Arsip

Posts Tagged ‘Plagiat’

Mau Dibawa Kemana Negeri Ini?

Menjelang istirahat hari ini, mencoba untuk sedikit berfikir mengenai apa yang terjadi di sekitarku saat ini.. Semuanya bermula dari hari libur nasional yang ditetapkan pemerintah (melalui Pak Jokowi) untuk memperingati hari lahir Pancasila. Satu hal yang baru pertama kali dilakukan selama Indonesia merdeka.. (mohon koreksi jika salah). Ada apa ini? Apakah karena republik ini dalam kondisi genting?

Melalui siaran radio swasta yang kebetulan mewawancarai satu tokoh penting negeri ini, saya mendapati bahwa tatanan bangsa ini mulai bergeser. Dan.. sedikit banyak ada beberapa gambaran yang membuat saya setuju untuk membuat spesial hari lahirnya ideologi dan dasar negara bangsa ini. Kenapa? Karena sudah GAK JELAS!

Generasi Nunduk..

Ya, saat ini ada fenomena Generasi Nunduk di negeri ini. Generasi yang kalau ngumpul malah asyik mainan gadget tinimbang diskusi dan bedah ide bagaimana untuk membangun bangsa ini. Raga berdekatan tapi fokusnya saling berjauhan. Satu maen game, yang lain asyik nonton konten porno.. ladalahhh.
Note : saya juga..

Apatis..
Kasar memang.. tapi itulah kenyataannya. Di antara kita mulai tidak peduli dengan keadaan sekitar. Bagaimana kita mendiamkan pengguna jalan yang melanggar marka jalan, menerobos lampu merah, atau melawan arus bahkan melewati jalur yang bukan peruntukannya. Kita diam.. tak menegur, tidak protes, tak pula mengingatkan atau mencegah, seolah hal itu biasa dan menjadi tugas polisi atau dishub untuk menertibkan.. malah ikut-ikutan melakukan pelanggaran. Ahaaay..
Note : kali ini saya juga satu di antaranya

Karbitan
Banyak ajang adu bakat untuk mencetak selebritis dadakan, meski beberapa di antaranya ada yang memang melalui perjalanan panjang dan berliku untuk mencapainya. Sekejap ada sosok yang dipuja karena apa yang dilakukan, melalui jogetan, tulisan, suara, atau hal lainnya. Tapi seketika pula dihujat, dikucilkan, dicap plagiat, bahkan dianiaya.. meski seharusnya publik lebih bijak untuk membiarkan yang instan ini menjadi konstan..
Note : yang ini saya diam saja.. (pura-pura bijak)

JEmpolmu Harimaumu..
Dulu mulutmu harimaumu, sekarang berubah jempolmu harimaumu. Melalui media sosial kita dengan mudahnya mencela, menista, memperolok, bahkan melecehkan orang lain. Nanti kalau sudah dicari yang berwajib lantas menghilang, pura-pura amnesia, pura-pura dalam perahu, dan seterusnya. Garang lewat jempol tapi gamang saat mau diborgol.. Seperti kasus persekusi yang viral belakangan ini. Bagi saya yang jadi korban salah karena kurang memperhitungkan akibat dari tarian jempolnya. Pihak lawannya pun salah juga karena memilih intimidasi dan kekerasan dalam menanggapinya. Tinggal pak polisi yang kelimpungan menyelesaikannya. Tuh kan.. malah bikin repot gara-gara jempol kita..
Note : saya nggak ikut2an.. ingat isteri dan anak, kalau diborgol siapa yang akan menafkahi mereka?

LAtah..
Ya, kita sering latah melihat kondisi sekitar. Ada yang begini ikut begini, ada yang begitu ikut juga begitu. Seolah tidak bisa jadi diri sendiri dan cenderung mengekor orang lain yang diidolakan. Bahkan latah meniru gaya hidup artis beken meski harus gali lobang tutup usia eh tutup lobang..
Note : saya No, masak iya harus pakai rok karena mengidolakan tokoh wanita..

Selfie..
Mulut mencong, sedikit nunduk, mata mengerling ke arah lain, dan lain sebagainya.. ini adalah salah satu fenomena yang menguasai media sosial generasi saat ini. Semuanya hobby swafoto yang terkadang menjurus ke narsisisme alias mengagumi diri sendiri. Iya aja untuk yang ganteng cantik, mau gaya apa tetep pantes (meski belum nemu yang selfie saat berjuang di toilet). Yang jelek? Mau digimanain ya harus terima nasib laah..
Note : ini… Guwe banget!!

Ya, itulah GAK JELAS yang saya maksud.. tinggal kita putuskan, mau ikut gak jelas atau mau berubah ke arah yang lebih baik? Karena pilihan kita akan menjadi jawaban judul tulisan ini.. matur nuwun