Beranda > True Stories of Me > #5.. Ngintilan Lan Klayu..

#5.. Ngintilan Lan Klayu..

Barangkali ada yang mengerenyitkan kening saat membaca judul coretan kali ini. Yap.. dalam bahasa Indonesianya berarti apa ya? #garuk-garuk.. Pokoknya suka ikut bepergian dan mengintili eh mengekor. Itulah aku dulu.. sekarang sih kadang-kadang meski lebih sering dikintili dan diklayoni hahaha..

Tahun 90-an di desaku banyak sekali pemuda-pemudi yang merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Tak terkecuali dengan Om dan Bulik yang notabene adik-adik kandung Ibuku.. Ada si Nyah Ipit, Wek Wung, Om Bandot, dan Om Plenton.. Hemh, dan jaman dulu rasanya merantau itu sangat jauuuh karena komunikasi hanya via surat pos. Ketemu pun hanya beberapa kali dalam setahun dan sungguh berbeda dengan sekarang dimana bisa dipotong dengan perjalanan udara ataupun video call untuk tahu kabar dan kondisi saudara saat berjauhan. Minimal ya SMS, BBM, atau sekedar misscall biar ditelepon balik.. hahaha..

Ada saat-saat tertentu bagi empat perantau di atas untuk pulang ke rumah Mbah Kung dan Uti. Selain Natalan, Lebaran, Tahun Baru, ada juga hari-hari seperti ulang tahun desa dimana para perantau seolah punya janji untuk reuni dengan teman-temannya baik sesama perantau atau yang stay at village. Hemh.. rasanya kebiasaan itu sudah mulai memudar seiring modernisasi jaman dan mungkin daya jual dan pesona “ulang tahun desa” yang mungkin kalah pamor dengan gemerlapnya kota. Aku masih ingat bagaimana ulang tahun tetangga desa yaitu Sri Bhawono benar-benar menjadi agenda rutin para perantau, minimal jajanin bakso dan martabak buat saudara-saudarinya di rumah lah..

Aku lupa.. ada satu lagi yaitu liburan sekolah, dimana salah satu perantau pasti ada yang pulang. Kenapa? Karena ada satu anak kecil yang selalu menanti penuh harap di depan rumah (padahal gak ada kabar mau pulang via sms atau kentongan sekalipun). Atau si anak kecil itu tadi tiba-tiba terbangun pagi karena mendengar ada derit mobil berhenti di jalan besar yang jaraknya 100an meter dari ranjangnya. Meski gerimis atau dingin bukan kepalang, dia akan berlari kecil sampai depan rumahnya atau tak jarang ke arah jalan besar dan sering pula melangkah pulang dengan gontai bila ternyata hanya truk yang berhenti atau memang mobil penumpang tetapi bukan sosok yang diharapkannya. Ah.. dia benar-benar sok paham bahwa empat perantau pujaannya itu selalu datang pagi-pagi buta. Kadang terisak dia di kamar atau menghambur ke pelukan bapak ibunya sambil berkata masygul..

“Tak kiro Om opo Bulik kundur..”

(sumpah nangis juga sekarang diriku..)

Ya.. anak kecil itu aku, puluhan tahun yang lalu. Berawal dari diajak saat liburan ke Jakarta oleh Bulik dan Om, tak dinyana aku ketagihan dan seolah kecanduan untuk ngintil dan klayu setiap kali mereka mudik. Bahkan saking sudah kulina, tak jarang aku berani ikut meski tidak sedang libur sekolah. Jadi aku akan ikut berangkat ke Jakarta di Minggu sore, jalan-jalan setelah Om atau Bulik pulang kerja, lalu setelah pengen pulang akan diantar sampai terminal bis ke arah Merak dan sendiri menyeberang ke Lampung dan ngangkot ke Sri Pendowo alias Cuguk dimana Bapak Ibu menunggu. Apes pernah saat suatu ketika klayu dan ternyata ada pemilihan siswa siswi teladan tingkat SD sehingga kesempatanku berlomba hilang, Pak Bos sempat marah waktu itu dan aku njiper juga, tapi ya lanjut teruuus.. Om atau Bulik mudik? Ya tetep ngintiiil.. catatan: hal ini aku lakukan sejak kelas 4 SD sampai SMA.

Asyik juga mengenang saat itu.. menikmati nginep tempat Nyah Ipit di Reni Jaya sampai hampir sebulan dan hampir sunat di tempat karena sepedaku nabrak angkot dan kantong menyanku lecet hahaha.. Menikmati berbagai kontrakan Om Bandot dari mulai yang tingkat, yang umpel-umpelan, yang deket pacarnya, dan lain sebagainya. Mengikuti jadwal les Wek Wung di sela kesibukannya mengajar dan jalan-jalan tralala.. Nah kalau ama Om Plenton lebih sering diajak kumpul sama Om Ketu, Om Kino, Om Partu, Mas Ucok, Bulik Dyah, dll utamanya dikenalin makanan PECEL LELE dan WARTEG untuk pertama kali dalam hidupku di sekitar Pondok Bambu.. Ssst.. juga mulai tahu yang namanya cewek cantik (kalau gak salah namanya Mbak DEWI) di dekat kontrakan mereka.

Hemh.. makin netes aja air mata ini.. wis aaah..

Sahabat.. kebiasaanku di atas ternyata menular ke adik semata wayangku, yah generasi berikutnya. Hanya hebatnya dia bisa start dari rumah dan finish di rumah sendirian saja meski sama sepertiku kadang NANGIS juga di jalan.. hihihi.. Ups nular juga ke sepupuku si gadis Arab yang pengennya ngikut aja kemana masnya jalan-jalan.. siiip!

Pak Boz, Bu Boz, Om dan Bulikku, juga gerombolannya.. terima kasih atas kenangan itu. Matur nuwun atas momen yang membuatku merasa bisa mandiri seperti sekarang ini. Bisa jauh dari rumah dan tetap jaga nama baik keluarga.. Berawal dari ngintilan semoga kasih di antara kita awet dan asri sampai akhir zaman.. Dimulai dari Klayu semoga persaudaraan kita tidak mudah patah dan layu.. I love all of you…

Yeah.. We Are Soetjipto's

Yeah.. We Are Soetjipto’s

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: