Beranda > PLUS plus > Lima Pelajaran Seorang Pekerja dari MACET..

Lima Pelajaran Seorang Pekerja dari MACET..

Lima deretan huruf di akhir judul coretan kali ini sungguh menjadi lawan sekaligus teman setia perjalanan menuju tempat kerja bahkan saat pulang menuju rumah tercinta. Ya.. jalanan sepanjang Serang – Cikande demikian akrab dengan kemacetan di berbagai titik. Bila dari Ciruas, bisa dijumpai mulai dari Pasar Kalodran – Pasar Ciruas – Pabrik Woojin – Perempatan Sentul – Pasar Kragilan – Jembatan Kragilan – Perempatan Selikur – Terowongan Tambak – Pasar Tambak – Kawasan Nikomas – Pertigaan Gorda – Pabrik Pongwan atawa ParkLand – hingga ngos-ngosan tiba di Kawasan Industri Modern lanjut Kawasan Industri Pancatama tempat pabrikku berada.  Yang jelas harus sabar dan penuh perhitungan (meski sering meleset) untuk hari-hari tertentu yang menjadi hari pasar di beberapa titik yang diawali dengan kata “pasar” yang kusebutkan di atas.

Kenapa jadi lawan? Jelas dong.. apalagi jika bangun kesiangan atau dinas luar yang melewati titik-titik di atas. Alhasil harus berjibaku melewati tanjakan di Ondar-Andir menyusuri sisi tol, melipir di Selikur sampai Kibin dan keluar di sekitar pabrik Timas, atau masuk Cijeruk untuk lewat pasar Tambak dari belakang atau justru bablas terus melewati area pembuangan limbah yang tembus kawasan Modern. Akhirnya jarak tempuh normal yang bisa dicapai setengah sampai seperempat jam bisa molor sampai dua hingga tiga jam.. alamaaaak. Saat-saat itulah ketahanan selama 2,5 tahun di pabrik diuji dengan sangat (godaan untuk pindah pabrik maksudnya).

Nah.. kapan dong menjadi kawan? Pertama, saat kantuk melanda karena berangkat subuh atau pulang terlalu larut dari pabrik. Apalagi sekarang single fighter saat isteri tercinta memutuskan (setelah konferensi karpet hijau) untuk berhenti kerja. Biasanya saat boncengan tidak terasa tuh yang namanya macet.. Hehhehe.. Kedua, dari macet banyak sekali pelajaran yang bisa kupetik. Haiyaaah.. belajar kok dari macet, belajar apa bro..

Satu : Kekompakan (meski negatif)

Macet di jalanan Serang – Jakarta ini ada berbagai penyebabnya.. Diawali dari ketidakpatuhan dan ketidaksabaran pengemudi baik pemotor atau sopir angkot. Tak jarang kedua jenis pengemudi tersebut memenuhi badan jalan yang kosong sehingga bertumbukan dengan pengemudi dari arah yang sama sehingga langsung BLUB! Macet total sepanjang detik berganti jam.. Penyebab berikutnya adalah ulah oknum angkot yang kompak untuk membuat situasi macet dengan ngetem sembarangan, berhenti sembarangan, kencing sembarangan (pengemudinya), hingga ada yang bahu membahu menciptakan kemacetan. Ini yang aku sebut KOMPAK.. dimana beberapa angkot kosong akan berputar arah sehingga menghalangi pengemudi lain yang mengakibatkan terpancingnya hasrat untuk mengambil badan jalan yang berlawanan arah. Ujungnya ya pasti MACET!

Dan karena berasaskan sesama pengemudi angkot, maka dengan sesukanya meminta penumpang turun, lalu si penumpang berjalan kaki berpindah angkot, jalan sebentar si angkot eeeh macet lagi, turun lagi dan pindah angkot demi mengejar waktu agar sampai di pabrik sebelum bel tanda mulai kerja berbunyi. Siapa penumpang itu? Ya para BURUH.. yang dengan bermandi peluh dan keringat turun ke jalan meminta kenaikan upah, eeeh.. upah yang naik sebagai PENYESUAIAN (catat!) atas kenaikan barang-barang di sekitar mereka itupun dirampok oleh para pengemudi angkot karena mereka harus berulang kali bayar angkot. Beuh! Ini yang perlu didemo gaes.. gak Cuma demo ke kantor pemerintah aja.. Lama-lama demo angkot to angkot aja deh.. (kayak door to door getchu).. KOMPAK yang kebangetan.. setidaknya pelajaran di sini adalah bagaimana untuk kompak dalam senasib sepenanggungan meski aplikasinya salah kaprah bin kampret.

Dua : Jika Tidak Waspada.. Maka Tidak Semua Niat Baik Berujung Kebaikan

Sering ada pameo bahwa dengan berbuat baik maka akan beroleh kebaikan. Ternyata tidak selamanya benar, buktinya ya di bumi Serang ini. Bagaimana tidak? Melihat kapasitas jalan yang tidak seimbang dengan penggunanya, pemerintah Serang kemudian melebarkan jalan. Niatnya baik nan mulia.. namun karena kurangnya edukasi dan sosialisasi serta ketegasan oleh aparatur pemerintah maka.. jalanan yang sudah luas malah menjadi lapak jualan baru bagi sebagian pelaku pasar kaget. Nggak GRATIS pula karena juga dipungut bayaran oleh oknum tertentu. Hasilnya justru niat baik untuk memperlancar lalu lintas malah menambah peliknya kemacetan karena di sisi kanan kiri jalan sudah duduk manis para penjual dagangan mulai dari jagung, kelapa, pisang, ketela, pete, jengkol, dan lain sebagainya. Berani senggol? Antara Bayar atau Bacok deh kayaknya.. So, hati-hati saat berniat dan berbuat baik, belum tentu akan berujung kebaikan (jadi inget kisah kepompong yang disobek agar si kupu bisa keluar lebih cepat.. hasilnya kepakan sayap si kupu-kupu pun letoy..)

Tiga : Belajar Strategi dan Pengorbanan

Hemh.. ini agak ironis, karena dengan mempelajari tren macet  maka kita bisa mengasah strategi dalam menghindarinya. Meski kadang perlu berangkat lebih pagi (strategi menyerang), agak siang dengan tarikan gas kendaraan lebih kencang (strategi ball possesion), atau pulang larut tanpa ada lembur (defence strategy). Namun harus siap berkorban pastinya jika strategi itu melempem di jalanan karena berbagai hal mulai dari pecah ban, sedikit kecelakaan, atau hujan menyapa tiba-tiba (pengalaman ini bro). Tetapi yang jelas otak para pekerja yang terjebak macet akan lebih bekerja meski kadang digunakan untuk berbohong jika akhirnya terlambat masuk kerja (yang ini juga pengalamanmu kan? Iyaa.. kamuuu.. #gayasiDodit)

Empat : Menghadapi Macet Laksana Situasi Kerja

Pernah suatu ketika macet di Pasar Tambak, di sampingku ada seorang bapak-bapak  yang memboncengkan wanita tua dan anak laki-laki, kemungkinan mereka satu keluarga. Mengisi waktu luang (ups…) selama macet, kami mengobrol dan kebetulan tujuan mereka dekat rumahku. Wah, ternyata andai macet ini seperti macetnya karir atau situasi kita dalam kerja, banyak sekali pelajaran yang kudapatkan. Mau tahu? Saat kutawarkan agar si anak pindah ke motorku, si bapak langsung menolak. Pelajaran pertama adalah jangan mudah percaya pada orang yang baru dikenal. Si bapak mengatakan bahwa macet itu biasa, tinggal berani nyelap-nyelip atau melawan arus tidak? Belum tentu juga akan berhasil karena bisa jadi tabrakan dengan pengemudi lain, ketemu macet lagi di depan, atau PLETOK! Dipentung pak Polisi. Pelajaran kedua ambil risiko meski perlu keberanian tanpa tahu apa yang akan kita hadapi di depannya. Si bapak juga mengatakan banyak jalan alternatif yang bisa diambil meski kadang karena sudah banyak yang tahu maka bakal macet juga. Tinggal keberuntungan kita saja siapa tahu jalan alternatifnya sedang sepi peminat. Pelajaran ketiga, BACA PELUANG.. jika tidak memungkinkan selalu di jalan yang sama (baca : tempat kerja) untuk sampai tujuan, maka pindah jalan saja (tahu kan harus dibaca apa?).

Lima : Belajar SABAR..

Kali ini tak banyak penjelasan lah.. pasti harus sabar dalam menghadapi macet. Karena semua indah pada waktunya kalau kita mau bersabar. Kalau belum indah juga? Ya sabar aja terus..

Well.. mata mulai meredup, liga Champion di hari Imlek sudah akan dimulai. Selamat Imlek bagi yang merayakan, semoga mendapat banyak keberkahan. Dan.. semoga macet pun bisa dinikmati sebagai berkah melimpah ruah.. karena masih banyak pelajaran yang bisa dipetik darinya.

Iklan
  1. April 19, 2015 pukul 3:34 PM

    Saya suka dengan tulisan sampean,, sudah berapa lama bergelut di dunia tulis-menulis, boleh share tentan menulis ??? terimakasih untuk membaca comment saya ini,,

    • Juli 5, 2015 pukul 1:16 AM

      saya menulis apa kadarnya mbak.. Sampean anak Nikomas? Cah Purwodadi?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: