Beranda > Pelajaran Hidoepku > Ketika Cinta Ibarat Mencuci Piring dan Baju…

Ketika Cinta Ibarat Mencuci Piring dan Baju…

Sahabat.. masih ingat filosofi cinta seperti membuat karamel versi Ibuku? Nah.. kali ini ada lagi versi lain menurut beliau, saat aku menikmati liburan panjang kali ini di rumah Lampung. Semula hanya rutinitas kecil belaka, saat menjelang sore kubantu beliau mencuci piring dan baju, serta beberapa kain dekor pengantin seusai malamnya beliau merias di kampungku. Tak ada yang aneh awalnya, kulakukan semua dengan sewajarnya, mulai dari mencuci, membilas, hingga meletakkan piring dan gelas di raknya atau pakaian dan kain di tali jemuran. Tapi menjadi ‘sesuatu’ ketika kusadari sepasang mata beliau mengawasi setiap gerakanku..

Kenapa bu? Ada yang salah ya?” tanyaku mengejar penasaranku.

“Enggak.. cuma agak kaku keliatannya, mungkin karena Mas sekarang jarang melakukannya” tukas beliau. Jelas lah.. wong ada si teteh di mess yang mencuci pakaianku.

“Lah.. mosok sih? Nggak luwes lagi ya Bu.. Tapi kok kalau Ibu kayaknya fasih banget” cecarku..

“Yo jelas.. karena Ibu biasa melakukannya, apalagi kalau sama Bapak, bisa lebih cepat selesainya. Tar kalau sering nyuci lagi, pasti Mas luwes lagi” sahutnya cepat.. sambil senyum penuh arti.

Duar!! Ternyata karena walau kubantu ternyata tidak begitu memperingan kerja beliau. Justru kalau sama bapak malah lebih cepat. Padahal kalau masalah yang ini rasanya aku lebih luwes gerakannya dari bapakku. Malamnya setelah mereka beranjak tidur, aku menikmati segelas kopiku dan masih menikmati lagu dari hape, tiba-tiba terlintas lagi percakapan tadi sore dengan Ibu.

Coba baca lagi percakapan di atas, ada yang istimewa? Bagimu mungkin tidak.. tetapi saat kularutkan dalam kehidupanku akhir-akhir ini.. Tiba-tiba ada makna yang dalam.. terutama dalam kehidupan cintaku. Yah.. lama tak berpacaran, membuatku kaku saat dekat lagi dengan sosok wanita. HAMPIR MATI RASA.. walau bisa kututupi dengan segala canda dan tawa yang kupunya. Semuanya kaku dan bahkan aku bisa kehilangan momen di saat-saat kritis dan menentukan.

Gerakan mencuciku kaku dan tak luwes.. begitu memang kurasakan dalam cintaku. Rasanya tak bisa lagi kunikmati iramanya yang mendayu. Kesan-nya terburu-buru dan aku tak mau menikmati prosesnya lagi. Cenderung tegas terhadap waktu dan segera usai dengan hasil.. Mau indah atau pahit bodo amat. Tak ada lagi seni dalam menjalaninya.. Yah.. tak seperti dulu memang.. Bagaimana wanita bisa termehek-mehek denganku (jiaaah.. pede abis.red)

Bersamaku seolah melambat, sedangkan bersama Bapak lebih cepat.. Jelas memang karena ada chemistry yang lebih di antara mereka. Saling melengkapi dalam berbagai aspek rumah tangga. Saling mengerti dan memahami sehingga hasil pekerjaan lebih baik dan tak ada banyak masalah untuk menyongsong pekerjaan demi pekerjaan berikutnya. Sedangkan aku? Wuaah.. banyak sewot dan marahnya walau kadar sabar semakin tinggi. Tapi aku cenderung keras dan tanpa kompromi sekarang.. Inikah karena hilangnya sentuhan kelembutan dari pasangan seperti yang dulu kupunya?

Kalau sering nyuci.. pasti luwes lagi. Blaaam!! Ini jawabannya. Walau awalnya kaku, tapi harus kupaksakan. Karena dengan hitungan waktu berjalan, pasti akan luwes lagi. Artinya? Ya cepat berlabuh di satu hati bukan? Dalam perjalanannya.. aku dan pasangan pasti akan bisa saling melengkapi dan kali ini akan bisa menyelesaikan pekerjaan demi pekerjaan lebih dari sekedar “mencuci piring dan baju” dan lebih cepat dari bapak dan ibu. Lihat aja ntar Bu.. hehehehe..

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: