yang semula saling tidak kenal.. Tapi bisa menjadi sahabat bahkan saudara..  Mungkin foto-foto ini bisa menjadi cerita antar penghuninya.. Mulai dari makan bareng, kondangan, anak PKL, karaoke, futsal, dan seterusnya… Foto lainnya maaf tidak lulus sensor.. I love U semua.. Thanks untuk semua hal yang kupelajari dari kalian dan kehangatan MabeskosmaR.. I love MabeskosmaR.. Baca selanjutnya…