Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan Pak Bu Bos.. Belajar Membangun dan Merawat Jembatan..

Akoe dan Pak Bu Bos.. Belajar Membangun dan Merawat Jembatan..

Sabtu Minggu kembali tiba… tapi seperti biasa Jumat petang masih nongkrong di pabrik tercinta. Aku teringat akan pengalaman weekend beberapa minggu lalu.. tatkala kembali harus ku takjub untuk kesekian kalinya terhadap Pak dan Bu Bos. Masih ingat siapa mereka? Ya.. kedua guru SD pujaanku.. Kali ini aku belajar bagaimana untuk membangun dan merawat jembatan..

Apa?? Jembatan?? Pakai kayu? Pakai Beton? Pakai Baja? BUKAAAAAN.. Tapi pakai kasih bin cinta..

Hemh.. bingung ya? begini ceritanya.. Suatu sore di awal November datang satu SMS dari Bu Bos tersayang yang mengabariku akan seseorang di masa laluku yang sedang menderita sakit. Om Jamari.. atau O’ Ai demikian kupanggil beliau saat ku kecil.  Om Jamari dulu adalah pemuda yang tinggal bersama bapak ibu di satu sudut desa kecil Srikaton (yang sekarang sudah menjadi hutan lindung) di propinsi Lampung, tanah kelahiranku. Pria gagah yang mirip dengan aktor Herman Felani itu sekarang terbaring tidak berdaya karena Parkinson yang dideritanya. Bu Bos mengajakku untuk meluangkan waktu menjenguknya di daerah Gedung Aji yang kira-kira 6 jam perjalanan dari rumahku di Lampung. Aku sontak mengiyakan dan mengatur jadwal agar bisa FREE di weekend, meski akhirnya tetap juga curi-curi waktu urus kerjaan saat hari “H”, dan bersama bapak ibu menyambangi O’ Ai yang dulu dengan telaten ikut mengasuhku.

Akhirnya di pertengahan November aku pulang ke Lampung, menjelang pagi mendarat di rumah, lantas beristirahat sejenak dan setelah Pak dan Bu Bos pulang dari kampus (baca : SD), kami pun meluncur ke TKP. Cuaca cerah kala itu sehingga jalan berliku dan sempit pun tidak terasa hingga mulai memasuki daerah Gedung Aji Baru dimana jalanan mulai jueleeeek dan bergelombang dahsyat. Daerah yang dikenal dengan daerah transmigrasi, dimana sebenarnya Bapak dulu mendapat satu jatah, namun karena Ibu menolak maka lantas dijual kepada orang lain.

hemh.. ini bagian awal.. selanjutnya lebih parah..

hemh.. ini bagian awal.. selanjutnya lebih parah..

Setelah bertanya kanan kiri.. sampailah kami di rumah O’ Ai.. ada sosok pemuda gagah yang menyambut, itu Heri anak sulungnya yang putus sekolah karena mengurus ayahnya yang tergolek tak berdaya di ruang tengah. Ada pula Bulik Minem isteri O’ Ai yang menyambut kami dengan kaget sukacita sebab sebenarnya Desember kami baru akan mengunjungi keluarga ini. Anak bungsu mereka tidak di rumah karena sedang menempuh pendidikan lanjutan pertama di Metro, satu daerah di Lampung juga.

Dan.. seperti tertulis sebelumnya.. di ruang tengah terbaring lemah sosok O’ Ai yang meski aku sudah lupa rupanya, namun tampak kurus kering dan rapuh. Dia begitu kurus.. tidak terlukis lagi bagaimana saat mudanya si pemuda jago volley nan pendiam ini begitu tampan dan gagah sehingga semua gadis desa menyukainya. Bahkan jika akan pertandingan, banyak yang mampir ke rumah pura-pura mau momong aku padahal menunggu si tampan keluar untuk bertanding (kalau sekarang namanya MODUS). Bahkan tak jarang mereka belajar bersama sampai senja datang.. hanya agar selalu dekat dengan pemuda yang waktu itu kalau semua yang naksir dipacari, jika dibariskan bisa setengah kilometer panjangnya.. (wedeeeew..).

..kala O' Ai berdiri..

..kala O’ Ai berdiri..

Om Jamari.. yang merupakan ketua perkumpulan petani sawit dan karet, pernah bekerja pula di Malaysia, nampak tak kuasa menahan tangis dan tawa begitu tahu Pak dan Bu Bos datang. Begitu juga saat aku memanggilnya.. “O’ Ai.. “. Meski tidak sanggup berkata-kata dan hanya batuk yang diperdengarkan.. tapi Ia tau si kecil yang selalu menarik celananya saat Ia akan mencari rumput untuk pakan ternak kami, sekarang ada di sampingnya.. setelah puluhan tahun tidak berjumpa. Kami melepas kangen, nginep di sana, dan sebelum pulang berfoto bersama O’ Ai sekeluarga. Tetap semangat dan cepat sembuh O’Ai sayang.. Meski dokter sudah memvonis buruk untukmu.. semoga ada keajaiban..

..dua keluarga tanpa si bungsu..

..dua keluarga tanpa si bungsu..

Cukup? Itu aja… tidak sahabat.. Selain O’ Ai, Pak dan Bu Boz mengajakku berkeliling.. ke tempat Budhe Warsih yang baru naik haji, ke tempat Mbokde Yatmi yang dulu sering menggendongku.. Lik Yadi yang dulu tetanggaku.. dan terakhir ke tempat Mbak Suliyem yang juga mengasuhku kala bapak ibu sekolah. Dia yang sayur beningnya paling lezaaaat sedunia… kata Ibu sih, soalnya aku sudah lupa. Menurutku yang paling enak ya masakan Ibu.. lezat, bersih, gratis, dan penuh cinta..

Sahabat.. beberapa orang masih kami sambangi dalam perjalanan dua hari satu malam itu. Hingga saat Minggu sore aku melesat ke Serang, di tepi kapal Ro-Ro Nusa Bahagia, sambil menatap lautan air di Selat Sunda, aku baru menyadari betapa aku harus berterima kasih pada Pak dan Bu Bos. Mereka menjadi teladanku bagaimana untuk memiliki banyak teman, menjadikannya keluarga, tanpa pilih kasih, dan sekaligus bagaimana merawat hubungan kekeluargaan itu selama-lamanya.. Jembatan yang kumaksud adalah tali persaudaraan yang ditebarkan oleh kedua pujaanku itu.. tanpa pandang status, kekayaan, dan agama.. Terima kasih Pak dan Bu Bos..

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: