Beranda > PLUS plus > Biarkan Ombak Menghempas Bebas.. Semaunya…

Biarkan Ombak Menghempas Bebas.. Semaunya…

Satu ketika ada waktu senggang yang membuatku kabur sementara dari rutinitas kerja di kawasan industri daerah Cikande-Serang untuk pergi bersama team leader dan supervisor ke kawasan Anyer. Tujuannya jelas, apalagi kalau bukan menikmati sejenak suasana pantai meski secara perhitungan kami tahu bahwa akan menjelang siang sesampainya nanti kami di sana. Tapi tak apalah.. dengan semangat ‘45 kamipun langsung tancap gas dan melesat.

Sesampainya di sana, apalagi yang kami lakukan selain langsung berganti baju dan mulai meraup gelak tawa dan keceriaan dari maen air, kejar-kejaran, maen bola, atau sekedar menikmati ombak yang menghempas badan sambil tiduran. Menikmati ombak? Triiing.. layaknya jin di sinetron televisi pikiranku mulai melesat meninggalkan keceriaan di tengah team. Aku mengejar sendiri kenikmatan rohaniku tatkala beberapa kali ombak menerpa punggung atau dadaku tergantung posisiku menyongsongnya..

Panasnya siang hari tak mampu membuat pikiranku untuk sejenak berteduh tapi justru merangsangnya untuk semakin larut dalam perjalanan rohani meresapi peristiwa yang aku alami. Yah.. ombak yang satu demi satu, kadang dua tiga ombak kecil mengalun berkejaran ke tepi pantai dan menghempasku. Kadang lembut.. kadang keras hingga asinnya air laut harus kunikmati melalui hidung dan mulutku. Butuh beberapa waktu dalam hitungan menit hingga pikiranku berteriak.. “Yup.. dapat juga pelajaran hidup hari ini!!…”

Ombak yang datang menghempas.. aku maknai sebagai dinamika dan segala pernik masalah dalam kehidupanku. Kadang lembut laksana kesenangan, keceriaan, keberhasilan, pujian, dan kepuasan hidup yang beberapa kali aku alami. Namun di saat lain si ombak terasa keras menerpa.. ibarat kegagalan, penolakan, penghinaan, pelecehan, kekecewaan, atau makian yang tak jarang kuterima dalam perjalanan hidupku. Semuanya sama.. mau lembut, atau keras, bisa datang satu bergantian.. atau dua tiga hampir berbarengan. Dalam hidup pun aku merasa bahwa dalam satu rentetan waktu kunikmati indahnya atau sebaliknya kutelan pahitnya. Jika bergantian aku masih bisa bersyukur dan menerimanya sebagai warna hidup. Tapi saat berbarengan dan sama.. Jika itu indah, akupun terbuai dan lupa segala cara untuk mensyukurinya. Pun jika pahit? Aku seolah lupa siapa yang mencipta dan maha kuasa sehingga mengumpat dan merendahkan-Nya, mulai dari keluhan tak adil hingga teriakan “Engkau dimana Tuhan?!?..”

Aku membiarkan posisiku menikmati ombak agar pikiranku tetap bebas berkelana dan mencari jawabnya. Hingga beberapa menit berlalu dan aku mulai menikmati hempasan ombak sebagai sesuatu hal yang biasa, tak lagi terasa keras atau lembut, tapi sungguh tetap bisa kunikmati dengan posisi yang sama, tanpa aku bergeser dan beringsut ke arah lain, tanpa takut akan besarnya si ombak dan begitu mengasyikkan menerima variasinya.

Dari situlah aku dan pikiranku menemukan satu jawaban.. betapa jika aku tetap tenang, menikmati, dan “ajeg” maka ombak menjadi sesuatu yang biasa dan tetap mengasyikkan. Begitu pula dalam menyikapi beberapa peristiwa hidup yang menerpa.. aku harus tenang dan tanpa rasa takut. Aku harus menikmatinya dan tidak lari dari peristiwa demi peristiwa, baik susah atau senang, duka atau tawa, pahit maupun manis, dan semacamnya. Tapi yang terpenting ternyata aku harus “ajeg’ dan tak beringsut. Aku tak boleh berpaling dari-Nya. Karena dengan berpegang dalam nama-Nya, aku ibarat batu karang yang tak pernah gentar dengan sebesar apapun datangnya ombak. Biarkan si ombak menerpa bebas semaunya, tapi si karang tetap teguh kokoh tak bergeming. Dalam hidupku, dalam nama-Nya, takkan lagi ku takut akan dinamika dan cobaan hidup yang akan kunikmati. Bila kebahagiaan.. maka aku nikmati dengan ungkapan syukur dan kewaspadaan agar tidak larut dalam euforia hidup. Andai kepahitan yang datang.. akan tetap kuterima dengan kepasrahan agar Dia membimbingku untuk melewatinya. Biarkan sang ombak menghempas bebas.. karena dalam nama-Nya itu takkan membuatku celaka…

Iklan
  1. Mei 20, 2012 pukul 10:09 AM

    kadang kita lupa bersukur ketika diberi kelebihan nikmat dan kadang kita menyalahkan-Nya ketika kesuhahan datang menderu, sesekali kita perlu menjauh dari keramain untuk menjernikan pikiran untuk dapat menerima semua pemberian-Nya agar kita menjadi manusia yang bersyukur baik dalam susah atau senang

    (salam kenal, bagus postingannya memberi pencerahan)

    • Mei 22, 2012 pukul 1:29 AM

      Salam kenal mas Fajar.. dari Pontianak ya.. nanti gantian saya saya kunjungi balik, saling share ya…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: