Beranda > True Stories of Me > #1.. Daun Lontar Pengantar Cinta

#1.. Daun Lontar Pengantar Cinta

Bulan Juni mulai menyapa, setidaknya beberapa sahabat, mantan, dan keluarga berulang tahun di bulan ini. Saat kulirik kalender ternyata bulan ini ada 30 hari, jadi inget akan usiaku saat ini. Lirik lagi kalender di blog ini ternyata hanya ada LIMA coretan yang aku tulis di bulan kelahiranku. Walah.. tapi tak apa karena aku bukan tipe yang harus bikin coretan tiap hari kok.. pengen nulis ya nulis aja.. sekenanya, seasalnya, dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Tapi membaca buku tentang menulis hadiah dari si Zonkie, aku jadi tertantang untuk menulis setiap hari di bulan ini.. Dan anggaplah sebagai penanda usiaku, aku kalah permainan True or Dare selama 30 putaran sehingga harus memilih True (daripada Dare yang kadang isi tantangannya aneh-aneh kan?). Dan apa yang ingin kucoretkan adalah True Stories of Me.. alias hal-hal yang kualami sepanjang usiaku. Bisa jadi nyebelin, ngangenin, biasa aja, atau bahkan gariiing.. Kalau tertarik bisa tongkrongin blog sederhana ini setiap hari meski hanya edisi pertama yang akan aku posting via FB..

Oke deh.. langsung ke episode pertama di kategori ini yaitu kisah nyata bahwa aku pernah menulis surat cinta di atas daun lontar. Sebenarnya inspirasinya dari cerita silat karangan almarhum Bastian Tito yaitu Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng! Wew.. ya, jaman dulu kan para tokoh yang dikisahkan di cerita tersebut (kebetulan aku punya satu lemari khusus untuk Mas Wiro) saat mengirimkan kabar selalu menggunakan daun lontar. Nah.. iseng lah aku yang waktu itu masih kelas 6 SD untuk mengirim surat cinta monyetku dengan cara yang sama..

Weitz! Siapa si dara yang kena musibah jadi sasaran cinta monyetku? Hahaha.. tentu saja teman sekelas yang sekarang sudah beranak dua atau justru sudah nambah jadi tiga. Kembang kelas beda kampung yang syahdan suatu waktu jadi pacar kerabatku dan selanjutnya sahabatku tepatnya saat menginjak usia remaja. Kembali ke topik.. Waktu itu sepulang sekolah, sambil menikmati kayuhan BMX-ku, terlihat oleh mataku ada pohon lontar yang cukup rimbun pun pula pendek dan terjangkau tangan. Lirik kiri kanan sepi orang, main petik saja padahal tepat di rumah orang (nyolong namanya ya..). Setelah diamankan dalam tas langsung deh ngacir pulang ke rumah ngalahin kayuhan sepeda Pak Oemar Bakrie. Sampai rumah langsung duduk manis di kamar dan dengan tulisan tegak bersambung mulai menggoreskan pena hitam berisikan kalimat cinta yang aku gabungkan dari cerita Mas Wiro, apa yang kubaca di majalah Kartini punya Ibu, dan usulan kata dari benakku sendiri. Hemh.. meski pertama menulis surat cinta dan kebetulan aku tidak ingat kata-katanya kecuali penutupnya “dua helai lontar ini menjadi pengantar cintaku padamu..” tapi jelas ini salah satu mahakaryaku waktu itu..

Besoknya semangat empat lima berangkat sekolah dan tanpa ba-bi-bu langsung menyerahkan dua helai lontar cinta kepada sang pujaan hati. Awalnya sih berseri-seri karena do’i langsung angkat jempol.. Tapi menjadi pucat pasi karena saat istirahat dibaca keras-keras oleh temen-temen ceweknya saat aku mau keluar kelas. Addaaaw… dan puncaknya setelah beberapa tahun berlalu saat suatu sore dalam gelak canda dengan Ibu tiba-tiba beliau ingat pernah memeriksa isi tasku dan menemukan surat cinta ala pendekar tersebut di tas saat aku tertidur pulas.. Gubraaaak…

Sahabat.. geli sebenarnya akan kekonyolan ini. Tetapi ada satu pelajaran yang aku petik bahwa untuk yang terbaik kita juga perlu persembahkan yang teristimewa. Dua helai daun lontar berisi rayuan maut si bocah tengil kelas 6 SD selalu menginspirasiku bahwa jika mau belajar dari sekitar kita maka kita akan selalu bisa membuat hal yang istimewa dalam perjalanan hidup kita.. Salam daun lontar pengantar cinta..

Iklan
  1. Juni 2, 2013 pukul 3:20 PM

    Bgegh…ternyata sisa sisa kejayaan romantisme masih bercokol toh…*kedip*

    • Juni 3, 2013 pukul 9:01 AM

      sampai sekarang masih kok mbak.. (promosi).. #bales kedip. 🙂

  2. Juni 11, 2013 pukul 3:52 PM

    cuwit cuwit…ide bagus…mau tulis surat cinta di daun juga ah…daun pintu…hihi 😀

    • Juni 11, 2013 pukul 9:04 PM

      ehem.. bagaimana kalau daun telinga mbak.. hehehehe..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: