Beranda > PLUS plus > Balada Buruh dan MEA..

Balada Buruh dan MEA..

Masih kuingat seminggu yang lalu.. ketika undangan lokakarya dari Forum Pendamping Buruh Nasional menggelitikku untuk menyatroni Wisma Samadi di Klender. Tentu saja aku nggak sendiri, kami berempat mewakili Paguyuban Pekerja Katolik Cikande. Aku, isteriku, dan Suster Anas.. loh.. satunya siapa? Aaah.. tentunya si debay di janin isteriku. Hemh.. semoga tambah cerdas kamu ya naaak.. masih dikandung badan sudah diajak belajar tentang masalah orang dewasa. Pendek kata di tengah gerimis hujan, kami berempat mendarat juga dari Blue Bird Air ke pelataran salah satu rumah retret di sudut ibukota negara ini. Brrrrr… adem tenan.. namun langsung terbayarkan dengan keasrian Wisma Samadi dan kerennya kamar untuk menginapnya.. standar hotel bingits..

salah satu sudut Wisma Samadi Klender

salah satu sudut Wisma Samadi Klender

Lokakarya kali ini mengangkat tema ”Menyiapkan Buruh Menghadapi Pasar Bebas Asia Dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)”. Pesertanya lumayan banyak mulai dari Palembang, Lampung, Bogor, Bekasi, Tangerang, Jakarta, Serang, hingga Banten. Kami sebagai peserta berasal dari beragam perkumpulan, mulai dari serikat buruh, aliansi serikat buruh, atau paguyuban pekerja keagamaan. Rasanya diriku mengecil sampai seukuran semut jika berhadapan dengan mereka-mereka yang sudah malang melintang dalam aktivitas perburuhan. Ups.. karena keyboard sudah menunggu, biarlah ku membesar lagi ya..

Speaker kali ini tidak main-main.. ada Mas Wiko Saputra, seorang peneliti Kebijakan Ekonomi dari Perkumpulan Prakarsa. Beliau mengangkat topik Penyelenggaraan Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Dampak Liberalisasinya. Ya ampyuun.. otak langsung cenut-cenut minta boboan aja di kamar (untungnya belum dapat kunci kamar waktu itu..). Mas Wiko menekankan bahwa buruh harus belajar mengenai suku bunga, inflasi, pembuatan Perjanjian Kerja Bersama selain hanya mengutak atik komponen hidup layak. Kenapa? Karena kenaikan UMR tidak lebih sebagai penyesuaian saja terhadap penurunan inflasi dan kenaikan suku bunga yang menjadi efek domino kenaikan harga sembako hingga angsuran KPR. Nah loh.. meski di Bekasi UMR-nya tembus sampai 2,9 juta dan Serang 2,7 juta.. tetep akan gigit jari wong semua yang bernilai materi di sekitar kita akan naik secara serentak dan maju tak gentar.. hehehe..

Masih dengan Mas Wiko, terungkap bahwa tahun 2015 ini akan berlaku pasar bebas ASEAN dan kesepakatan antar negara ASEAN yang tergabung dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. Ternyata oh ternyata.. beberapa sektor akan terancam untuk diinvasi oleh produk bahkan tenaga kerja dari negara tetangga. Weeh apa aja? Banyak.. Pariwisata, Kesehatan, Jasa, Pertanian, dan sebagainya.. Bisa-bisa makan tempe dari Thailand atau Gudeg Myanmar doong.. Ya! Benar.. Harus ada proteksi berupa Standar Nasional Indonesia yang baku dan terstruktur guna memfilter apa saja yang layak masuk ke negeri tercinta ini. Kita terlalu dininabobokan dengan lagu Koes Plus yang bilang bahwa tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi makanan.. Sehingga terlena dan tidak sadar bahwa yang lain sudah bersiap untuk membombardir area “dapur” kita. Ssst.. di Vietnam sudah mulai dimasukkan Bahasa Indonesia dalam kurikulum pendidikannya sejak 5 tahun yang lalu. Bangga? Boleeeh… tapi awas kalau nanti tetanggamu adalah orang Vietnam dengan etos kerja lebih tinggi, mobil lebih bagus, dan gaji lebih dahsyaat. Nah kita.. kenal MEA aja baru sekarang.. katrok tenaaaan..

Lepas dari Mas Wiko yang membuat hatiku tercengang.. hadir pembicara kedua yaitu Pak Martin Sirait.. seorang dosen Unika Atmajaya yang lumayan kesohor di Indonesia. Beliau membawakan topik Implikasi MEA Terhadap Kesejahteraan Buruh dan Keluarga. Namanya juga dosen dan peneliti.. data-data yang sempat membuat otakku kali ini pura-pura kebelet pipis.. mau tidak mau harus diakui mendeskripsikan bahwa kita bangsa Indonesia khususnya para buruh akan terancam. Sekarang? LAWAN!! TABOK!! Eh.. belum.. belum sekarang imbasnya. Pak Martin menekankan pada empat komponen MEA yaitu satu pasar tunggal berbasis industri, ekonomi yang berdaya saing, pembangunan ekonomi merata, dan interaksi ekonomi global. Ehhm.. mumet dan pecas ndahe brooo..

Pak Martin secara sederhana mengungkapkan tiga hal yang harus disadari akan segera terjadi secara masif dan sporadis.. yaitu pergerakan barang antar negara tanpa cukai, pergerakan modal dan investasi, serta.. transfer pemain bola.. eh pekerja terampil. Nah, sebelas duabelas dengan Mas Wiko, bapak satu ini mengingatkan agar WASPADALAH! WASPADALAH!.. tentu pemerintah tidak tinggal diam, tetapi kita pribadi juga harus bersiap. Jangan sampai jadi PENONTON di rumah sendiri (kalau di rumah orang lain tar dikemplang bro..). Setiap buruh harus meningkatkan kompetensinya, bahkan kalau perlu kursus bahasa asing.. bukan tidak nasionalis, tetapi akan lebih baik jika kita menjadi pribadi yang unggul dari yang lainnya bukan? Menguasai bahasa asing bisa membuat kita mudah bergaul dalam era pasar bebas utamanya dengan mereka-mereka dari negara tetangga. Siapa tahu bisa kenal baik dengan investor dan dapat suntikan KB eh suntikan dana buat buka usaha.. CAIR bukan??

Istirahat dulu ya Bro..  mau semaput nulis ginian.. hahahaha..

Nah, Mas Wiko dan Pak Martin dibungkus manis oleh Mas Tono (materinya maksudnya). Mamas bertahi lalat khas yang juga seorang pendidik ini menggiring kami para peserta untuk berinteraksi satu sama lain dalam group-group kecil untuk mengidentifikasi keunggulan, kelemahan, peluang, dan ancaman atau kerennya analisa SWOT terhadap adanya MEA ini. Namanya peserta dari berbagai bidang, ada yang MEA-nya dibahas, ada yang dirinya sendiri di SWOT, bahkan selingkuhannya.. hahaha bohong ding! Bungkusan kedua mas Tono adalah menentukan sektor-sektor yang terancam dan bagaimana proteksinya. Lebih lanjut dibahas pula tentang siapa saja yang akan dijadikan mitra untuk menghadapi si nona MEA ini. Tentu saja FPBN laaaaah.. mitra terbaik untuk para buruh (promosi yo ben).

Yeach.. acara dari Sabtu pagi pun selesai di Minggu siang.. kali ini giliran dua bidadari cantik Mbak Liest dan Mbak Yuli yang mengeksekusinya. Tidak perlu takut sebenarnya.. yang terpenting adalah menangkapnya sebagai sebuah peluang untuk kita juga berkembang.. mana tahu bisa pula mengais rejeki di negeri orang. Atau mengembangkan industri yang sudah ada dengan lebih kreatif dan berdaya saing tinggi. Sebagai buruh.. ya menurut saya harus NGACA!! Teliti dan gali apa yang jadi kelemahan dan keunggulan kita. Harus buka jendela dan pintu agar wawasan semakin terbuka lebar dan serap semua informasi yang ada. Sayonara! Terima kasih FPBN.. semoga bisa di follow up sampai ke akar rumput.. 600-an orang di pabrikku bahkan ribuan di Serang rasanya juga belum ngarti apa itu MEA.. yang tahu malah MEONG..

Berkah dalem..

Datanglah MEA.. kami akan bersiap..

Datanglah MEA.. kami akan bersiap..

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. Mei 3, 2016 pukul 12:25 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: