Arsip

Archive for the ‘Akoe dan….’ Category

Akoe dan Tiga May Day Terakhir

Mei 3, 2016 4 komentar

Semenjak menggawangi satu paguyuban pekerja berbasis agama, May Day rasanya menjadi akrab bagiku. Ya.. sebagai seorang buruh alias pekerja, tentunya harus turut serta memperingati Hari Buruh Sedunia yang faktanya menghasilkan beberapa hal yang berpihak pada kaum buruh. Apa saja itu? Mulai dari adanya Cuti-Cuti Khusus (misal cuti hamil), Pembatasan Jam Kerja, Upah Minimum, THR, hingga BPJS. Dahsyat bukan?

Tak dipungkiri memang, beberapa aksi May Day ada yang berujung bentrok antara para buruh dengan aparat keamanan. Menurut opini saya hal itu dikarenakan ulah beberapa oknum yang tidak mampu mengontrol emosinya. Namun 1 Mei tetaplah menjadi satu ajang para buruh untuk berkonsolidasi satu sama lain utamanya yang tergabung dalam serikat buruh atau pekerja. Meski belakangan ini mulai bergeser ke aksi-aksi sosial dan simpatik, bahkan mampu mengadakan dialog dengan pemangku kepentingan untuk menyuarakan masukan dan kritik yang sekiranya membangun. Win Win Solution? Harusnya.. Faktanya? Semua tentu punya jawaban masing-masing.. Kalau menurut saya sih belum, masih ada yang pengen menang di beberapa poin diskusi.

Nah.. kalau kami memperingatinya dengan beberapa kegiatan berbeda untuk pekerja Katolik wilayah keuskupan Bogor. Tahun 2014 diperingati di Serang dengan adanya Dialog dengan Bapa Uskup Mgr. Paskalis Bruno Syukur. Berikutnya di tahun 2015 masih dengan dialog bersama gembala tertinggi di keuskupan Bogor tersebut di Kota Wisata – Cibubur. Nah.. tahun 2016 ini sedikit berbeda, dengan mengadakan Futsal dan Badminton Ceria di Sport Hall Flamengo – Serang. Tujuannya adalah membangun komunikasi internal dengan para pekerja dan calon pekerja (OMK dan KMK) se-Paroki Kristus Raja Serang. Berikutnya adalah menciptakan pekerja yang sehat dan kuat. Selanjutnya? Tentunya agar tercipta konsolidasi internal dan external untuk menjadikan buruh semakin cerdas dalam bekerja. Menempa buruh yang memiliki kompetensi di bidangnya untuk menghadapi MEA yang sudah mulai terasa dampaknya dengan invasi pekerja asing.

poster may day ppkc

Pertanyaannya sekarang? Sepeduli apa kita sebagai pekerja terhadap pergerakan buruh dan adanya MEA? Jangan-jangan MEA saja kita tidak tahu apa kepanjangannya… Semoga menjadi renungan bersama..

Iklan

Aku dan Pengusaha Kaos.. Ampuhnya SEDEKAH..

Siang ini berkenalan dengan pengusaha kaos yang tertarik dengan desain kaos ajakan Sholat yang saya posting di medsos. Beliau tak menyangka karena ternyata saya non muslim meski saya akui untuk gambarnya saya mengambil dari internet. Lebih kaget karena profesi saya sebenarnya lebih lekat ke dunia obat daripada dunia seni. Akan tetapi sesaat kemudian saya yang gantian terkaget-kaget dengan cerita perjalanan usaha beliau.. Kenapa?

kaos muslim 3

Baca selanjutnya…

Akoe dan Pak Bu Bos.. Belajar Membangun dan Merawat Jembatan..

November 29, 2013 Tinggalkan komentar

Sabtu Minggu kembali tiba… tapi seperti biasa Jumat petang masih nongkrong di pabrik tercinta. Aku teringat akan pengalaman weekend beberapa minggu lalu.. tatkala kembali harus ku takjub untuk kesekian kalinya terhadap Pak dan Bu Bos. Masih ingat siapa mereka? Ya.. kedua guru SD pujaanku.. Kali ini aku belajar bagaimana untuk membangun dan merawat jembatan..

Apa?? Jembatan?? Pakai kayu? Pakai Beton? Pakai Baja? BUKAAAAAN.. Tapi pakai kasih bin cinta..

Hemh.. bingung ya? begini ceritanya.. Suatu sore di awal November datang satu SMS dari Bu Bos tersayang yang mengabariku akan seseorang di masa laluku yang sedang menderita sakit. Om Jamari.. atau O’ Ai demikian kupanggil beliau saat ku kecil.  Om Jamari dulu adalah pemuda yang tinggal bersama bapak ibu di satu sudut desa kecil Srikaton (yang sekarang sudah menjadi hutan lindung) di propinsi Lampung, tanah kelahiranku. Pria gagah yang mirip dengan aktor Herman Felani itu sekarang terbaring tidak berdaya karena Parkinson yang dideritanya. Bu Bos mengajakku untuk meluangkan waktu menjenguknya di daerah Gedung Aji yang kira-kira 6 jam perjalanan dari rumahku di Lampung. Aku sontak mengiyakan dan mengatur jadwal agar bisa FREE di weekend, meski akhirnya tetap juga curi-curi waktu urus kerjaan saat hari “H”, dan bersama bapak ibu menyambangi O’ Ai yang dulu dengan telaten ikut mengasuhku.

Akhirnya di pertengahan November aku pulang ke Lampung, menjelang pagi mendarat di rumah, lantas beristirahat sejenak dan setelah Pak dan Bu Bos pulang dari kampus (baca : SD), kami pun meluncur ke TKP. Cuaca cerah kala itu sehingga jalan berliku dan sempit pun tidak terasa hingga mulai memasuki daerah Gedung Aji Baru dimana jalanan mulai jueleeeek dan bergelombang dahsyat. Daerah yang dikenal dengan daerah transmigrasi, dimana sebenarnya Bapak dulu mendapat satu jatah, namun karena Ibu menolak maka lantas dijual kepada orang lain.

hemh.. ini bagian awal.. selanjutnya lebih parah..

hemh.. ini bagian awal.. selanjutnya lebih parah..

Setelah bertanya kanan kiri.. sampailah kami di rumah O’ Ai.. ada sosok pemuda gagah yang menyambut, itu Heri anak sulungnya yang putus sekolah karena mengurus ayahnya yang tergolek tak berdaya di ruang tengah. Ada pula Bulik Minem isteri O’ Ai yang menyambut kami dengan kaget sukacita sebab sebenarnya Desember kami baru akan mengunjungi keluarga ini. Anak bungsu mereka tidak di rumah karena sedang menempuh pendidikan lanjutan pertama di Metro, satu daerah di Lampung juga. Baca selanjutnya…

Akoe dan FRE.. Hutang Janji..

Oktober 6, 2013 6 komentar

Siang terik kali itu.. kupacu si Merah Centil membelah jalanan Cikande-Serang dengan kecepatan tinggi. Terpaksa kupaksa si MC berlari kencang karena mengejar waktu agar bisa menengok si Fre dan kemudian ke Gereja Kristus Serang. Weekend kala itu lumayan mendukung perjalanan kami berdua sebab jalanan yang biasanya padat oleh pekerja menjadi lengang dan super duper lancar. Hemh.. butuh setengah jam saja ternyata untuk menemui cintaku terbaru si Fre.

Setengah mengangguk kusapa pak Satpam yang menjaga gerbang Cluster Houston di Perumahan Highland Park Serang sebagai tanda kehadiranku. Belok kiri lurus dan belok kiri lagi.. sampailah aku di sebentuk rumah mungil di blok F23. Ya itulah si Fre (23 dibaca sebagai R dan E gaya ALAY).. Tampak si Fre tak terawat, banyak rumput liar dimana-mana.. Rautnya pun merengut melihatku datang bersama si MC. .

“Siang Fre.. pa kabar..” sapaku seraya mengelus hidungnya (baca : pintu depan).. Tapi dia diem saja sambil melengos. “Kamu kotor banget Fre.. sory ya, lama gak nengokin”. “Huh!.. “ dengus si Fre karena kesal sebab si MC tersenyum nakal di parkiran seolah ikut meledeknya. “Kotor bos.. kayak kuburan tahun jebot” celetuk si MC usil. “Ya iyalaaah… situ kan sama Bos mulu, makanya kinclong” tukas si Fre sambil siap-siap melempar si MC pakai genteng. “Sudah sudah.. kamu jahil aja Til.. (sapaan mesra buat si Merah Centil)..”. Aku lantas menutupi si MC dengan sarungnya biar gak ngoceh ngeledek si Fre.

Lalu aku ke masuk ke dalam dan mengamati sambil termangu ruangan demi ruangan yang berdebu. Kuambil sapu.. lantas juga ku pel seisi ruangan.. sambil tetap diiringi tatapan jengkel si Fre. “tuh… bersih sekarang kamu say.. “ ujarku sambil mengerling ke Fre. Dia agak melotot.. dan berkata ketus.. “Iya, abis ini bos terus beol sambil ngerokok, kencing, mandi, dan pergi lagi kan.. enak amat!! Udah kayak PSK aja guwe..”

Ups.. aku gantian melotot ke si Fre.. “Ngaco amat ngomongmu say.. abis kesambet setan apa?!?” ujarku agak emosi. Fre terdiam.. matanya menatap kosong ke depan.. “Bos.. dulu saat nembak guwe, bukannya dah janji pengen bareng terus.. mana janjimu?” sambil melirikku hampa.. “Katanya April, batal.. Mei.. gagal.. sampai September nich.. gak usah jadi cowok PHP dah ma guwe bos.. “ lanjutnya mulai terisak.

Aku terhenyak.. ya aku punya janji sama cintaku yang satu ini. Perlahan aku beringsut memutari punggungnya.. dimana banyak rumput dan sampah di halaman belakang. Menghela nafas sejenak dan kupegang pundaknya.. “Fre.. maafin guwe ya.. guwe belum punya duit buat beliin baju buatmu.. jadi guwe lum bisa bareng.. masak iya loe telanjang gini.. apa kata orang nanti”. Fre menatapku tajam.. “Bos.. guwe tahu guwe yang terbaru buatmu.. tapi gak segininya kali.. masak guwe dianggurin lama banget. Sekali-kali ke sini bos.. tidur bareng guwe.. biar bos tahu gimana rasanya kedinginan.. kepanasan.. sendirian.. sakit tahu bos..”

Giliran guwe yang jadi melow.. Nyindir guwe kayaknya nih Fre..

“Ya udah, guwe cari pinjeman Fre, semoga di tahun ini kita bisa bareng terus..” rayuku. “Kalau ampe tahun depan gak bareng.. kita putus aja deh bos.. mending guwe cari pengganti bos.. talak tilu pokoknya mah..” ujar si Fre berapi-api. “Iye guwe janji.. “ sahutku sambil angkat jari victory.. Dia pun tersenyum.. “Ya udah, mandi gih bos.. cari cewek sana di gereja..” ledeknya. “Hemh.. gereja itu buat doa Fre, bukan cari cewek..” jelasku segera. “Alaaaah.. gak usah munak deh bos.. sapa yang lirak lirik anak Santa Clara kemaren??” sambil mendorongku ke dalam kamar mandi karena tahu aku pasti akan banyak nanya. Nih makhluk tahu dari mana ya.. kalau aku pernah ngelirik anak Santa Clara?? Jangan-jangan dia punya akun FB dan masuk anggota OMK Kristus Raja Serang juga.. Gawaaaaat.. Byuuuur.. guyuran air mendinginkan otakku yang makin panas. Aku janji akan segera bareng kamu Fre… daripada di talak tilu…

note : diikut sertakan dalam GA si ariesadhar.. yang bisa menggugahku untuk bisa menulis lagi setelah vakum kira-kira sebulan dan menelantarkan blog sederhana ini.

Akoe dan Penjual Mie Ayam..

Agustus 25, 2013 Tinggalkan komentar

Setelah puas menikmati libur lebaran dan kehangatan keluarga, akhirnya tiba saat untuk kembali ke tanah Banten guna mengais rejeki dan berkumpul dengan rekan-rekan di pabrik.  Kala itu kupilih waktu “balik” di H+4 sehingga sebenarnya agak riskan karena akan berhadapan dengan pemudik lain yang kabarnya juga akan memadati jalanan sepanjang Sumatera-Jawa. Tapi akal lain kupilih dengan pulang di siang bolong dengan harapan tidak ada pemudik lain utamanya pemotor yang juga memilih waktu yang sama. Yap.. jam 13.30 dua motor Vario melaju membelah Jalan Lintas Timur Sumatera menuju Bakauheni. Satu tentunya si Merah Centil yang masih berani mudik tanpa boncengan hehehe.. yang satunya Om Yoghie dan Om Kris.. yang kebetulan balik di hari yang sama, Minggu itu, karena Senin kami bertiga sama-sama masuk kerja..

Pemirsa.. ternyata pilihan waktunya tepat.. Jalanan begitu sepi sampai kalau mau zigzag juga aman dech. Aroma “balik” baru terasa di pelabuhan Bakauheni ketika antri mau masuk kapal.. bersama pemudik bermotor lainnya.. Aaaah, gak seru nih.. di kapal juga tidak begitu padat..

ngantri = narsis

ngantri = narsis

Setelah menikmati perjalanan menyeberangi Selat Sunda selama 3 jam, mendaratlah kami di tanah Jawa tepatnya di pelabuhan Merak. Yea.. selepas Maghrib ternyata dan kedua Vario pun melaju kembali membelah jalanan Merak-Jakarta yang padat tapi lancar. Sempat saling mencari di jalanan, kedua motor pun bertemu kembali tepat di depan Kawasan Industri Modern Cikande untuk melepas lelah sesaat.. sembari menikmati seduhan kopi di sebuah warung mie ayam yang nyaris tutup hingga akhirnya si penjual mie mempersilakan kami pindah meja karena akan membereskan lapaknya.

Setelah berpindah, kami bertiga masih melanjutkan ngobrol sambil ketawa ketiwi sampai sesosok tubuh nimbrung di tengah obrolan. O’o.. ternyata si bapak penjual mie ayam yang tadi.. Monggo.. monggo pak.. Si bapak yang juga perantau berasal dari Jogja tepatnya di sekitar keraton. Weeew.. jadi inget Jogja..

Tanpa ada mendung, petir, dan gerimis.. nih bapak malah bercerita tentang masa lalunya hingga sekarang. Hemh.. menyimak dech.. beliau lancar bercerita seolah curah hujan di bulan Januari kekekekek.. Dari awalnya seorang TNI hingga berjualan asongan.. sampai sekarang memiliki bisnis mie ayam dengan omset ratusan juta per bulan. Isteri baru tiga, rukun sejahtera ujarnya, dan anak ada yang sudah jadi dokter.. Mendengar kata dokter tentu membuatku dan Mas Kris terbayang satu sosok mungil mantan kami berdua yang juga seorang dokter dan sekarang tinggal bersama suaminya di tanah Papua.

Sahabat.. tentu tak pernah kusangka sebegitu dahsyatnya perjalanan hidup si Bapak meski aku tak tahu benar atau tidaknya. Begitu terbuainya kami bertiga sehingga di akhir percakapan.. kusempatkan untuk bertanya tips menjalani wirausaha sepertinya.. Dan ada tiga hal yang menjadi pesan si bapak..

Pertama.. Niat..

Biasanya orang terbuai dengan pekerjaan dan jabatan yang sedang diembannya tanpa menyadari bahwa dia bisa “lebih” dari pencapaiannya sekarang. Akhirnya bingung.. mau ngapain? Mau usaha apa? Setelah sadar bahwa jika menjadi karyawan atau pegawai ya akan segitu-gitu aja pendapatannya. Istilah kate sudah mentok dan ketaker. Perlu NIAT yang sungguh untuk berpikir di luar kotak.. menciptakan pemasukan lain ke dalam koceknya.

Kedua.. KIAT..

Kalau sudah ada niat.. tidak cukup hanya segepok uang lho.. Harus ada rencana dan pelaksanaan matang dalam menjalankan NIAT itu..  Ada KIAT – KIAT yang harus diterapkan.. Mulai dengan observasi lapangan alias pengamatan., jeli membidik dan memanfaatkan peluang, dan menjalin kerjasama yang apik dengan konsumen kita.. Tak lupa mewaspadai pergerakan pasar serta menciptakan inovasi dalam usaha yang kita rintis.. Misal si bapak yang mulai membuka outlet-outlet cabang dan tetap memantau kerjaan dan kualitas dagangan anak buahnya..

Ketiga.. SEMANGAT..

Tak hanya SEMANGAT dalam menekuni usaha yang dibuka.. tetapi juga semangat BERDOA dan BERSEDEKAH.. Sebab hanya Dia-lah yang menentukan kelancaran usaha kita itu.

Hemh.. perjalanan harus dilanjutkan.. dan kamipun berpamitan dengan si bapak. Entah di benak Om Yogi dan Mas Kris, tetapi NIAT belum tumbuh jua di benakku malam itu.. sampai ketikan terakhirku di coretan kali ini.. Semoga nanti akan ada..

Kategori:Akoe dan....

Akoe dan Gadis Penikmat Kereta

Malam mulai beranjak.. Ramadhan kali ini sungguh terasa di kawasan industri tempatku bekerja. Lantunan suara-suara penyeru Allah dari masjid-masjid sekitar pabrik terdengar bersahutan. Ya, meski tidak merayakannya, tetapi aku tetap larut dalam persiapan kaum muslim menyongsong hari nan fitri beberapa puluh hari ke depan.

Aku tentu saja masih menikmati detik-detik menjelang kepulangan kerjaku hari ini di ruangan. Bersama si Aspire yang kemaren ngadat lagi dan sekarang cepat panas suhu tubuhnya. Sabar to say.. apa mau aku guyur pake larutan panas dalam dari line agar panas tubuhmu reda? Hehehe.. Aduh! Lirikan mata satumu tampak marah.. Weits.. sabaaar..

Entah kenapa tiba tiba aku teringat sosok gadis.. yang mana saat pantat teposku masih duduk di kursi ruangan, pantatnya pasti masih beradu dengan pantat orang lain jika tidak kebagian tempat duduk atau terpaksa berhimpitan di tempat duduk yang sempit dan mungkin keras.. di KERETA.. Uftt.. atau kupastikan dulu via SMS ya? Jangan-jangan dia sedang berlari-lari mengejar gerbong atau masih antri menunggu kereta yang kata Bang Iwan Fals “terlambat sudah biasa”. Baca selanjutnya…

Akoe dan Sahabat.. ibarat secangkir kopi jahe hangat..

Mei 5, 2013 2 komentar

Malam merangkak.. coretan kali ini memang masih berkaitan dengan coretan sebelumnya saat mendapat kesempatan untuk singgah di kota Malang di sela dinas luarku. Dalam perjalanan menuju kotanya Aremania tersebut aku lantas memiliki ide untuk menghubungi satu sahabat karib yang kebetulan berdomisili di sana meski bekerja di Surabaya. Siapa dia? Cowok pastinya.. sebab kalau cewek takut jadi gosip kan bukan muhrimnya hehehe.. Yap dia adalah mas bro Antonius Ladoangin aka Dolphin aka Niush Item eh Niush Gede. Ya, karena dulu satu kelas bareng saat kuliah di Jogja dan bernama panggilan sama maka dibedakan menjadi Niush Kecil untukku dan Niush Gede untuknya meski seringnya dipanggil Niush Item (tambah manis juga boleh..). Sosok yang kusegani karena kecerdasannya, kecakapannya dalam bergaul, kejujuran dan ketulusannya, serta ciri khasnya memanggilku “cilek” alias si kecil dalam logat Adonara plus Jawa yang ngangenin. Nih dia wujudnya.. Manis kan? Meski kalau kami berdua bertemu maka ibarat lubang sama kuncinya.. Klop!! Klop usil dan jahatnya hahahaha..

..kalau dua Niush bertemu..

..kalau dua Niush bertemu..

Baca selanjutnya…