Beranda > Pelajaran Hidoepku > Luluh Lantak Oleh Dua Tia.. karena Tuhan Ajaib dengan caraNya sendiri..

Luluh Lantak Oleh Dua Tia.. karena Tuhan Ajaib dengan caraNya sendiri..

Hari sudah berganti ketika jemari mulai nakal menari.. Menggabungkan abjad demi abjad karena gejolak hati. Akh.. harus kutuliskan coretan ini sebab tak mampu kubendung lagi. Edan!! Sepanjang hari ini emosiku diremuk dan diluluhlantahkan oleh dua wanita bernama Tia.  Satu kukenal di masa sekolahku sedangkan yang lain di kehidupanku sekarang. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan tulisan ini karena menulis berarti berteriak tanpa suara, mengaduh tanpa isak tangis, mengeluh tanpa lenguhan, dan menggalau tanpa…

Tia yang pertama.. namanya Tiaudin.. ups.. malah melenceng ke si artis karbitan. Sosok gadis yang sekarang beranjak remaja dan sedang berusaha menamatkan pendidikan kebidanannya di sudut Tanggamus, Lampung. Gadis semampai yang dulunya aku kenal dengan si bule yang suka jajan, cengeng, dan rewel minta ampun. Tapi.. rasanya kalau dulu gak ada dia sehari saja, maka MABESKOSTA (kost-ku  zaman putih abu-abu) akan sepi. Kami akan kehilangan sosok kecil nan riang yang cuek bebek pake CD dan kaos singlet doang selepas pulang TK untuk nganjang ke kamar demi kamar kos-an. Satu kebiasaan yang pasti takkan berani diulanginya sekarang, setelah belasan tahun berlalu.. hehehee.

Si kecil Tia.. sekarang telah tumbuh sebagai sosok yang membuatku tercengang melihat foto-fotonya ketika praktek menangani persalinan. Dia yang dulu sempat kupikir akan jadi gadis nan manja ternyata menjungkirbalikkan apa yang ada di benakku kala itu. Sungguh Tuhan ajaib dengan caranya sendiri.. mengubahnya menjadi sosok yang tak manja walau kadang masih ababil dan galauers juga. Seakan tak percaya kala ku-SMS dan dia merespon kagumku dengan satu permintaan agar didoakan tahun depan wisuda. Ah Tia.. malu mas menebak akan jadi apa dirimu hanya dengan melihat masa kecilmu. Pasti mas doakan semoga kamu lulus tahun depan dan segera mendapat pekerjaan yang terbaik untukmu.

Nah.. hari ini ada satu Tia lagi yang mengaduk emosiku. Tia kali ini kukenal dalam satu kesempatan di pekerjaanku. Sosok yang selalu kulihat riang walau akhir-akhir ini sering sedih terutama justru menjelang hari bahagianya. Yap.. kemarin dia menikah, mengakhiri drama demi drama kehidupan cintanya. Dalam resepsi yang sederhana setelah sempat tertunda, terlihat begitu cantik dan dewasanya dia menyambut tahap baru dalam hidupnya. Selamat Tia.. semoga bisa mengarungi bahtera keluarga dengan sempurna dan saling setia dengan suami hingga tutup usia.

Namun ada satu sesi dalam resepsi yang membuatku galau setengah mati.. eh setengah hidup. Yaitu tatkala aku berbincang dengan ayahnya sembari menunggunya menyelesaikan sesi foto keluarga. Ayahnya yang masih terlihat kuat walau termakan usia menceritakan bagaimana Tia si sulung menjadi kebanggaannya. Apa sebab? Gaji si Tia setiap bulan hanya diambil untuk makan dan bayar kost, selebihnya.. untuk membiayai sekolah keempat adik-adiknya. Jika tidak ada sandaran kursi waktu itu, aku mungkin sudah terpental mendengarnya.. (semoga gak lebai-lebai amat). Jelas kutahu berapa besar gaji si sulung kebanggaan orang tuanya itu. Dan.. tak dapat kupercaya dia bisa menutupinya dengan segala keriangan dan senyumnya.

Tia yang terakhir ini  juga masih dalam usia remaja.. dan dia mengorbankan hasil jerih payahnya untuk tidak dinikmati guna kepentingan pribadinya. Begitu mulia hatinya untuk total mempersembahkan itu guna kepentingan adik-adiknya. Akh.. aku jadi menangis dalam hati karena akupun tak sanggup lakukan itu. Kadang masih  suka senang-senang gak jelas, foya-foya, dan memburu kesenangan pribadi tanpa menyisihkannya buat keluargaku. Walau mulai akhir tahun lalu sudah kutebus.. tapi jelas kalah jauh dari Tia yang satu ini, yang sedari pertama bekerja sudah melakukannya. So.. galauku.. setelah si Tia menikah.. siapa yang akan membiayai adik-adiknya? Aku hanya percaya Tuhan ajaib dengan caranya sendiri.. Pasti akan ada jalan untuk itu semua.

Sahabat.. ada dua hal yang akan aku bagikan dalam coretan ini namun semua bersumber pada satu kalimat “Tuhan ajaib dengan caranya sendiri”. Pertama.. kita tidak akan pernah tahu kita atau orang lain menjadi apa. Banyak proses yang membentuk seseorang untuk menjadi apa yang telah digariskan Tuhan padanya. Bisa diawali dari kenakalan menjadi kealiman atau bahkan sebaliknya. Tia yang pertama menjadi bukti untuk hal ini. Kedua.. Sekecil apapun, jika kita berniat sungguh, maka kita bisa menjadi kebanggaan keluarga karena telah mengambil satu peran penting di dalamnya. Tidak melulu dengan harta yang kita punya, namun bisa dengan perhatian, cinta, dan pengorbanan untuk mengedepankan yang lebih penting. Tentu, Tia yang kedua menjadi contoh nyata. Sekarang.. apakah kita masih tidak megijinkan agar Tuhan ajaib atas diri kita? Pasrah, Iman, dan Doa yang sungguh-lah yang dapat mewujudkannya.. Selamat pagi sahabat…

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: