Arsip

Posts Tagged ‘Karlsruhe’

Tiga Nol

Mei 21, 2013 2 komentar

Sepi memang malam ini, sudah menjadi jamak rasanya melewati pergantian usia dalam kesendirian, tidak hanya dalam konteks pasangan tetapi memang saya lebih suka untuk berdiam di kamar, berdevosi karena selalu dalam bulan Maria (satu adat istiadat agama yang saya anut), menarik nafas dalam-dalam dan mensyukurinya serta mengevaluasi pencapaian saya di usia baru.. Rasanya lebih hidup memang jika dibarengi kecupan mesra pasangan di kening dan kedua pelupuk mata.. hehehe..

Tiga Nol.. bukan skor pertandingan terakhir antara Dortmund dan Barca… bukan pula judul lagu yang terakhir saya ciptakan.. atau nama tempat yang mengasyikkan. Tiga nol adalah usia saya yang baru dimana targetnya sebelum usia ini sudah mengucap ikrar perkawinan di altar suci. Namun Tuhan rupanya punya rencana lain.. sebab proyek 30 Hari Mencari Cinta (21 April-21 Mei) pun juga kandas karena si Cupid tiba-tiba resign dan akan mengadukan saya ke Komnas HAM karena saya paksa untuk menembakkan panah cintanya ke seseorang yang telah berpunya.. Untungnya semua bisa diselesaikan secara kekeluargaan meski si Cupil eh Cupid mengajukan syarat untuk saya lebih teliti dan bijak lagi memilih sasaran tembak.. deuh gati..

Lantas apa pencapaian saya? Hemh.. yang terbaru mungkin jabatan dengan job desc seabreg yang menantang dan mendewasakan saya. Kalau dibilang terbaik tentu bisa ke luar negeri di 2008 dan 2009, menikmati perjalanan dengan wong ndeso lainnya (Widi dan Aji), terpenjara di pesawat selama belasan jam, yang tadinya hanya berawal dari mimpi.. Ya, itulah pencapaian terhebat meski judulnya “dinas luar” yang hanya bisa diimbangi dengan keluyuran saya atas biaya sendiri ke Pulau Dewata, Bumi Borneo, dan Negeri Laskar Pelangi..

wong ndeso - with Widi - Taman Stuttgart - pengujung 2008

wong ndeso – with Widi – Taman Stuttgart – pengujung 2008

Aji-Aku-Martin - Karlsruhe - Medio 2009

Aji-Aku-Martin – Karlsruhe – Medio 2009

Baca selanjutnya…

Iklan

Akoe dan Hujan..

Januari 13, 2013 Tinggalkan komentar

Mataku masih nanar menatap sekeliling mess yang riuh karena suara hujan menari-nari. Di atap mess.. sehingga ada satu titik talang air yang bocor membasahi lantai teras termasuk si Merah Centil yang terparkir kedinginan. Di rerumputan depan mess yang membuat genangan bak danau kecil yang memanjakan para kodok untuk kontes suara “paling menyebalkan” penghuni mess tiap malam. Tak ketinggalan di pohon jambu biji tepat belakang kamar mess-ku yang membuat gemerisik laksana suara dari dunia lain.

Yah.. sudah seminggu lah kira-kira hujan mengguyur bumi pertiwi dari Sabang sampai Merauke. Di tempatku bekerja sudah terasa imbasnya karena banyak operator yang tidak masuk karena terhalang hujan maupun tempat tinggalnya kebanjiran atau sekedar akses jalan ke arah pabrik tergenang lautan air. Efeknya juga membuat mata nanar melihat lembar absensi dan otak berpikir keras untuk mempertahankan kelangsungan produksi. Risiko itu bung!

Hujan.. semula hanya kumaknai dengan “siap tempur” keliling pabrik untuk mengamankan bahan kemas dan barang jadi dari serangannya sehingga harus berbasah ria dan minum obat setelahnya. Tetapi entah kenapa di satu sudut kamar mengingatkan akan beberapa peristiwa masa lalu yang menegaskan indahnya cerita aku dan hujan..

  Baca selanjutnya…