Beranda > Pelajaran Hidoepku > Belajar dari Delisa..

Belajar dari Delisa..

Belajar itu memang bisa dengan berbagai cara.. kadang formal atau unik gak ketulungan. Salah satunya kualami malam ini saat sebenarnya hendak mematikan laptop untuk tidur sejenak sebelum jaga malam di pabrik. Entah kenapa jemariku justru membuka kumpulan file film dan menemukan satu folder film Hafalan Shalat Delisa yang sudah lama sekali kupunya tetapi baru kali ini terbersit hasrat untuk menikmatinya. Dan terjadilah.. puluhan menit kuhabiskan untuk menikmati bagaimana emosiku teraduk-aduk dan membiarkan otakku mencerna pelajaran demi pelajaran dari kepolosan seorang Delisa..

#jangan pernah iri

Ini kupetik dari satu adegan dimana Aisyah, kakak Delisa, merajuk karena iri Delisa akan mendapatkan kalung berliontin huruf “D” untuk kelulusan hafalan shalat-nya pun juga karena akan dibelikan sepeda baru oleh sang Abi atau ayahnya. Kadang kita juga begitu bukan? Iri terhadap apa yang diperoleh orang lain bahkan saudara sendiri padahal kita juga pernah atau akan mendapatkan hal yang sama.

#lingkungan yang beragama

Dialog antara koh Acan penjual emas dan Umi serta Delisa saat di toko emas yang menyoal harapan si penjual emas agar Lhok Nga menjadi lebih baik jika anak-anak pandai shalat. Sejenak aku coba mengingat lingkungan demi lingkungan yang pernah aku tinggali. Dan walau tidak sepenuhnya benar, karena baik tidaknya bergantung kepada setiap individunya, tetapi akan lebih baik jika kita tinggal di lingkungan yang kehidupan beragamanya kuat.

#berbagi pada yang tak berpunya

Percakapan kecil antara Delisa dan Tiur saat akan belajar sepeda dimana Delisa merelakan jika Abi-nya jadi milik Tiur juga sebab temannya itu sudah tidak memiliki Ayah. Sudahkah kita melakukan hal yang sama? Berbagi dengan mereka yang tak punya? Aaah.. kadang niat pun juga tak ada di benakku. Padahal semua milik kita hanya titipan Tuhan kan?

#sesuatu yang biasa akan menjadi luar biasa jika terbiasa

Delisa biasa menikmati masakan Umi-nya yang enak. Oleh karena itu timbul protesnya terhadap rasa masakan Abi yang keasinan. Namun pada akhirnya Delisa yang justru mengatakan akan makan masakan Abi karena lama-lama pasti enak. Hemh.. untuk kali ini seperti pepatah Jawa ‘trisno jalaran soko kulino” atau cinta karena terbiasa. Sahabat.. kadang hal kecil, hal biasa, hal yang belum sempurna akan menjadi lebih baik jika kita biasakan dengan cara yang luar biasa. Misal tukang fotocopy di suatu pabrik akan menjadi karyawan teladan jika hasil copy-an rapi dan jelas terbaca, cepat diselesaikan tanpa tertunda, tidak banyak kesalahan, bisa merawat mesin fotocopy, dan antar jemput dokumen. Abi tentu akan bisa menjadikan Delisa menyukai masakannya jika selalu belajar memasak, memberikan kehangatan interaksi saat makan, dan mengerti keinginan Delisa. Siapa tahu masakan Umi sebenarnya biasa saja kan? Tapi karena Umi bisa mengerti dan menyajikan kehangatan kasih maka menjadi luar biasa rasanya.

#fokus dan ikhlas

Satu adegan terdahsyat adalah kala Delisa tidak bergeming dari shalatnya saat tsunami menerjang dan orang lain berhamburan. Delisa begitu fokus untuk menyelesaikan hafalannya dengan baik dan mungkin sudah lepas dari iming-iming kalung hadiah kelulusannya nanti. Saya jadi menggigit bibir jika mengingat bagaimana saya saat berdoa.. Buru-buru, bolong-bolong, tidak fokus, dan belum sepenuhnya ikhlas karena terkadang mengeluh dan menggugat bila pinta belum terkabul. Kebanyakan doaku isinya meminta, memaksa, dan cenderung mengancam..  waduuuh (tutup mata dengan tangan)

Masih banyak sebenarnya yang bisa dipelajari dari film ini misalnya kepolosan dan keceriaan Delisa untuk tegar saat dapat cobaan, ikatan persaudaraan antar negara Sofie-Ahmed-Smith-Delisa-Abi-Ustad Rahman, LDR ala Sofie-Ustad Rahman (halaaah..), kemauan Delisa untuk menuntaskan ujian hafalan shalatnya yang tertunda tsunami, dan yang lainnya. Tapi karena namanya belajar, aku belajar lima yang di atas dulu, yang lainnya nanti lah.. Ada yang salah? Ya mohon dimaafkan.. namanya juga sedang belajar.. Selamat malam…

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: