Beranda > Mengenang Masa Silam > Kubenci Ibuku.. Setiap Kali Ku Tersenyum..

Kubenci Ibuku.. Setiap Kali Ku Tersenyum..

Minggu ini sebelum ke gereja iseng bercermin dan aaah… selalu masygul setiap kali lihat deretan gigiku yang kian hari kian memprihatinkan. Perlu DIBEHEL.. kata drg. Saras yang terakhir kujumpai setahun yang lalu. Halah.. cowok ini, emang kenapa dok kalau tidak dibehel? Masalah buat loe?.. tanyaku kala itu. Si dokter nan manis dan pernah berbehel juga itu hanya menjelaskan bahwa di usia 40 tahunan maka gigiku akan berantakan terlebih empat geraham belakangku tumbuh tidak dengan semestinya. Ada yang ke samping kiri, kanan, mendesak gigi di depannya atau justru putar badan ke belakang. Satu sudah dieksekusi karena aku tidak tahan dengan sakitnya setiap kali makan yang keras dan sedikit goyang. Tapi memang gigiku tidak nice to see dan jauh dari perfect, saingan dengan punya Pak Bos karena beliau dulu pemuja dan penikmat empek-empek hingga gusinya habis “dimakan” kuah yang mengandung cuka berlebih. Kebiasaan buruk kami berdua yang masih merokok (membantu pemerintah dengan membakar barang berbahaya) juga menjadi faktor parkirnya karang gigi di deretan gigi yang kami punya.

jauh dari OK.. tapi ya wong punyanya ..

jauh dari OK.. tapi ya wong punyanya..

Jika melihat deretan gigiku seperti kutunjukkan di atas dan setelah  penjelasan dari dokter, serta membaca beberapa artikel seperti di sini dan di sini, maka aku MEMBENCI Bu Bos. Masih inget siapa bu Bos? Salah satunya bisa dibaca di sini.. Kenapa? Yah.. gigiku yang kuning, tak berderet rapi, gusi yang tidak OK, perawakanku yang pendek.. salah satunya ya dari Bu Bos karena waktu kecil aku diberi antibiotik saat cabut gigi.

Si gigi ini membuatku susah untuk tersenyum saat di foto karena tidak Pe-De.. Padahal katanya aku tuh lucu dan kocak.. Hingga suatu ketika saat ketika sama mantan pacar bikin foto-foto mesra dan syur di studio sempat diledek juru foto dan pengarah gaya.. “Senyum mas.. punya pacar cantik kok ekspresinya gak bahagia..” atau “Yaaaap.. senyuuum.. mbaknya luwes masnya tegang tuh.. tarik lagi bibirnya.. atau saya yang difoto aja..” ujar si juru foto. Kampret! Meski konteksnya bercanda.. galau juga diledekin seperti itu.. Alhasil sampai seumur ini, aku hanya memiliki beberapa foto dengan poses senyum dan yang terbaik  menurutku ya di bawah ini..

singkawang

Sahabat..  lembaran ratusan ribuan (info drg Saras dan non Dessy) sering menghantui setiap uang mulai terkumpul di tabungan. Sebab kira-kira perlu 5-6 jutaan untuk merawat gigiku. Kadarnya sih pengen banget dan gak sekedar pengen doang atau pengen aja.. Tapi… ah sudahlah dinikmati saja dulu. Masih ada waktu untuk kumpulin receh demi receh atau dikawatin sendiri pakai kawat jemuran hahahaa..

Balik lagi ke judul.. Sempat aku utarakan hal ini kepada Bu Bos dengan mimik bercanda. Eh.. beliau tiba-tiba serius dan berujar pelan.. “Ya.. waktu itu Ibu tidak pernah tahu tentang efek antibiotik seperti yang sudah mas pelajari di kuliah, Ibu begitu bodoh sehingga gigimu jelek dan gak punya senyum indah. Kala itu hanya ingin menenangkanmu karena gigi berlubang mamas membuatmu rewel seminggu lebih .. Maafin Ibu mas..” sambil matanya berkaca-kaca..

Ups.. segera kupegang tangan beliau dan berkata.. “Bu.. mas becanda kok.. Mas yang minta maaf karena gak boleh seharusnya bilang begitu. Mas kan sudah tahu dari kuliah yang semuanya karena Ibu.. mas janji nanti cucu cicitmu gak ada yang kuning dan jelek giginya. Maafin mas juga karena waktu itu kabur dan bikin Ibu panik..”  Dulu memang karena berlubang, setiap malam aku selalu rewel dan berisik sehingga dibawa Ibu ke dokter gigi untuk dicabut si gigi biang keroknya.. dan karena merasa kesakitan dan Ibu justru berlama-lama di Pak Mantri (padahal ngurus pembayaran), aku nekad ngabur ke rumah Pak Uwo (orang tua Pak Bos) dengan jalan kaki dan menyeberangi  jalan besar sebab . Ibu panik waktu itu dan mencari dari siang sampai sore sampai ke orang pintar padahal aku tenang-tenang sama Pak Uwo dan Mbok Uwo mainan gundu. Maklum.. dulu kan tidak ada hape dan lain-lain.. Hedeeeh..

Nah.. apakah aku masih membenci Ibu? Ya.. tapi kali ini Benar Benar Cinta.. setiap ku tersenyum melihat deretan gigiku.. aku akan selalu mengingat Ibu.. satu dari yang terbaik di hati dan hidupku.. Terima kasih bu..

(Kado telat buat Ibu di hari Wanita Internasional , 8 Maret 2013)

Iklan
  1. Maret 10, 2013 pukul 12:32 PM

    wah..jadi begitu ya..
    info yang bagus mas. supaya pas saya waktu punya anak kelak gak dikasih antibiotik gtu waktu cabut gigi.

    • Maret 15, 2013 pukul 1:54 AM

      syukurlah kalau infonya bermanfaat.. terima kasih kunjungannya..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: