Beranda > Mengenang Masa Silam > Balada Mentari dan Rembulan di Persimpangan Jalan

Balada Mentari dan Rembulan di Persimpangan Jalan

(tercurah di kala pergantian hari.. saat gelisah tak terperi.. dua tahun yang lalu..)

 

Terkisahlah Mentari dan Rembulan..

Mentari setia memberi energi seluruh negeri dengan sinarnya..

Saat malam menjemput siang.. dan gelap menyelimuti..

Rembulan pun ganti bersinar dengan lembut cahayanya..

Mereka memberi warna dan saling melengkapi.. tak lelah.. dan tak henti..

 

Suatu ketika.. siang terhalang hujan, tak kutemukan mentari di sana..

Tak jarang awan berarak.. membuat rembulan tak menampakkan indahnya..

 

Lepas dari kisah sang mentari dan rembulan.. aku terdiam sendiri..

Di sudut kota kecil.. kumainkan jemariku di deretan abjad Aspire-ku..

Lelah hati ini ingin tertumpah di tulisan ini..

Apa kata orang, aku tak peduli..

Mungkin sesat pikiranku dalam menterjemahkan kebebasan berekspresi..

Dan sekali lagi.. aku tak peduli..

Karena ini soal hati..

 

Celoteh Mentari…

Setiap Ramadhan.. benakku selalu melayang padamu..

Teringat bagaimana ku menemanimu melewati beratnya siang hari..

Dan menjemputmu tuk memulai pagi.. dengan beberapa suapan nasi..

Tak jarang  nakalku datang menggodamu tuk melepas satu hari..

Dengan senyum lembutmu pun kau bisa mengelak tanpa berlari..

Ah Rembulan.. aku akan selalu mencintaimu.. sepanjang usia ini..

 

Bisik si Rembulan..

Mentari.. kau sinari aku sepanjang hari..

Aku tahu kau tak lelah akan hal itu..

Sebab aku bisa merasakannya di sepanjang waktuku..

Sering menitik mata ini kala kulangkahkan kaki di tempatmu menyembahNya

Di depan altar.. yang sebelumnya belum pernah kumasuki..

Kucoba kulantunkan senandung puji..

Walau tak satupun nada kumengerti..

 

Syahdan di suatu hari..

Mentari dan Rembulan pun mengikat janji..

Tuk akhiri semua ragu dan bimbang di atas relasi..

Bahagia sepertinya kan datang menghampiri..

Tapi mereka hanya insan tak sempurna..

Hanya bisa merancang tanpa bisa menebak hasilnya..

 

Genggam erat tangan dan jemari yang bertaut pun perlahan mengendur dan terlepas..

Diiring bulir air mata yang jatuh di sudut pipi dua insan..

Mereka ingin berteriak.. tapi tak mampu berswara..

Ingin berontak.. tapi seolah rantai keji erat mengekang..

Seolah tak percaya.. dan memang tak berdaya..

Mereka sampai di persimpangan jalan..

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: