Arsip

Posts Tagged ‘Pramuka’

#13.. Jurit Malam Perdana..

Juni 18, 2013 6 komentar

Weekend plus cuti sudah usai. Waktunya kembali ke kerjaan dan mempersiapkan dua hal besar sekaligus buat pabrik di minggu ini yaitu peringatan ulang tahun pabrik dan juga kunjungan Badan POM dalam rangka pemetaan industri obat tadisional. Kerja keras dan kerja cerdas nih nampaknya.. Tapi tetap berusaha buat mbayar hutang beberapa coretan yang tertunda. Masih sama tentang true story of me sih.. Kali ini adalah satu cerita tentang Jurit Malam..

Ya, satu kegiatan penggemblengan mental yang lazim dijumpai dalam latihan kepemimpinan dasar tempo dulu baik di OSIS, Pramuka, ataupun kegiatan keorganisasian lainnya. Rasanya di menjelang akhir latihan akan ada si JM (Jurit Malam) ini. Apakah merayap, merangkak, berguling, naik, turun, bahkan melintasi lokasi menyeramkan semisal kuburan. Kalau sekarang daripada jurit malam rasanya mending ditutup dengan Desah Malam aja deh.. makanya banyak pemimpin melempem karena cewek.. hahaha..

Aku? Jelas mengalami.. beberapa kali malah.. Tapi ternyata yang mengesankan tetaplah yang pertama. Yaitu waktu PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu) calon Ambalan di Lapangan Misi Pringsewu. Namanya anak yunior, pasti nurut ketika malamnya diminta melaksanakan jurit malam berkedok ‘mencari jejak’. Acara dimulai jam 10 malam, nyari jejak apa coba.. Baca selanjutnya…

Akoe dan Si Kecil Penantang Maut..

Februari 27, 2012 2 komentar

Malam mulai menjelang ketika si MC (Merah Centil )motorku aku pacu meninggalkan mess pabrik untuk weekend kali ini. Masih ingat dalam benakku dua hari yang lalu kala Jumat akan berganti Sabtu. Untuk mengambil jalan yang relatif simpel maka aku harus melewati jalanan di kawasan industri sebelah kawasan tempat pabrikku berada. Maklum jalanan di kawasan industri tersebut jauh lebih bagus daripada kawasan industri pabrik tempatku bekerja (kalau ‘pabrikku’ tar dikira nyang punye pabrik dech..).

Asyik menikmati mulusnya jalan eh tiba-tiba aku memelankan laju si MC karena ada anak kecil yang sedang termenung di samping sebuah motor butut, setidaknya menurutku, karena tinggal rangkanya doang. Aku menepi dan menghampiri si bocah yang kutaksir baru usia 11an tahun. “Ngapaen dek? Mogok motormu?” tanyaku padanya. “Rantainya putus bang, ada kunci gak?” sahutnya sambil balik nanya. Kulirik sekilas si MC dan seolah dia mengedipkan mata tanda setuju, lalu balasku padanya “Ada, bentar abang ambilin, tapi cuma kunci standar looh”. Si bocah tersenyum dan berujar “Tenang aje bang, guwe kan Macgever..” Aku geli sedikit saat mendengar lafalnya mengucapkan salah satu tokoh  detektif swasta rekaan yang dulu ngetop di layar kaca.

Bergegas kuambil sekantong kunci di dalam perut si MC dan kutambahkan obeng, tang jepit, dan senter kecil yang selalu ada di ransel kumal yang setia menemani setiap perjalananku. Ya Tuhan.. bener-bener takjub aku seketika. Di bawah bantuan penerangan dari senter kecil yang aku pegangi, si bocah benar-benar seperti tokoh rekaan yang dia ucap barusan. Tangannya lihai memainkan tang, obeng, dan kunci pas standar yang aku pinjamkan. Ketok , jepit, congkel sana sini dan tralalalaaaaa… gak sampai 10 menit rantai yang putus sudah tersambung dan motor siap jalan. Gila.. bisa muntah darah seharian kayaknya kalau aku yang diminta mengerjakan.. Baca selanjutnya…