Beranda > True Stories of Me > #3.. Belajar dari Gak Matching..

#3.. Belajar dari Gak Matching..

Malam mulai beranjak dan kembali saya kalah permainan True or Dare.. True yang ketiga kali ini masih di jaman sekolah dasar saya. Seorang anak usia balita waktu biasanya masih akan ditentukan bajunya oleh orang tuanya. Mulai dari baju seragam TK, SD (waktu umur lima tahun kebetulan saya sudah berseragam putih merah), bepergian, dan sebagainya. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku untuk saya karena biasa memilih baju sendiri sesuai keinginan. Ehm.. harusnya tidak ada yang istimewa memang mengingat jaman sekarang anak usia 3 tahun pun akan menangis merengek minta baju gambar Angry Bird atau Shaun The Sheep. Jika flashback ke 10 tahunan silam mungkin baju Batman dan Superman yang dilengkapi topeng dan sayap khas kedua super hero tersebut.

Namun.. suatu ketika saya tak sengaja melihat kembali album masa kecil di rumah budhe yang salah satunya berisi kegiatan lomba Natal di gereja. Dan tralala.. muka menjadi merah karena tepat di salah satu foto terlihat saya yang sedang memegang bingkisan sebagai Juara I menyanyi rohani. Muka merah bukan karena bangga dulu sering juara tetapi karena melihat tampilan saya yang alamaaak.. nggak banget!!

Ganteng sih masih (hehehe..), sisiran belah pinggir, mengenakan kemeja biru, celana kuning pendek, kaos kaki belang-belang pink dan hitam, serta sepatu putih. Gubrak!! Gak Matching babar blaaas.. Sontak sebelum pingsan karena malu saya lirik Ibu dan beliau menggeleng sambil berujar.. “itu dulu kan mamas yang ngotot pake, katamu biar tambah ganteng..” woooo Demi Tuhaaaaaan… ganteng dari Hongkong?!?!? trend fashion 2013 ngalahin personel SuJu!!

begini bentuknya.. matching kan..

matching kan..

Setelah siuman dari pingsan, saya mengamati kembali ‘bentuk’ saya waktu itu dan ya ampyuuun… pingsan lagiii…

Sahabat.. terkadang kita suka memaksakan diri dalam mengerjakan sesuatu yang menurut anggapan kita benar. Padahal kebanyakan orang melihatnya sebagai sesuatu yang tidak pantas, kurang pas, dan penilaian lain yang mungkin ada benarnya. Kita begitu ambisius dalam meraih sesuatu sehingga kadang kita tak sengaja mengorbankan kepentingan orang lain, menjerumuskan dan mengkhianati teman, atau tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Sesekali BERDAMAILAH dengan egomu untuk MENDENGARKAN..

TIDAK!! Tidak harus selalu menuruti apa kata orang dan seabgreg penilaiannya sebab tidak semuanya benar. Kasusku menjadi contoh bahwa meski memaksa memakai baju yang kelak hari kusadari tidak matching tapi tak mengurangi semangat berlombaku sehingga juara (atau karena juri kasihan ya dengan dandananku hahaha..). Eits.. itu kan bukan lomba fashion show.. jadi gak salah dong baju saya. Xixixixi.. Saya hanya merasa nyaman saat itu karena tidak ada paksaan dari siapapun. Saat nyaman mungkin suara saya menjadi lebih OK dan hasilnya ya OK..

Kita hanya perlu menjadi diri sendiri.. Ingat, bukan berarti menuruti dan memaksakan keinginan sendiri tetapi benar-benar menjadi pribadi yang mengerti kapan MENDENGARKAN dan MENGIKUTI anjuran dan masukan orang lain. Mengerti kapan harus memadukan antara kehendak hati dan pertimbangan hasil penilaian orang. Memang terkadang menjadi diri sendiri tidaklah mudah karena terkadang kita harus mengikuti aturan ataupun kehendak sekelompok orang dimana kita ada di dalamnya. Tetapi menjadi diri sendiri itu lebih indah sahabat.. karena kita pasti sudah dan akan lebih siap dengan segala yang akan terjadi.. Selamat malam..

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: