Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan Hujan..

Akoe dan Hujan..

Mataku masih nanar menatap sekeliling mess yang riuh karena suara hujan menari-nari. Di atap mess.. sehingga ada satu titik talang air yang bocor membasahi lantai teras termasuk si Merah Centil yang terparkir kedinginan. Di rerumputan depan mess yang membuat genangan bak danau kecil yang memanjakan para kodok untuk kontes suara “paling menyebalkan” penghuni mess tiap malam. Tak ketinggalan di pohon jambu biji tepat belakang kamar mess-ku yang membuat gemerisik laksana suara dari dunia lain.

Yah.. sudah seminggu lah kira-kira hujan mengguyur bumi pertiwi dari Sabang sampai Merauke. Di tempatku bekerja sudah terasa imbasnya karena banyak operator yang tidak masuk karena terhalang hujan maupun tempat tinggalnya kebanjiran atau sekedar akses jalan ke arah pabrik tergenang lautan air. Efeknya juga membuat mata nanar melihat lembar absensi dan otak berpikir keras untuk mempertahankan kelangsungan produksi. Risiko itu bung!

Hujan.. semula hanya kumaknai dengan “siap tempur” keliling pabrik untuk mengamankan bahan kemas dan barang jadi dari serangannya sehingga harus berbasah ria dan minum obat setelahnya. Tetapi entah kenapa di satu sudut kamar mengingatkan akan beberapa peristiwa masa lalu yang menegaskan indahnya cerita aku dan hujan..

 

Aku dan wanita..

Berhubung hanya punya motor tentunya banyak cerita kehujanan bersama pujaan hati. Mulai dari sekedar jalanan di Jogja, Solo, Jakarta, atau yang paling ajiib ya dari Madiun ke Jogja. Untuk yang itu bisa tanya ke si TC deh.. dia yang bisa menjelaskan dua pantat yang setia di atas joknya di balik rimbunnya mantel hujan dan segala aktivitas seru sepanjang hujan itu. Kalau si MC sih baru sekali berhujan ria bersama wanita dan itu cukup mengesankan karena si wanita ngaku belum pernah hujan-hujanan sekalipun itu dengan prianya.

Aku dan Rasa Berani..

Dulu begitu takutnya aku dengan dunia lain.. Yang setan, kuntilanak, genderuwo, dan sejenisnya. Namun saat awal nge-kost di Mabeskosta (jaman SMU) dan harus menjemput keponakan empunya kost eh sampai sekarang gak takut lagi sama begituan. Masalahnya waktu itu hujan deras, jam 10 malam, dan harus melewati kuburan Pastor di belakang SMU-ku dulu di daerah Pringsewu – Lampung untuk mencapai lokasi latihan koor si keponakan tersebut. Hemh.. nekat tapi berkat..

Aku dan Jerman..

Kalau yang ini sih agak katrok karena aku nekat bermandi hujan di saat orang-orang berteduh karena mengatakan bahwa itu hujan yang cukup lebat. Kejadiannya sih di salah satu sudut jalan Kaiserstrasse-Karlsruhe-Jerman saat ada tugas dari pabrik lamaku beberapa tahun yang lalu.. Padahal kalau di Indonesia itu mah gerimiiiis.. Yap beda tingkat curah hujan tentunya menjadi alasan bedanya penilaian antara aku dan mereka terhadap kelebatan hujan kala itu.

 SAMSUNG DIGIMAX A403

Aku dan Bola..

Kalau yang ini mah jangan ditanya.. jangankan untuk bermain futsal atau sepakbola, sekedar nonton kedua permaianan tersebut saja aku jabanin untuk bermandi hujan. Dari tingkat kompetisi tarkaman atau sekelas final Indonesian Futsal League. Dan percayakah? Bahwa saat anak buahku menjenguk ke Mabeskosmar karena mendengar aku sakit demam dan mereka ria berbasah ria, aku justru asyik nongkrong di lapangan futsal sekedar melihat orang-orang yang tak kukenal bermain.. sendirian dan tentunya juga hujan-hujanan di jalan.

Aku dan … (masih banyak lagi) tapi sekarang waktunya hujan-hujanan lagi nih.. soalnya produksi terhenti karena hujan menghalangi perpindahan barang.. tinggal dulu ya..

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: