Beranda > PLUS plus > Telanjanglah.. Kamu Pasti Bisa..

Telanjanglah.. Kamu Pasti Bisa..

Sejenak jemari terhenti ketika judul untuk coretan kedua di bulan ini selesai diketik. Mau nulis opo?? Trus srupppuuuut.. minum segelas air dulu.  Bukan karena penat setelah seharian audit.. Pun juga gemas karena malam Jumat belum bisa pulang cepat (sampai di mess juga gigit-gigit bantal doang). Rupanya jemari dan otak tidak selincah waktu-waktu kemarin untuk mengisi coretan di blog ini. Akhirnya ya kebanyakan cuma berisi spam.. Andai judulnya bisa kuganti gambar.. mungkin akan lebih mantab dan mikirnya cepet.. hahaha.. Tapi inilah aku, menulis ya saat mau dan sedang kepengen nulis bin nyoret..

Kata “Telanjang” terakhir kali kuperdengarkan di depan umum saat meeting dengan team produksi-ku di pabrik seminggu lalu. Waktu itu aku menantang mereka yang kurang berani, minder,  atau kurang percaya diri.. untuk meluangkan waktu berbugil ria di depan cermin dan memilih bagian mana dari tubuh mereka yang paling mereka suka. Hahaha.. gak usah bayangin punya kalian yang mungil atau belum disunat karena adat.. Atau kamu yang berdada rata bahkan masih pakai miniset.. Kalau gak percaya ya sekarang telanjang saja.. andai memang belum punya rasa percaya diri dalam menjalani detik demi detik hidupmu..

Kenapa?? Penting banget ya TELANJANG!!?? Ya penting.. kecuali mau niru mbak Audy si penyanyi yang hoby mandi tanpa buka baju.. tapi ujung-ujungnya saat ganti baju telanjang juga to??.. HEH!! Malah mbayangin Audy telanjang.. lanjut bro..

Saat telanjang.. dan mulai mengamati tubuh sendiri.. lalumelihat ada tahi lalat bahkan tompel di sana sini.. bahkan baru sadar kalau punya panu atau codet di beberapa sudut.. saat itulah kita akan tahu bahwa mungkin kita tidak sesempurna yang kita perkirakan.. atau justru lebih baik dari yang selama ini kita sesalkan. Yang pendek (kayak guwe), yang kerempeng (guwe juga), yang ganteng (bukan guwe.. guwe itu mempesona), yang seksi (calon isteri guwe.. Amin), dan yang lain sebagainya.. Semuanya akan terlihat jelas dengan nyata.. Lantas? pilih satu bagian dari seonggok dagingmu itu yang paling kamu suka..

mau penis? boleh.. mau payudara? woless.. mau mata? hayuuk… mau perut? okeee.. Pokoknya pilihlah  yang kamu sukai. Kemudian.. bicaralah kepada cermin, kenapa kamu menyukai bagian itu..

Selesai?? Terus percaya diri?? Belum..  Satu tahap berikutnya dengan metode  yang sama adalah memilih bagian yang tidak disukai.. dan kembali mengatakannya pada cermin yang pada saat itu pasti ada bayangan monyet.. eh.. bayangan dirimu sendiri. Khusus untuk yang tidak disuka, katakan dengan lantang dan katakan pula maunya yang kayak apa.. siapa tahu ada yang mau kepalanya lebih peyang atau hidungnya tambah pesek..

Nah.. komplit! Dalam hal ini kamu telah berhasil untuk menilai kelebihan dan kekurangan FISIKmu.. catet! Hanya fisik saja.. Namun satu langkah kecil ini telah membuatmu untuk : berani MENILAI, berkata JUJUR, mengakui KELEMAHAN, memiliki KEINGINAN, dan menyampaikan PENDAPAT. Itu adalah kunci dari menumbuhkan PERCAYA DIRI yang memang lebih baik muncul dari diri sendiri, bukan karena bareng-bareng (misal pas tawuran), atau lebih senior (pas ngospek siswa baru), baru dapet jimat, dan hal-hal lain di luar pribadi kita. Jika kepercayaan diri muncul karena pengaruh dari luar maka biasanya tidak akan kekal dan sementara. Saat berada jauh dari hal-hal yang membuat PeDe.. maka akan surut lagi deh..

Percaya Diri (PeDe) sungguh dimulai saat kita berani untuk menilai diri kita sendiri, secara jujur, baik kelemahan maupun kelebihan dan menyampaikan apa yang seharusnya. Setelah tahap TELANJANG tadi usai.. maka berikutnya kamu akan mampu untuk menilai kelemahan dan kekuranganmu dengan tetap berbusana.. baik dalam pekerjaan, pergaulan, masyarakat, keluarga, dan di setiap tempat dimana nafas kau hembuskan, semuanya dengan penuh kejujuran. Tanpa mengukur kelemahan dan kekuatan kita dan langsung bertindak, berucap, atau bersikap, maka itu namanya SPEKULASI, gegabah, atau justru berujung BUNUH DIRI. Tetapi sebaliknya jika mampu menilai dan menganalisa situasi, maka kita akan lebih tertata dalam menentukan setiap langkah selanjutnya.

Percaya Diri merupakan satu tahapan dimana kita berani untuk menghadapi segala sesuatu di hadapan kita bahkan saat segala bantuan dan sahabat kita perlahan beranjak pergi atau beralih sisi. Hal tersebut karena kita sudah mengukur kemampuan kita secara tepat. Ini juga dikatakan psikolog Miskell (1939) “Percaya diri adalah kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki, serta dapat memanfaatkannya secara tepat”.

Nah.. masih tidak PeDe? Berarti segera telanjang.. (bagi yang belum mandi maksudnya..) selamat malem Jumat yaa..

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: