Arsip

Posts Tagged ‘dokter’

Akoe dan Pak Bu Bos.. Belajar Membangun dan Merawat Jembatan..

November 29, 2013 Tinggalkan komentar

Sabtu Minggu kembali tiba… tapi seperti biasa Jumat petang masih nongkrong di pabrik tercinta. Aku teringat akan pengalaman weekend beberapa minggu lalu.. tatkala kembali harus ku takjub untuk kesekian kalinya terhadap Pak dan Bu Bos. Masih ingat siapa mereka? Ya.. kedua guru SD pujaanku.. Kali ini aku belajar bagaimana untuk membangun dan merawat jembatan..

Apa?? Jembatan?? Pakai kayu? Pakai Beton? Pakai Baja? BUKAAAAAN.. Tapi pakai kasih bin cinta..

Hemh.. bingung ya? begini ceritanya.. Suatu sore di awal November datang satu SMS dari Bu Bos tersayang yang mengabariku akan seseorang di masa laluku yang sedang menderita sakit. Om Jamari.. atau O’ Ai demikian kupanggil beliau saat ku kecil.  Om Jamari dulu adalah pemuda yang tinggal bersama bapak ibu di satu sudut desa kecil Srikaton (yang sekarang sudah menjadi hutan lindung) di propinsi Lampung, tanah kelahiranku. Pria gagah yang mirip dengan aktor Herman Felani itu sekarang terbaring tidak berdaya karena Parkinson yang dideritanya. Bu Bos mengajakku untuk meluangkan waktu menjenguknya di daerah Gedung Aji yang kira-kira 6 jam perjalanan dari rumahku di Lampung. Aku sontak mengiyakan dan mengatur jadwal agar bisa FREE di weekend, meski akhirnya tetap juga curi-curi waktu urus kerjaan saat hari “H”, dan bersama bapak ibu menyambangi O’ Ai yang dulu dengan telaten ikut mengasuhku.

Akhirnya di pertengahan November aku pulang ke Lampung, menjelang pagi mendarat di rumah, lantas beristirahat sejenak dan setelah Pak dan Bu Bos pulang dari kampus (baca : SD), kami pun meluncur ke TKP. Cuaca cerah kala itu sehingga jalan berliku dan sempit pun tidak terasa hingga mulai memasuki daerah Gedung Aji Baru dimana jalanan mulai jueleeeek dan bergelombang dahsyat. Daerah yang dikenal dengan daerah transmigrasi, dimana sebenarnya Bapak dulu mendapat satu jatah, namun karena Ibu menolak maka lantas dijual kepada orang lain.

hemh.. ini bagian awal.. selanjutnya lebih parah..

hemh.. ini bagian awal.. selanjutnya lebih parah..

Setelah bertanya kanan kiri.. sampailah kami di rumah O’ Ai.. ada sosok pemuda gagah yang menyambut, itu Heri anak sulungnya yang putus sekolah karena mengurus ayahnya yang tergolek tak berdaya di ruang tengah. Ada pula Bulik Minem isteri O’ Ai yang menyambut kami dengan kaget sukacita sebab sebenarnya Desember kami baru akan mengunjungi keluarga ini. Anak bungsu mereka tidak di rumah karena sedang menempuh pendidikan lanjutan pertama di Metro, satu daerah di Lampung juga. Baca selanjutnya…

Kala si Kepo Kena Batunya…

Pagi belum kunikmati betul siang ini karena nonton bola di TV dan saling bergantian karena kadang BLUP!! aku tertidur dan terjaga lagi (tahu kan maksudnya..). Humh.. sampai pagi menjelang setelah drama adu pinalti antara Inggris kontra Italia yang dimenangkan si Negeri Pizza karena kegagalan duo Alay ups Ashley, aku belum bisa tertidur juga. Tepat saat si kantuk melanda, mulai mempersiapkan peraduan, tiba-tiba ada karyawan yang tergopoh-gopoh mendatangi mess tempatku bermukim sebab ada karyawan lain yang sakit. Berpikir cepat karena aku kebetulan jadwal masuk siang, tanpa pikir panjang untuk cukur kumis dan brewok-ku, aku langsung ambil kunci motor, helm, tak lupa hape dan dompet lalu tancap gas meninggalkan pabrik menuju klinik terdekat.

Wajah kumel, ngantuk, laper, makin tambah kucel karena agak jengkel sebab dokternya sedang mandi. Tapi hanya sesaat ternyata.. sebab saat si dokter muncul yang ada wuaooow.. Dokter itu masih muda, kutaksir 25 tahunan, wanita (jelas.. ngapain guwe tulis di coretan ini), suaranya enak dan wajahnya.. cantik dengan kacamata minus ber-frame hitam. Tapi yang bikin bergetar adalah liontin salib yang dikenakannya, wah.. ini guwe bangeeet (dasar STMJ.. maaf ya..). Sejenak aku teringat akan dokter muda di Jakarta sana andai kalian masih ingat coretanku tentangnya. Semua yang aku tuliskan di kalimat awal paragraf ini hilang.. dan berubah 180 derajat walau aku tetap brewokan, belum mandi, dan kumal hehehe.. Baca selanjutnya…

Siang terik di gang senggol.. bersama bu dokter muda..

Januari 23, 2011 Tinggalkan komentar

Siang itu..

begitu terik..

Sangat susah rasanya..

bertemu denganmu sekarang2 ini..

Tiada ada waktu senggang antara kita..

Yach engkau sekarang sudah jadi ibu dokter muda

Waktumu tersita untuk dinas pagi, malam, ataupun panjang..

Tak sampai sejam kita bertemu.. di siang terik, tepat di gang senggol itu..

Baca selanjutnya…

Kategori:PLUS plus Tag:,