Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan Ibu Penjual Bunga..

Akoe dan Ibu Penjual Bunga..

Melewati akhir minggu dengan jumping shift memang sesuatu.. Kamis shift 3, Jumat shift 2, dan Sabtunya shift 1.. Alhasil hidung sedikit mampet dan badan rasanya drop. Tapi kali ini I LUV MY JOB.. Tak ada rasa menyesal dan kecewa untuk mengais sesuap nasi di pelosok Cikande ini. Melewati pergantian hari setelah seharian berkutat dengan kerjaan dan bunga rampainya dengan secangkir kopi, rokok DP, dan my luph Aspire terasa melegakan. Apalagi menyiapkan monthly report untuk Selasa depan.. wuaah, workaholic kah?

Namun sejenak pikiranku melayang pada peristiwa seminggu lalu, tatkala setelah shift 3 aku menyeret si Merah Centil menyusuri jalan pintas Cikande – Cisarua untuk bergabung dengan rekan-rekan dari pabrik lamaku untuk sejenak refreshing atau lebih tepatnya pindah tidur heheey.. di Wisma Kundul Cisarua. Meski pulangnya tidak bisa untuk menepati janji dengan satu gadis cantik di Bogor tapi tak apalah.. Lain waktu bisa dicoba lagi, ah.. susah kali kalau sudah punya janji bagiku untuk tidak menepati.

Perjalanan pulang dari Cisarua itulah yang berkesan untukku. Persis saat gerimis mulai mengguyur area Bogor yang menyebabkan aku harus menepi untuk mengenakan mantel. Tapi rupanya ekor mataku menangkap sosok seorang wanita yang sibuk memindahkan beberapa karung putih ke dalam bilik bambu berisikan tatanan bunga aneka ragam. Yap.. ternyata aku berhenti di deretan penjual bunga namun sialnya aku sama sekali tidak tahu dan pasti tidak ingat tepatnya daerah apa.. Pokoknya di Bogor dech..

Tak sempat berpikir untuk melanjutkan rencana bermantel ria-ku, aku justru setengah berlari untuk membantu si wanita yang ternyata seorang Ibu separuh baya untuk memindahkan karung demi karung yang isinya pupuk kompos. Si Ibu sempat menolak tawaran bantuanku namun karena gerimis mulai membesar volumenya maka beliau tak kuasa menolak untuk membiarkanku mengangkuti karung kompos satu demi satu sampai aman dari ancaman hujan ke dalam bilik (baca:toko bunga) miliknya. Setelah selesai lalu kutinggal si Ibu ke arah merah centil karena aku lupa menutup joknya hehehe. Namun tenang penonton.. saya tetap balik lagi ke bilik sebab hujan semakin deras.

Bilik sederhana tempat si Ibu menjual aneka bunga itu nampak rapih bagiku. Sayangnya aku tidak kenal baik dengan jenis-jenis bunga meski Bu Bos di Lampung juga penyayang bunga, paling banter aku hanya mengenal mawar melati semuanya indah (cuplikan lagu Lihat Kebunku). Atau Bu-Ngatini guru SMP-ku dan bunga bank untuk hutang-hutangku. Humh.. semoga cowok tak kenal bunga bukan kriteria untuk dicoret dari daftar idaman seorang cewek deh.

Belum mulai kenalan atau ngobrol eh tahu-tahu sudah ada secangkir kopi hangat tersaji di depanku yang semena-mena duduk tanpa dipersilakan empunya toko. Cucok ini namanya.. dan barulah si Ibu mulai obrolan siang itu dengan berterima kasih atas bantuanku. Sok tahu dengan menebak usianya sama dengan usia Bu Bos aku menanyakan kemana suaminya karena di toko itu hanya kulihat si Ibu sebatang kara (lebay…). Sambil tersenyum simpul si Ibu menjawab bahwa suaminya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Senyum dari raut wajah yang manis itu (setelah kuperhatikan dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya) seolah menegaskan ketegarannya dalam menghadapi situasi sedih dan kesepian karena belahan jiwanya lebih dulu berpulang ke alam sana. Setelah meminta maaf aku mulai mencecar apakah beliau tidak dibantu anaknya. Ternyata anaknya sedang dinas siang itu.. Mendengar kata “dinas” lucunya keluar tebakan ngawur dari mulutku apakah anaknya seorang polisi atau tentara. Ah.. cetek banget isi otakku padahal dinas bisa berarti bermacam-macam profesi kan?  Beliau hanya tersenyum lagi dan mengatakan bahwa puterinya bekerja di Puskesmas. Ooo.. anaknya cewek dan seorang perawat atau bidan ya bu? Kejarku dengan pertanyaan yang bodoh.. (di akhir coretan ini akan kutunjukkan betapa bodohnya pertanyaan itu). Lagi-lagi beliau tersenyum dan berkata bentar lagi biasanya puterinya mampir ke toko. Otak nakalku lantas berharap hujan tetap turun sehingga bisa bertemu puterinya (Ibunya aja manis koook.. pasti anaknya juga kan?). Tampaknya si Ibu menangkap pikiranku dengan berdehem karena aku sempat termenung. Dasaaaaaar..

Tak dinyana ternyata beliau cukup terbuka karena mulai bercerita tentang masa lalunya. Walau di awal cerita beliau menyentakku dengan gantian mencecar aku dari mana, asli mana, sudah nikah apa belum, anaknya berapa yang mau tak mau harus kujawan dengan sedikit masygul. Biar masygul harus jujur.. JOMBLO buuuu.. aku masih sendiriiiii.. (ingin kujawab sambil teriak kenceng sekencang Soimah saat bilang Jos Gandos Kotos-kotos di penjurian IMB). Sudahlah.. detik-detik mencekam itu berlalu dengan cepat dengan wejangan singkat dari beliau agar aku segera mencari pasangan agar bisa menikmati indahnya cinta. Kenapa? Karena beliau bertutur tentang bagaimana bertemu dengan almarhum suaminya. Ya di sini.. di tempat kami bercakap itulah beliau pertama kali mengenal suaminya yang ternyata pemilik awal toko ini saat si Ibu mencari bunga untuk tugas sekolahnya.

Masa pacaran beliau diawali dengan satu sesi romantis dimana saat almarhum suaminya mengungkapkan cintanya dengan mengirim ratusan tangkai bunga mawar merah ke kost-an si Ibu. Aah.. ternyata iklan tentang Mawar di televisi ada juga versi nyatanya meski bukan sejuta bunga yang dikirim. Menit demi menit aku nikmati cerita beliau di bawah rintik hujan yang puji Tuhan tak jua mereda. Meski beliau juga memiliki usaha laundry dan katering ternyata toko bunga ini tetap dipertahankan untuk dibuka meski tidak segencar pendapatannya di dua usahanya tadi. Sahabat.. merinding disko rasanya saat kudengar alasannya..

Tiap helai daun dan kelopak bunga di toko ini selalu mengingatkan saya kepada almarhum. Betapa dengan helai demi helai bunga, tetesan keringat, dan luapan semangat Ayahnya Rere (nama puterinya berarti..) telah membawa kehidupan dan cinta saya ke tataran lebih tinggi dan layak. Saya yang yatim piatu dan jauh-jauh dari Semarang nekad ke Bogor agar bisa sekolah sambil bekerja di warung padang bisa diangkat harkatnya oleh mendiang Ayah dengan cintanya. Helai daun dan bunga yang layu atau luruh menandakan betapa susah saat kami harus mengalami pasang surutnya penghasilan dari berjualan bunga. Bahkan anak pertama kami harus meninggal karena tidak mampu menebus obat lantaran musim penghujan yang hebat sehingga bunga tidak laku dan dana tak mencukupi. Tapi yakinlah dengan cinta yang kuat maka segalanya akan bisa dijalani bahkan semua ujian bisa ditaklukkan dengan doa dan syukur ikatan cinta.

Wow.. ini dahsyat sahabat.. satu pengalaman bagi bujang tua sepertiku untuk secepatnya mengakhiri kesendirian ini dan membuktikan merinding disko-ku akan kekuatan cinta dalam ikatan perkawinan. Tegukan terakhir kopi yang mendingin karena lamanya kami berbincang ternyata juga akhir dari butiran air yang tercurah dari langit. Waktunya bagiku untuk berterima kasih atas tumpangan berteduh, secangkir kopi, dan pelajaran tentang kekuatan cinta. Terima kasih yang sama juga terlontar dari beliau mengiringi keluarku dari tokonya dan permintaan sudi mampir jika suatu saat pergi ke Bogor lagi.

Saat melangkah ke si Merah Centil yang cemberut karena kehujanan, nampak sebuah mobil Jepang berwarna merah yang merknya seperti jenis musik menepi ke depan toko. Satu sosok berjas putih yang familiar buatku yang sejatinya seorang tenaga kesehatan keluar dari mobil itu. Ups.. seorang gadis (karena sepertinya lebih muda dariku) dan manis nampak masuk ke arah toko bunga. Haiyah.. pasti mau beli bunga juga nih si bu dokter (nebak aja sih). Namun teriakan kecil menghentikan gerakanku untuk menyeret si Merah Centil. Ternyata si Ibu yang melambaikan tangannya agar aku kembali ke toko. Aduh.. penyakit lupaku apa kambuh ya? Aku raba seluruh sisi celana jeans-ku untuk memastikan bahwa HP, dompet, rokok dan koreknya, atau sapu tangan tidak tertinggal. Setelah semua lengkap aku menghampiri lagi si Ibu dengan harapan dapat bunga setangkai lah (ngareppluspamrih.com).

Beliau kembali tersenyum manis dan tak lama si gadis berjas putih keluar dari toko dan Ya Tuhan.. di papan nama kecil yang tersemat di jasnya tertulis “dr. Rere”. Gusti Pangeran.. jadi anaknya si Ibu seorang dokter ayu yang sedang dinas di Puskesmas?? Sahabat.. inilah yang aku bilang bodoh barusan.. kenapa tidak terlintas bahwa puteri beliau seorang dokter? Kenapa hanya bidan atau perawat saja yang di otakku? Ealaaah.. apa karena si Ibu hanya penjual bunga? Bodooooh bodoh bangeeet… Senyum manis dr. Rere mengembang sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan dan berterima kasih karena sudah membantu Ibunya. Mak jleb! Cep Klakep.. aku gak iso ngomong maneh.. gagap seketika plus senang sekali melebihi dari harapan mendapat bunga dan pengennya hujan turun lagi… Agar bisa berteduh lagi meski si Merah Centil akan semakin cemberut lagi.. Ayooo hujan lagi doooong…

Iklan
  1. Februari 12, 2013 pukul 10:53 AM

    Nah ini.. Bagaimana follow up-nya? hehehe…

    • Februari 12, 2013 pukul 3:34 PM

      sabar.. nunggu ke Bogor lagi.. tokh nanti kejadiannya bakal sama dengan postingan kedua setelah postingan ini bro.. 😦

  2. Franzezcha Nio
    April 4, 2013 pukul 10:02 PM

    saya suka yg satu ini
    boleh nyontek kata2 si ibu ya P,,,
    Tapi yakinlah dengan cinta yang kuat maka segalanya akan bisa dijalani bahkan semua ujian bisa ditaklukkan dengan doa dan syukur ikatan cinta

    • April 5, 2013 pukul 11:42 AM

      Nio.. kali ini NYONTEK diperkenankan dan sangat dianjurkan..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: