Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan Penjual Mie Ayam..

Akoe dan Penjual Mie Ayam..

Setelah puas menikmati libur lebaran dan kehangatan keluarga, akhirnya tiba saat untuk kembali ke tanah Banten guna mengais rejeki dan berkumpul dengan rekan-rekan di pabrik.  Kala itu kupilih waktu “balik” di H+4 sehingga sebenarnya agak riskan karena akan berhadapan dengan pemudik lain yang kabarnya juga akan memadati jalanan sepanjang Sumatera-Jawa. Tapi akal lain kupilih dengan pulang di siang bolong dengan harapan tidak ada pemudik lain utamanya pemotor yang juga memilih waktu yang sama. Yap.. jam 13.30 dua motor Vario melaju membelah Jalan Lintas Timur Sumatera menuju Bakauheni. Satu tentunya si Merah Centil yang masih berani mudik tanpa boncengan hehehe.. yang satunya Om Yoghie dan Om Kris.. yang kebetulan balik di hari yang sama, Minggu itu, karena Senin kami bertiga sama-sama masuk kerja..

Pemirsa.. ternyata pilihan waktunya tepat.. Jalanan begitu sepi sampai kalau mau zigzag juga aman dech. Aroma “balik” baru terasa di pelabuhan Bakauheni ketika antri mau masuk kapal.. bersama pemudik bermotor lainnya.. Aaaah, gak seru nih.. di kapal juga tidak begitu padat..

ngantri = narsis

ngantri = narsis

Setelah menikmati perjalanan menyeberangi Selat Sunda selama 3 jam, mendaratlah kami di tanah Jawa tepatnya di pelabuhan Merak. Yea.. selepas Maghrib ternyata dan kedua Vario pun melaju kembali membelah jalanan Merak-Jakarta yang padat tapi lancar. Sempat saling mencari di jalanan, kedua motor pun bertemu kembali tepat di depan Kawasan Industri Modern Cikande untuk melepas lelah sesaat.. sembari menikmati seduhan kopi di sebuah warung mie ayam yang nyaris tutup hingga akhirnya si penjual mie mempersilakan kami pindah meja karena akan membereskan lapaknya.

Setelah berpindah, kami bertiga masih melanjutkan ngobrol sambil ketawa ketiwi sampai sesosok tubuh nimbrung di tengah obrolan. O’o.. ternyata si bapak penjual mie ayam yang tadi.. Monggo.. monggo pak.. Si bapak yang juga perantau berasal dari Jogja tepatnya di sekitar keraton. Weeew.. jadi inget Jogja..

Tanpa ada mendung, petir, dan gerimis.. nih bapak malah bercerita tentang masa lalunya hingga sekarang. Hemh.. menyimak dech.. beliau lancar bercerita seolah curah hujan di bulan Januari kekekekek.. Dari awalnya seorang TNI hingga berjualan asongan.. sampai sekarang memiliki bisnis mie ayam dengan omset ratusan juta per bulan. Isteri baru tiga, rukun sejahtera ujarnya, dan anak ada yang sudah jadi dokter.. Mendengar kata dokter tentu membuatku dan Mas Kris terbayang satu sosok mungil mantan kami berdua yang juga seorang dokter dan sekarang tinggal bersama suaminya di tanah Papua.

Sahabat.. tentu tak pernah kusangka sebegitu dahsyatnya perjalanan hidup si Bapak meski aku tak tahu benar atau tidaknya. Begitu terbuainya kami bertiga sehingga di akhir percakapan.. kusempatkan untuk bertanya tips menjalani wirausaha sepertinya.. Dan ada tiga hal yang menjadi pesan si bapak..

Pertama.. Niat..

Biasanya orang terbuai dengan pekerjaan dan jabatan yang sedang diembannya tanpa menyadari bahwa dia bisa “lebih” dari pencapaiannya sekarang. Akhirnya bingung.. mau ngapain? Mau usaha apa? Setelah sadar bahwa jika menjadi karyawan atau pegawai ya akan segitu-gitu aja pendapatannya. Istilah kate sudah mentok dan ketaker. Perlu NIAT yang sungguh untuk berpikir di luar kotak.. menciptakan pemasukan lain ke dalam koceknya.

Kedua.. KIAT..

Kalau sudah ada niat.. tidak cukup hanya segepok uang lho.. Harus ada rencana dan pelaksanaan matang dalam menjalankan NIAT itu..  Ada KIAT – KIAT yang harus diterapkan.. Mulai dengan observasi lapangan alias pengamatan., jeli membidik dan memanfaatkan peluang, dan menjalin kerjasama yang apik dengan konsumen kita.. Tak lupa mewaspadai pergerakan pasar serta menciptakan inovasi dalam usaha yang kita rintis.. Misal si bapak yang mulai membuka outlet-outlet cabang dan tetap memantau kerjaan dan kualitas dagangan anak buahnya..

Ketiga.. SEMANGAT..

Tak hanya SEMANGAT dalam menekuni usaha yang dibuka.. tetapi juga semangat BERDOA dan BERSEDEKAH.. Sebab hanya Dia-lah yang menentukan kelancaran usaha kita itu.

Hemh.. perjalanan harus dilanjutkan.. dan kamipun berpamitan dengan si bapak. Entah di benak Om Yogi dan Mas Kris, tetapi NIAT belum tumbuh jua di benakku malam itu.. sampai ketikan terakhirku di coretan kali ini.. Semoga nanti akan ada..

Iklan
Kategori:Akoe dan....
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: