Beranda > True Stories of Me > #4.. Goceng untuk sebuah huruf “R”

#4.. Goceng untuk sebuah huruf “R”

Sore sudah berganti malam di seputar Cikande saat coretan ini mulai dibuat. Satu coretan yang membawa benakku ke puluhan tahun silam ketika masih menikmati masa kecil. Terutama jika mengingat satu SMS yang barusan mampir bertamu di layar hapeku. Pesan singkat dari kawan lama yang mengusik kekurangan fisikku..

“Bro.. pa kabar? Masih belum bisa ngomong “T” dan “D” dengan benar? Hehehe..”

Aku terkikik geli karenanya.. Ya, aku mungkin termasuk golongan cadel karena tidak bisa melafalkan dengan benar kedua aksara di atas sampai sekarang. Bahkan sampai kelas enam SD aku baru bisa mengucapkan kata “R” dengan benar. Hahaay.. padahal kalau melihat adik dan adik sepupuku rasanya cepat sekali mereka bisa berkata “serrrraatus” atau “jerrrapaaah” bahkan mungkin bisa mengucap “ular mutar mutar di pagar karena gemar melingkar-lingkar”.

Tapi aku? Hemh.. masih kuingat saat lomba cepat-tepat (sengaja bukan kusebut cerdas cermat) antar SD, seorang juri sempat bercanda menyalahkan jawabanku karena menyebut “Pangeran Antasari” dengan “Pangelan Antasali”.. Tapi untungnya segera diralat meski sempat membuat sedikit grogi dan kecut karena tawa penonton yang membahana. Begitu juga saat semangat empat lima ku dalam mengucap doa Salam Maria saat ibadah bergilir akan berbalas senyum simpul dari yang lainnya karena ketidakmampuanku mengucap abjad itu dengan benar.

Namun ada satu hal yang sangat kukenang saat seorang kerabat memiliki cara untuk memacuku guna giat berlatih keras melafalkan satu huruf keramat itu. Pun  sepertinya sampai sekarang masih menjadi standar lazim bagi balita bahwa mengucap dengan benar huruf “R” adalah harga mati. Ya.. mungkin ada keluarga yang lebih moderat dengan tidak mempermasalahkannya, tetapi sebagian besar pasti ada yang bertanya pada anak atau kerabat kecilnya.. “R gitu dek RRRR.. bisa belum hayo??

Kerabatku yang tadi ternyata mengiming-imingi akan memberikan uang lima ribu rupiah (sekarang mungkin sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah dengan anggapan harga sepiring pecel waktu itu Rp. 150,- dan sekarang Rp. 7500,- ). Walah.. dengan penuh semangat aku mulai berlatih dimanapun dan kapanpun. Saat mandi, buang air besar, istirahat sekolah (tentunya sambil ngumpet), bahkan saat tidur (ups.. ini ngigau sih kayaknya). Dan meski lama, butuh satu tahun setelah hari penawarannya aku sahkan dengan sebuah jabat tangan, sepulang sekolah aku hampiri dia di rumahnya. Dan dengan lantang aku berucap..

“Lek Rrrrubadiii.. aku wis iso ngomong eRRRRRRRRR…., lima rrrrriiibbbuuuuu dooong”

Hahaha, sambil memeluk dan menggendongku dia segera menyelipkan selembar lima ribuan di kantong celana merahku. Hemh.. indahnya momen saat itu..

Sahabat.. aku mungkin tidak terpacu untuk belajar lebih keras tanpa ada tawaran uang goceng itu. Dan mungkin sampai detik ini aku tidak akan bisa mengucap “R”. Meski tidak membuat aku mati atau sakit-sakitan, tetapi ada pelajaran berharga yang aku petik di sini. Ternyata kadang kita membutuhkan “perangsang’ atau “katalis” yang luar biasa hebat agar lebih bersemangat dalam meraih sesuatu. Namun tetap diingat bahwa penyemangat itu tetaplah harus positif dan bukan lantas membuat kita berperilaku menyimpang misalnya korupsi hanya untuk sepopuler Gayus atau se-flamboyan Ahmad Fathanah looh..

Goceng untuk huruf “R” bagiku lebih kumaknai sebagai upaya seseorang untuk berusaha lebih keras dan cerdas dalam meraih impiannya. Keras.. dalam memelihara rute atau selalu berada dalam track yang lurus dan benar. Cerdas dalam menyikapi dan mengatasi segala masalah yang mungkin menghadang.. Tidak ada yang tidak bisa jika memang sudah berusaha dan memang menjadi rejeki kita. RRRRRuuuaar Biasssaaa…

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: