Beranda > Menikmati Pekerjaan Ala DP > Manajemen Hidup ala Pintu Rusak..

Manajemen Hidup ala Pintu Rusak..

Aku tertegun malam ini ketika melihat pintu itu masih rusak dan belum diperbaiki. Yah.. barangkali order permintaan perbaikan yang kutulis ke pihak yang berwenang belum bisa dikerjakan karena ada order lain yang lebih mendesak. Pintu yang kumaksud adalah dua pintu bersebelahan yang dilengkapi automatic door closer di area kerjaku. Satu pintu tuasnya patah, sedangkan satu pintu lagi karena terlalu keras mendorong maka justru terbalik arah buka tutupnya sehingga tidak bisa menutup sempurna. Tidak ada yang spesial saat itu karena yang ada aku kecewa sebab kedua pintu tidak bisa digunakan dengan semestinya.

Namun saat kembali ke ruangan kerja, aku tertarik untuk membuat coretan singkat ini. Satu coretan yang terinspirasi dari pintu-pintu yang rusak tadi. Aku beri judul Manajemen Hidup ala Pintu Rusak..  atawa MHPR (kalau MPR nanti digugat rakyat Indonesia).

Sahabat, pernahkah terpikir olehmu bahwa dalam kehidupan kita, ada beberapa hal yang memiliki batas maksimumnya? Dalam karir, cinta, kesehatan, dan keuangan? Bagi mereka yang tidak pernah puas akan suatu ‘pencapaian’ tentu saja akan bertepuk dada dengan mengatakan bahwa semuanya tanpa batas atau ibarat iklan ‘unlimited’. Iklan apa? Iklan salah satu provider jasa telekomunikasi swasta yang pernah saya lihat dan mak jleeeeb mengoyak ulu hati saya. Bagaimana tidak, dalam dua iklan yang satu modelnya cowok dan lainnya seorang cewek, prolognya tentang menentukan JODOH.. Asyeeem..

Kembali ke coretan lagi.. Ketika melihat kenyataan pintu rusak dengan beda kondisinya, saya merasa bahwa pintu rusak tersebut sungguh mewakili bagaimana kita dalam menyikapi hidup ini. Ada batas yang tak bisa dipaksakan dan bilamana kita lewati, akibatnya adalah suatu kegagalan, kehancuran, dan kerusakan yang tak pernah bisa kembali lagi seperti semula.. Semua perlu dijalani sesuai porsi dan kemampuannya, tanpa melebihi takaran yang telah disematkan.

Dalam KARIR misalnya.. Adakalanya seseorang bekerja luar biasa rajin hingga tak kenal waktu, tak kenal lelah, sampai kadang lupa pulang sampai dibuatkan lagu berjudul Bang Toyib.. Ada pula yang nekad tabrak sana tabrak sini, sikut sana sikat sini, jilat sana suap sini dan seterusnya guna mencapai jabatan yang diinginkan. Hasilnya.. yang lupa waktu segera dapat penyakit, yang menghalalkan segala cara akan terkuak pula belangnya bahkan terjatuh di episode akhir kisahnya. Ingatlah satu nasehat  bijak dari Kiai Hasan Ulama.. “Sumur bening ora bakal golek timbo.. yang kira-kira artinya jangan sia2kan waktu untuk mencari jabatan tetapi jika amanat itu datang kepada kita, embanlah dan laksanakan” dikutip dari buku Sepatu Dahlan karangan Khrisna Pabichara. Bukan kita sebenarnya yang mencari jabatan, lantas kenapa harus memaksakan diri untuk mengejarnya?

Lalu dalam CINTA.. jelas dong, walau usiaku tak lagi muda, tapi aku masih ingat bagaimana dalam drama-drama percintaanku, selalu kujumpai batasan yang tak bisa dilanggar. Ada yang tidak mau dipacari, ada yang gak rela diputusin, ada yang marah-marah diselingkuhin, ada yang merayu kalau dicuekin dan sebagainya. Coba saja paksakan untuk terus melakukan hal-hal di atas, hasilnya pasti… uang ludes untuk PeDeKaTe, pertengkaran kecil yang melukai hati, dendam yang tak kunjung berakhir dan sebagainya..

Satu lagi dalam KESEHATAN, naaah kalau ini lebih mudah menjelaskan bagaimana MHPR diterapkan.. Ambil satu contoh kamu yang tidak biasa main futsal, kemudian memaksakan diri untuk main futsal selama dua jam nonstop. Apa hayo yang terjadi.. tinggal pilih saja, pingsan, kaki keseleo sampai sebulan, bolos kerja seminggu, atau tidak bisa pulang dari lapangan. Semoga bukan pilihan-pilihan yang tadi deh..  Tentu ada kondisi tubuh yang tidak memungkinkan kita untuk melakukan sesuatu di luar batas kemampuan kita bukan?

Terakhir dalam KEUANGAN.. Tentu MHPR erat dengan pepatah Besar Pasak Daripada Tiang..  Kalau kantong tipis ya tetap saja tidak akan mampu untuk meladeni lapernya mata kita kala jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Jangankan akhir bulan, bagiku saja gajian sudah ibarat pepatah “urip ki mung mampir ngombe..” nah, ganti kata urip dengan gajian. Selesai deh.. gajian cuma mampir bentar, gak bisa buat macem-macem dan aku tahu akan besar risikonya jika melanggarnya… puasa lebih cepat heheehe…

Sahabat.. MHPR yang kucoretkan sebenarnya lebih berpegang bahwa selalu ada batasan dalam hidup. Sekali kita paksakan, hanya ada dua kemungkinan : patah yang berarti harus ada perbaikan bahkan penggantian, atau justru berubah arah dari yang semestinya dijalani. Dah cukup dulu ya.. mau nelpon si tukang dandanin pintu nih…

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: