Arsip

Posts Tagged ‘wawancara’

Post Graduated Syndrome..

Februari 9, 2013 Tinggalkan komentar

 Sahabat..pernah dengar istilah Post Power Syndrome (PPS)? Yang secara mudah bisa dikatakan satu kelainan kalau tidak boleh dibilang penyakit yang menghinggapi seseorang pasca berhenti dari pekerjaan atau jabatannya. Bisa karena pensiun atau justru karena diberhentikan dengan hormat atau dengan siap grak eh.. maksudku dengan tidak hormat.  Yang jelas dari semula biasa beraktivitas kemudian tiba-tiba tidak ngapa-ngapain ternyata bisa membuat orang mengalami penurunan ambang emosi, cepet naik pitam tapi gak cepet turun pitam, mudah darah tinggi hingga sampai kejang-kejang atau ayan..dan ah.. lupakan saja ya.. Saya takut sekian dari sahabat justru pakarnya sindrom ini sebab saya cuma corat-coret ngawur..

Tapi saya ingin menulis sindrom lain..namanya Post Graduated Syndrome (PGS) atau sindrom setelah lulus. Ups, lirak-lirik dikit..kedip-kedip dan andaikata sudah ada istilah lain ya maaf.. tapi boleh terus nyoret-nyoret ya.. (secara ini blog saya sendiri hihihi..). Istilah di atas saya dapatkan dari pengalaman dua adik saya yang baru lulus kuliah. Satu adik sepupu, satu adik ketemu gendud (daripada ketemu gede sich). Okay..

Hampir sama kejadiannya, setelah diawali SMS lalu dilanjut telponan sampai kuping panas pulsa nipis. Namun karena lebih dulu bekerja maka saya bisa berkoar-koar dan sambil semangat empat lima memberi wejangan walau di akhir obrolan ternyata hape saya sudah basah kuyup karena ada yang ikut muncrat. Tapi meski entah didengerin atau justru hapenya di loud speaker dan ditinggal pipis..ternyata saya berhasil menemukan formula untuk mereka yang baru lulus dan takut atau galau menghadapi dunia kerja. Mau tahu? Baca selanjutnya…

Iklan

Bagaimana Jika Kita Harus Menentukan Nasib Orang Lain?

Oktober 7, 2011 2 komentar

Sore ini terasa cerah dari biasanya, maklum hari ini dibagikan insentif lemburan, bisa buat tambahan biaya hidup di mess pabrik nich. Tapi lepas dari itu, aku dapat jatah untuk mewawancarai beberapa pelamar yang akan bekerja di bawah supervisiku. Bukan pengalaman yang pertama memang, tapi tetap penting bagiku karena aku harus menentukan nasib orang lain. Yach nasib sesamaku tentunya..

Sahabat.. tak usah kuceritakan bagaimana jalannya wawancara sebab aku yakin di antara kalian ada yang jauh lebih berpengalaman bahkan ahli di bidang yang satu ini. Aku hanya ingin mengajak sejenak berpikir tentang ‘sesuatu’ di balik sebuah proses wawancara. Sesuatu yang kiranya menggelitikku untuk bertanya padamu, bagaimana jika kamu harus menentukan nasib orang lain? Baca selanjutnya…