Beranda > PLUS plus > Ngapain Takut Dipecat? Bersyukurlah..

Ngapain Takut Dipecat? Bersyukurlah..

Sebelum coretan ini ditulis.. ijinkan saya untuk meminta maaf jika ada kebetulan sahabat yang sedang mengalami kebuntuan dan kegalauan karena saat ini kebetulan belum bekerja lagi pasca di-PHK. Namun saya tegaskan bahwa saya menulis coretan ini dalam keadaan sadar dan tanpa tekanan pihak manapun sehingga kiranya Tuhan beserta saya dan apa yang saya coretkan dapat menjadi refleksi bagi kehidupan kita. Sambil tersenyum tulus (maaf pasti kalian tidak bisa melihat) saya haturkan terima kasih kepada beberapa sahabat yang menginspirasi dan juga adik semata wayang saya Dhenta yang selalu menjadi kebanggaan saya.

Coretan sederhana ini berawal dari satu perjalanan kuliner saya di daerah Serang minggu lalu sepulang gereja. Kala itu karena penasaran dengan cerita nan penuh semangat dari Om Bro (Om saya di Ciledug) tentang sop kambing yang super duper maknyus di daerah Ciceri Serang. Intruksi sudah jelas, tempat sudah didapat, di sekitar Apotek Ind** Farma namun sayang lapak sop kambing yang dimaksud sudah berganti dengan warung tenda sop, soto, sate ayam dan ayam bakar Bu Galak.. Eits kalau kalian check ke TKP, yang kira-kira berjarak 200 meteran dari pintu lintasan kereta api, kalau dari Terminal Pakupatan Serang ambil ke kanan di perempatan Ciceri, maka tidak ada nama warung tenda yang barusan saya sebut. Kenapa? Karena nama itu bingkisan dari saya setelah dengan mendelik dan bernada marah si Ibu penjaga lapak menjawab pertanyaan saya udah tahu adanya sop, sate, soto ayam dan ayam bakar, masih nanya sop kambing.. makan sekolahan nggak?!? . Ya Tuhan.. pertanyaan saya sebelumnya cuma empat kata “Ada sop kambing Bu?” eh.. dijawab dengan rentetan kalimat dahsyat di atas. STOP! Jangan ikutan marah dulu.. karena saya memang usil dengan bertanya lagi ke si Ibu “Loh.. yang jual sop kambing di sini sudah pindah bu? Pindah kemana ya?”. Tebak deh Ibunya jawab apa.. Bodo amat!! .. Ups.. terlepas dari nada marah si Ibu yang mungkin sedang galau tingkat dewa nan cetar membahana ulala, tapi sungguh saat itu wajah polos tapi tengil saya pasti terlihat puas.. sebab skor kami 1:1 karena gantian si Ibu hanya jawab dengan dua kata atas rangkaian kata tanya yang saya sodorkan.. hehehe..

Sebelum dilempar gerobak sop dan soto ayam, saya bergegas menyeret si MC meninggalkan lapak itu untuk mencari lapak sop kambing yang ditargetkan. Pendek kata setelah sempat singgah di lapak yang mungkin saja seperti yang Om Bro ceritakan, lalu pura-pura ada telepon dan minta dibungkus setelah melihat apa yang disajikan kurang menjawab imajinasi saya, ditambah saya memesan seporsi bubur ayam Cirebon yang sebenarnya juga menjadi incaran saya untuk dicicipi, akhirnya saya memarkirkan si MC dengan manisnya di depan sebuah tenda sop dan soto kambing betawi cabang Tanah Abang (benar atau tidaknya saya tidak tahu karena penjualnya berlogat Sunda) yang masih di area Ciceri. Semangkok sop kambing bersantan lebih menggugah selera makan saya dibanding sop kambing berkuah bening.. kolesterol woles aja dah..

 jajanan

Tapi apa yang saya akan tuturkan di sini bukan tentang makanan.. tetapi tentang perjalanan hidup yang berawal dari kaos. Ya.. kaos yang dipakai oleh si Bapak penjaga warung yang menjadi magnet mata saya sepanjang peracikan, penyajian, dan penyantapan sop kambing orderan. Kaos yang saya tahu karena itu satu kaos dari perusahaan lama yang khusus dibuat untuk peringatan ulang tahun kesekian perusahaan tersebut. Istimewanya kaos itu dibagikan hanya untuk karyawan dan bukan seperti kaos promo dari team marketing. Usil saya kambuh lagi dengan menanyakan hal ikhwal kaos tersebut bisa melekat di tubuh ceking si Bapak. Dan mengalirlah pembicaraan antara penjual pembeli selepas saya menghabiskan orderan sop kambing hingga tandas semangkok-mangkoknya..

Sahabat.. rupanya memang beliau juga bekerja di perusahaan yang sama denganku beberapa tahun yang lalu dan keluar karena di-PHK saat ada pengurangan karyawan. Berbekal dengan pengalamannya di kantin pabrik dan tanya sana-sini maka dua bulan setelah menganggur beliau dapat kerjaan di sebuah lapak warung makanan dengan dagangan yang sama dan setelah dua tahun bekerja untuk orang lain maka beliau memutuskan untuk mendirikan lapak sendiri. Dan hasilnya menurutku lumayan.. tanpa beliau bercerita detail, sebuah motor Mega**o terbaru, gadget black****y yang lebih tinggi spec-nya dari milikku, cukup memberikan gambaran sementara sejauh mana kehidupan finansialnya selepas dipecat dari perusahaan yang namanya lumayan tersohor di negeri ini. Ya kalau yang kulihat itu pinjeman atau kreditan.. mohon maaf ya pemirsa.. sebab mungkin terlalu terpana dengan kisah jatuh bangunnya beliau merintis usaha ini dari mulai adanya pungli, gusuran sehingga berpindah lokasi, hingga dirampas hasil jualan semalam oleh preman yang sedang mabuk dan berjamaah (baca : bawa temen banyak) atau saingan yang tidak sehat antar pedagang..

Cerita seminggu yang lalu ternyata membekas di benak saya saat bangun kesiangan hari ini. Saya hanya berpikir hal yang konyol.. Apakah saya siap juga dipecat? Kehilangan pekerjaan? Menjadi pengangguran? Dikejar-kejar mereka yang memiliki piutang dengan saya? Bisakah saya bangkit dan mendapat pekerjaan kembali? Berapa lama?.. Dan ijinkan saya menanyakan hal yang sama kepada anda, sahabat sekalian.. kalau lancang mohon dimaafkan ya..

Sambil meneguk secangkir kopi yang mulai mendingin.. saya harus melihat kembali ke dalam diri saya. Apa yang saya punyai? Ketrampilan dan keahlian yang saya miliki? Dan pasti pikiran saya langsung melayang pada Dhenta adik kandung saya yang sedang kuliah di Kota Gudeg. Saya selalu mengagumi bakat yang menurun dari Pak Bos kepadanya.. Waktu kecil, kalau saya bisanya MEMBELI mainan kawan, tetapi dia malah bisa MENJUAL karena dari usia balita kreatifnya gak ketulungan. Belum lagi bagaimana dia bisa merakit dan menyulap motor RX K*ng besutannya menjadi sebuah monster moge dengan tangannya sendiri semasa berada di bangku sekolahan. Lanjut sekarang ini bagaimana dia yang hobby-nya memelihara anjing peliharaan bisa membuat kandang sendiri, tentu saja butuh rakit-merakit besi dan las listrik, membuat tandon air dan pagar tembok dari batu bata dan semen, yang jelas sekali saya tak mampu melakukannya. Plus tentunya jual beli koleksi peliharaannya. Belum cukup.. di bangku kuliah dia sudah mempunyai jabatan yang sama dengan kakaknya yaitu seorang supervisor meski hanya di sebuah warnet bukan pabrik. Tetapi kemampuannya mengatur jadwal, budgeting, dan mengelola keuangan warnet meski kadang terpeleset sungguh membuat saya kagum. Apalagi ditambah mengelola usaha rental mobil dan laundry milik bos-nya (semoga saya tidak keliru karena sekarang kebetulan sudah ditutup karena masalah pribadi si bos) waooow sambil koprol berulang kali saya. Walau hal di atas mengganggu kuliahnya namun saya tahu ni bocah bisa survive setelah kuliahnya tamat tanpa harus bekerja pada instansi atau orang lain. Kalau saya dulu? Cukup saya jawab dengan tersenyum kecut dan mengelus dada..

Tak cukup dengan adik saya, rekan saya di Bali pun banting stir dari profesi yang ditekuni sesuai bidang kuliah yang diambil menjadi pengusaha makanan ringan berlabel Pia Dacoz di Pulau Dewata saya dan beuuuh.. larisnya minta ampun sampai ke mancanegara. Ada pula satu rekan yang sukses menjadi pengusaha grosir handphone di Lampung. Rekan lain bisa menjalankan bisnis servis elektronika merangkap toko dan mempunyai dua cabang di Jakarta. Dan masih banyak mereka yang sukses (meski ada pula yang gagal) pasca kehilangan pekerjaan sebelumnya baik karena mengundurkan diri, perusahaan gulung tikar, atau DIPECAT..

Sahabat.. ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan dari pengamatan saya jika suatu ketika kita dipecat dan kehilangan pekerjaan (demi Tuhan saya juga tidak menginginkannya).. Kita bisa bangkit dari keterpurukan dengan BERSYUKUR.. Apa? Ya.. bersyukur karena yakinlah itu hanya teguran Tuhan karena kita lupa berterima kasih pada-Nya dan berbagi dengan sesama atas apa yang dititipkan-Nya kepada kita. Bersyukur karena barang kali Tuhan mengambil sementara titipan-Nya untuk diberikan lagi titipan yang lebih baik. Dan BERSYUKUR versi saya yaitu BERusaha Semangat Yakin Ulet dan teruKUR.. Maksudnya?

Sahabat.. dalam menyikapi kondisi pasca dipecat, menurut saya kita harus BERUSAHA dulu untuk membuang semua prasangka buruk, mengeluh dan merutuki Tuhan, dan pikiran pendek bahwa semuanya sudah berakhir. Semua pikiran jelek itu harus disingkirkan sebab seharusnya kita tetap BERUSAHA mencari penyelesaian baik bekerja lagi atau berwiraswasta dengan SEMANGAT untuk keluar dari kesulitan ini. Kita juga harus YAKIN bahwa Tuhan selalu beri jalan dan menuntun kita dalam kegelapan yang kita alami. Dalam upaya tersebut kita juga harus ULET dalam menjalani setiap proses yang mungkin saja belum pernah kita alami.. penuh teka-teki dan pasang surut juga jatuh bangun. Dalam proses tersebut kita harus melakukan semua langkah dengan TERUKUR.. penuh kehati-hatian meski tidak boleh juga lambat atau malas dan menunda. Semoga dengan BERSYUKUR semuanya bisa teratasi.. Tidak setuju? Tidak apa-apa kok.. biarkan saya ganti kata “kita” dengan “saya”..

Nah.. selesai coretan ini lantas saya mulai melihat kembali apakah saya siap menerima pertanyaan yang menjadi judul coretan ini. Dan apa jawab saya? Puji Tuhan meski saya tidak pernah menginginkan juga tidak se-berbakat adik saya.. dan sehebat rekan-rekan saya.. tetapi deretan gambar di bawah menunjukkan bahwa saya SIAP.. selamat weekend sahabat..

kroyokan

 cleaning service, ojek perahu, jasa video kawinan, ojek payung, atau dagang grosiran..

 

 

Iklan
  1. Maret 24, 2013 pukul 3:08 AM

    Ceritanya inspiratif banget 🙂

  2. Franzezcha Nio
    April 4, 2013 pukul 8:49 PM

    Refleksi yg sgt mengagumkan…

    • April 5, 2013 pukul 1:35 PM

      Nio.. bukan mengagumkan tapi mencengangkan…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: