Arsip

Posts Tagged ‘selingkuh’

Aku Pensiun Ya..

Januari 5, 2013 4 komentar

catatan malam kemaren… saat “kamu” bisa dibaca pula sebagai “kalian”..

Pengen banget.. menuangkannya dalam sebuah lagu. Tapi malam ini begitu dingin dan membuat jemariku kaku untuk memetik dawai gitar. Kali ini mungkin tepatnya galau.. setelah berulang kali kuingkari ejekan itu setiap kali ngoceh atau nyoretin status di akun jejaring sosialku. Mau meneriakkannya dalam untaian kata. Namun aku rasa lidahku kelu untuk bergetar melafalkan abjad demi abjad..

Aku coba mengurutkan satu demi satu rangkaian hati ini. Dan ternyata beberapa terakhir selalu berurusan dengan kamu, kamu, kamu, dan kamu lainnya yang sudah tertambat di satu hati. Ingin rasanya aku sebut namamu di coretan ini. Tapi buat apa? Aku tak mau semuanya berakhir dengan rasa sakit.. Aku masih bisa bertahan untuk tidak khilaf..

lilinku

Benar kata Remi dalam film Perahu Kertas 2 (adegan di pantai bersama Kugy).. “Aku buta.. Kalau aku paksain terus, kita akan sama-sama sakit ”. Cukup rasanya aku menghabiskan malam-malamku, detik-detik hidupku, hanya untuk menjadi sandaranmu.. Cuma untuk bermain api dan menyakiti orang lain.. Menipu diri dan bernaung dalam kebahagiaan semu. Aku punya satu kehidupan dan cinta yang masih layak aku cari dan perjuangkan, meski semua akan mencibir dan bilang terlambat. Tapi cukuplah semuanya..

Aku pensiun ya.. Pensiun dari menjadi malaikatmu.. Pensiun dari menjadi malam-malam indahmu.. Pensiun dari lilin yang menerangi gelapmu.. Pensiun menjadi sosok pria terbaik yang pernah kamu kenal.. Aku pensiun.. dan aku yakin kamu mengerti.. “ Hati itu tidak memilih, hati itu dipilih “..

guwe

Akoe dan Si Bapak Tengil…

Oktober 13, 2012 Tinggalkan komentar

Satu kedai es cendol di sekitar jembatan Kebon Nanas menjadi pilihanku siang ini untuk melepas penat setelah menikmati perjalanan dari Serang ke arah Ciledug menggunakan bis antar kota. Meski debu berterbangan di sekitar kedai kecil yang kusinggahi tetap tak sanggup untuk mengalahkan nikmatnya segelas es cendol di terik hari ini. Slruuuup.. tegukanku yang kesekian memuaskan dahagaku. Urusan haus lenyap.. kambuh deh penyakit mata jelalatanku yang liar menatap sekeliling. Ke kanan, kiri, atas, bawah ups.. ada dua kucing berlarian nampaknya ingin menuntaskan percintaannya siang ini. Cing.. kucing.. inget waktu woi… ntar malem aja kenapa sih..

Saat kutengok lagi kedepanku, tampak seorang bapak berjaket hitam sedang asyik ngobrol di hape dengan kerasnya. Ah.. si tengil ini rupanya!! (nanti aku ceritakan kenapa aku menyebutnya si tengil). Dalam pembicaraannya dia tampak membentak seorang wanita yang dipanggilnya ‘mama’ untuk segera menjemputnya di kedai yang sama denganku singgah. ‘Sebagai isteri harus nurut suami… ‘ itu yang dikatakan dengan lantang sebelum Ia mengakhiri pembicaraannya. Wuah.. kasar banget bang!

Tak berapa lama dia berganti hape dan menghubungi seseorang lain.. Anehnya kali ini dia panggil ‘sayang’, mungkinkah menelepon isterinya tadi? Tapi ah tidak.. suara di ujung hape itu terdengar beda. Tuhan.. kenapa telingaku “kepo” banget?? Tapi sumpah dengan jarak antara kami berdua yang hanya dibatasi meja penjaja kedai, volume hape tersebut masih terdengar olehku. Dosa dosa dech.. Baca selanjutnya…