Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan Om Dhanie.. Mentor Pertamaku..

Akoe dan Om Dhanie.. Mentor Pertamaku..

Pak, sering nonton Mario Teguh ya?”.. tanya anak buahku kemarin pagi. Aku terkejut waktu itu sambil mengerenyitkan kening sebab aku tidak begitu sering melihat om Mario bercuap-cuap dengan Golden Ways-nya. Ketika balik kutanya kenapa? Ternyata dia dengan seksama mengikuti briefing pagiku setelah pulang shift malam, menghabiskan satu jam bersama anak-anakku tepat sebelum mereka pulang kerja. Ternyata ada pula yang mengamati gayaku…

Yah, memang setiap briefing kubawakan dengan sedikit kreatif, dengan berbagai pelajaran hidup yang kubaca dari buku atau kuperoleh dari video-video motivasi dan pengalamanku sendiri. Ambil contoh mengutip lirik lagu gawean Ahmad Dani untuk Regina Sang Pemenang Indonesian Idol 2012 “Kemenangan adalah milik orang-orang yang berjuang dan berdoa”. Kadang aku bagikan ke anak-anak dengan ditambahi sedikit syarat untuk menang.. yaitu bagi mereka yang berdoa, berjuang, dan beruntung.. Lalu aku sambung dengan “Kemenangan terbesar adalah saat kita bisa bersyukur atas semua yang kita terima: cobaan, rejeki, godaan, dan lain sebagainya”. Hemh.. aku juga paling suka membuat akronim misal “ Bapak akan mencari CINTA di line ini selama bulan Juli.. “Cleanliness, Initiative, Normative, Teamwork, and Appreciation” lalu aku terjemahkan dan terangkan maksudku.. Bukan aku mencari cintaku di pabrik ini looh.. heheheehe..

Hal lain yang aku lakukan adalah menggunakan idiom yang ada seperti “menolong anjing yang terjepit pintu” atau “nggebukin orang gila” untuk hal-hal yang barangkali ada dalam interaksi kami. Permainan kata, mimik, gesture, dan intonasi juga turut kubawakan dalam setiap aku berdiri di tengah mereka. Yang jelas, aku ingin ada ritme dimana mereka juga berinteraksi dengan apa yang sedang kubahas atau sampaikan. Sehingga training, briefing, sharing, dan sejenisnya tidak membosankan atau kata kerennya GAYUS.. GARING dan JAYUS..

Yap, bisa jadi anakku di paragraf awal mengira aku tiru-tiru Mario Teguh, Andrie Wongso, Anthony Dio Martin, Tung Desem, dan bejibun motivator lainnya. Tapi yang jelas aku sampai di tahap ini karena mentor-mentor terbaik dalam kehidupanku. Mentor pertama masih hidup sampai sekarang dan selalu kukagumi. Namanya Bernardinus Putro Zardani atau akrab dipanggil Om Dhanie..

Si Om ini adalah seorang  pengajar di SD Fransiskus Pringsewu, salah satu kota di Lampung. Aku adalah muridnya? Bukaaaan.. sebab kami bertemu saat aku menginjak bangku SMA dimana beliau yang kala itu masih melajang adalah senior di tempat kosku Mabeskosta (Markas Besar Kost Agus) di satu sudut Pringkumpul, bagian dari Pringsewu juga. Walau bukan murid sebenarnya, tetapi bagiku beliau tetaplah guru bin mentor yang turut mencetakku menjadi seperti sekarang. Bisa nggitar dari beliau, belajar akting dan drama dari beliau, menjadi manajer team bola yang asyik juga dari beliau. Aku masih ingat waktu itu saat perebutan tempat ketiga di kejuaraan sepakbola SD, anak-anak muridnya diberi coretan cat merah putih di kedua pipi masing-masing anggota team, biar tetap semangat. Yap!! Aku belajar KREATIF dari beliau.. bagaimana untuk membuat yang biasa menjadi luar biasa..

Jikapun diadakan polling.. dengan anak-anak muridnya yang sekarang sudah banyak dan beberapa sudah sukses, pasti akan setuju bahwa beliau adalah sosok pengajar yang top markotop. Bagaimana tidak, bocah-bocah SD dengan luwesnya bermain operet, drama, dan seabreg kegiatan seni. Beberapa muridnya juga pernah mengadu nyali dengan berlaga di lomba kesenian tingkat nasional di Jakarta. Aku masih ingat ada Koko (seruling), si Anjas (gitar), Ika (pianika), dan Fian (gitar).. semoga tidak salah maklumlah sudah tua.. hehehe.. Yup!! Aku belajar PEOPLE MANAGEMENT dari beliau.. bagaimana mengelola beberapa kepala dan beberapa ide plus beberapa keterbatasan dan kelebihan menjadi satu hal yang layak untuk diberi acungan jempol..

Kesederhanaan dan kejujuran, tanggung jawab, dan sportifitas juga aku pelajari dari si Om kurus ini. Bagaimana untuk legowo dan menerima setiap kekalahan.. atau sebaliknya bagaimana merayakan setiap kemenangan.. Termasuk bagaimana menghargai diri sendiri, apa adanya dengan apa yang kita punya, tanpa harus berpura-pura. Gak punya motor ya jalan.. gak usah minjem kalau gak perlu-perlu banget. Itu dulu yang pernah ditanamkan Om padaku. Atau saat beliau marah besar ketika aku pura-pura datang kepadanya dengan tangan berlumuran darah. Aku sempat didiamkan beberapa hari.. Nasehat beliau “Jika kamu mulai berpura-pura, suatu ketika tidak ada yang peduli saat kamu sungguh-sungguh”. Tapi yang jelas si Om memang luar biasa.. Kali ini aku belajar untuk selalu APA ADANYA.. Matur nuwun ya Om.. Saya belajar untuk mengatur orang dengan kreatif tetapi tetap apa adanya tanpa rekayasa atau tipu daya..  Baru aja ketemu nih FB panjenengan.. Semoga Tuhan Yesus selalu memberikan yang terbaik untuk Om Dhanie dan keluarga..

Iklan
  1. Bernardinus Putro Zardani
    Oktober 22, 2012 pukul 11:16 PM

    Aku dgnmu, entah siapa yang ada dimuka cermin. Bagiku tak ada bedanya. Manakala seseorang bercermin padaku, akupun bercermin padanya jua. Sungguh luarbiasa imajinasi karya tanganmu. Hidup yang penuh semangat ini pasti tak akan pernah pudar andai tiap insan yang kita jumpai bisa menyalakan memberi semangat yang luar biasa. Maturnuwun Mas. Aku ga bs banyak mengungkapkan banyak hal karna rasa ini tidak bisa terungkap oleh kata-kata. Maturnuwun, maturnuwun.

    • Oktober 30, 2012 pukul 1:44 AM

      Amiiin Om.. sami2 maturnuwuuuuuun

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: