Beranda > PLUS plus > Secuil Kisah di Padepokan Tukang Bangunan

Secuil Kisah di Padepokan Tukang Bangunan

Syahdan di suatu negeri antah berantah, tersebutlah kisah tentang satu padepokan semacam sekolah para tukang bangunan. Mereka yang ada di situ adalah kumpulan pemuda yang sepanjang hari berlatih teori dan praktek hingga kadangkala ada program perbaikan rumah penduduk atau mengikuti lomba antar kerajaan. Beberapa lulusan terbaik akan langsung bekerja di istana sebagai abdi kerajaan bagian pertukangan ups.. rumah tangga maksudnya.

Lama pendidikan bergantung pada tingkat keahlian dari para murid atau pemuda yang menimba ilmu. Ada yang lulus cepat, telat lulus, atau justru putus di tengah jalan. Namun rata-rata lulus setelah 7-8 tahun kecuali satu orang siswa yang sudah menjadi senior bahkan dianggap asisten dari para pendidik. Siswa ini sebenarnya cerdas dan sudah mumpuni keahliannya hanya saja selalu gagal di ujian akhir yang diadakan setiap tahunnya sehingga tetap tidak bisa dinyatakan lulus.

Ujian akhir memang berat karena setiap siswa harus pergi ke hutan, memilih dan menebang kayu, lalu membuat rumah untuk didiami dan semua dilakukan SENDIRI tanpa bantuan siapapun. Mereka yang ikut ujian akan diberikan waktu selama 3 bulan dan pendaftaran tidak dibuka menurut lama pendidikan tetapi melalui seleksi demi seleksi sehingga yang lebih pendek masa pendidikan asal lulus seleksi bisa mendahului yang lama. Hasil ujian juga beragam karena mengerjakan sendiri, ada yang asal jadi, ada yang mendekati sempurna dan beragam lainnya.

Siswa yang tadi tidak pernah lulus sebenarnya adalah peringkat pertama di seleksi awal selama bertahun-tahun ujian dilaksanakan. Hal ini mengusik pikiran satu adik tingkatnya sehingga di suatu senja saat menjelang makan malam dia menanyakan perkara tersebut..

“Kakak, kenapa engkau selalu gagal di ujian akhir? Bukankah engkau yang terbaik di padepokan ini? Rasanya lima rumah pun sanggup engkau buat dalam sebulan..” Tanya si adik tingkat dengan polosnya. Si kakak tingkat menghela nafas, dia yang dikenal sangat perhatian dengan semua adik tingkatnya nampak memandang kosong ke depan. Agak lama dia terdiam, lalu meluncurlah kalimat demi kalimat dari bibirnya.. “Adikku, aku bukan tidak bisa melalui ujian tersebut. Namun setiap kali pergi ke hutan, aku memang belum menemukan kayu yang baik dan aku yakini kuat untuk kudiami seumur hidup. Lihatlah mereka yang sudah lulus, banyak di antaranya yang membuat rumah hanya untuk sekedar lulus. Satu dua memang bertahan di rumah yang cepat lapuk kayu-kayunya, sebagian rumahnya porak poranda ketika angin kencang melanda, beberapa rumahnya bocor karena hujan deras, dan parahnya ada yang tidak lagi mendiaminya berganti rumah yang baru. Membuat rumah sebenarnya harus yakin akan setiap pilihan bahannya agar sekali berdiri, bisa kita miliki dan diami seumur hidup serta melindungi kita dari kondisi apapun. Aku pasti lulus jika sudah yakin dengan pilihan kayuku”.

Si adik mencecar lagi dengan pertanyaannya.. “Kakak, jika itu prinsipmu, apakah tidak terlalu lama kau diam di padepokan ini? Seumur hidupmu?”. Si kakak tersenyum, ujarnya pelan “Tentu saja aku akan meninggalkan tempat ini, aku yakin Tuhan akan berikan saat itu kepadaku, kenapa terburu-buru jika belum yakin hatiku?” Si adik gantian tersenyum, dengan usil dia kembali mengajukan pertanyaan.. “Lantas, kakak masih mau ikut ujian tahun ini?”. Mendapat pertanyaan tersebut, si kakak bangkit dari duduknya dan berkata “Aku pasti ikut.. Lulus atau tidak tergantung apakah kali ini kayu terbaik yang kudapat, juga kuasa Tuhan yang menguasai hidupku. Jika aku tidak ikut, lantas kapan mau lulus? Dan jika belum lulus juga, apakah semuanya berakhir? Tidak adikku.. Aku masih bisa membimbing kalian agar kelak, rumah terbaiklah yang juga kalian buat.. Rumah indah yang selalu membuatmu ingin pulang dan menikmati tiap detik kehangatannya “. Satu dua tegukan teh di akhir.. Mengiringi senyum kedua kakak adik sepadepokan itu.

Iklan
  1. April 29, 2013 pukul 6:46 PM

    Mantap sekali gan inspirasinya, saya banyak belajar dari artikel ini gan… Thanks gan.

    • April 30, 2013 pukul 2:10 AM

      sama-sama gan, Puji Tuhan jika menginspirasi, thanks kunjungannya..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: