Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan Sosok-Sosok Maria Dalam Hidupku..

Akoe dan Sosok-Sosok Maria Dalam Hidupku..

Saat berkutat dengan dashboard blog sederhanaku.. aku melihat bahwa target awal untuk coretanku adalah 120 post. Hemh.. menulis sebenarnya bukan masalah target bagiku.. Semua mengalir apa adanya. Tapi entah kenapa aku ingin berikan yang spesial untuk coretan ke-120 ku kali ini. Setelah dari kemarin nemu judul yang menurutku dahsyat.. Aku sekarang merasa mantab untuk membagi kisahku dengan beberapa sosok bernama Maria.. yang terasa istimewa di kehidupanku. Namun sebelumnya.. aku mohon maaf jika  beberapa nama yang kusebut kurang berkenan dengan coretan ini. Paling tidak terima saja sebagai ungkapan tulusku akan betapa spesialnya kalian di hidupku.. Pun jika ada Maria yang tidak kusebut, tetaplah dirimu spesial karena aku telah mengenalmu.

Sahabat.. Maria yang pertama tentu saja Bunda Maria, sang penghantar doaku ke hadapan putranya Yesus. Dikabulkan atau tidak, aku hanya percaya bahwa Bunda juga turut serta memberikan masukan untukNya. Jika belum dipenuhi, mungkin hanya sekedar kata “tunggu.. belum waktunya”. Jika dikabulkan tapi tidak seperti yang kupinta mungkin hanya bentuk dari jawaban “sabar.. semua akan indah pada waktunya, ini yang paling kau butuhkan”. Kenapa? Karena kita boleh meminta sesuai apa yang kita inginkan, tapi Tuhan akan memberi sesuai dengan apa yang kita perlukan. Andai tidak dipenuhi pun.. mungkin hanya kiasan dari “bukan.. bukan ini yang pantas kau dapatkan”. Dan jika sudah terpenuhi seperti pinta kita, pasti Bunda Maria dan Yesus melihat bahwa kita pantas menerimanya dan BINGO! Layaknya kisah air berubah jadi anggur saat pesta perkawinan di Kana. Bunda Maria.. terima kasih atas pendampingan dan teladanmu dalam kehidupanku.. untuk sabar dan selalu setia serta penghantar semua doa..

Maria yang kedua ternyata ada juga ada dua.. Keduanya adalah nenekku, yang satu nenek kandung dari Ibu, satunya adalah Ibu dari Ibu kostku semasa SMA. Mbah Maria Adasiyah atau biasa dipanggil dengan nama tenar Mbah Cip (diambil dari nama Mbah Kung), tentu saja menjadi sosok Maria yang nyata dekat dengan kehidupanku. Dari zaman aku masih kecil yang suka ngompolin pesawat radio Mbah Kung (hehehe) sampai sore tadi beliau meninggalkan rencana masak air hanya karena dengar cucunya ini pulang dari rantau. Mbah Maria berikutnya adalah sosok nenek yang sudah kuanggap nenekku sendiri semasa SMA. Beliau yang sudah dipanggil Tuhan sekitar tiga tahun yang lalu turut membentuk pribadiku yang sekarang ini. Mbah uti Maria yang kusebut tadi, keduanya mengajarkan tentang pentingnya rasa kasih, tepa selira, dan menyayangi secara total tanpa pilih kasih. Dalam keadaan kekurangan pun, aku diajarkan untuk lebih mengutamakan untuk membantu mereka yang sangat membutuhkan. Istilahnya kalau perlu daging kita pun diiris untuk makan orang lain. Terima kasih mbah utiku berdua.. Semoga aku selalu bisa memperhatikan orang lain di sekitarku secara total dan tanpa pandang bulu.. Semoga diberikan kesehatan untuk Mbah Uti Maria Adasiyah dan ketentraman di surga mulia untuk Mbah Maria yang sudah berpulang ke dalam kerahiman Bapa.

Untuk Maria yang ketiga.. adalah Maria Dwi Budi Jumpowati. Beliau adalah dosen pembimbing skripsiku semasa kuliah di Jogja. Sosok yang sederhana dan religius serta sabar dan bersahaja. Tegas namun penyayang terhadap semua anak bimbingnya. Walau sudah lama tidak bisa kontak beliau, namun aku yakin beliau selalu mendapatkan yang terbaik dalam karir dan hidupnya. Hal yang seperti kupinta dalam beberapa kesempatan doa malamku. Sebab kuakui kala itu kalau tanpa bimbingannya, mungkin aku belum bisa seperti sekarang ini. Satu hal yang kupetik darinya adalah jangan pernah kompromi dengan hal-hal yang bisa mengganggu waktu doa dan ibadah kita. Aku masih ingat saat berkunjung untuk koreksi draft skripsi, aku harus menunggu sampai setengah jam karena beliau sedang doa sore. Luar biasa.. hal inilah yang membuatku malu kalau memang ada kesempatan bertemu sebab pasti ditanya “Dian, sudah rajin berdoa kan sekarang?”. Terima kasih Bu Maria.. Sharingmu tentang bagaimana kita harus takut akan Tuhan saja sangat membantuku saat aku tersudut untuk berbuat yang salah.

Lanjut untuk Maria keempat.. Dialah Maria Rosalin.. Mojang geulis asal Banjar yang kukenal dan sekarang menjadi adikku lewat cara yang luar biasa mustahil dan ajaib. Bermula dari sehelai kertas lamaran yang berisikan nomor hape-nya, yang kudapat dari adik dari operator tempatku bekerja. Si adik kebetulan bekerja sebagai sekuriti tempat si Maria ini mengirim lamaran kerja. Awalnya memang susah karena seolah kami datang sama-sama dari negeri antah berantah. Tapi tangan Tuhan memang dahsyat..  Walau sempat berantem hanya karena bagaimana aku bisa dapat nomor hapenya, setelah tiga kali pertemuan plus kehujanan bersama si telor ceplok di macetnya jalanan ibukota, kami semakin akrab dan saling menguatkan. Eits.. bukan sebagai pacar.. kasihan dia lah, terlalu cantik buaku hehehe. Tetapi sebagai kakak dan adik yang saling sharing jika ada masalah, mulai dari sms, telepon, bahkan BBMan. Yah.. dari si cantik Maria yang sering kupanggil Ocha (walau dia menentangnya), aku belajar bagaimana untuk menghadapi sebuah pertemanan dan persaudaraan baru yang kadang-kadang unik, aneh, dan tidak masuk di akal. Bagaimana dia menghadapi segala liku hidupnya dengan gaya yang kadang cuek tapi simpel.  Hal ini ampuh kuterapkan saat pindah kerja dan mengahadapi semua teman dan team yang benar-benar baru bagiku. Ah.. aku belajar banyak darimu dek.. Thanks ya neng geulis..

Maria terakhir yang ada di hidupku adalah Ia Maria. Satu SMA walau beda angkatan, tentu aku lebih tua. Perkenalan kami dimulai dari lagi-lagi nomor hape yang kali ini diberikan oleh Ibuku. Pesan singkat dari Ibu kala itu adalah “hubungi saja, biar banyak teman seiman”. Walah.. ternyata kami malah bisa membuat satu episode tentang Mbah Kung dan Cucu-nya. Tau kan siapa yang jadi Mbah kung? Ya guwe dooong. Namun episode ini harus kuakhiri karena walau ubanku semakin banyak, ternyata berat menjadi seorang mbah Kung yang harus memberikan teladan yang baik bagi setiap cucunya. Apalagi jika mbah Kung-nya mulai khilaf. Hehehe..  Maria yang satu ini memberi arti bagiku untuk menjalani hidup dengan jujur dan tanpa kura-kura ah pura-pura maksudku. Suka bilang suka, enggak bilang enggak, dan semacamnya.. Yang jelas, berusaha untuk jadi diri sendiri dan jangan pernah berharap orang lain akan mengubah hidupmu (salah satu isi sms-nya). Aku dapat simpulkan bahwa menurut nona yang satu ini, kamu itu ya kamu.. hampir mirip dengan coretanku setahun yang lalu.. Nah Maria yang satu ini menjadi sosok Maria terakhir yang sampai detik aku akan menyelesaikan coretan ini, menjadi Maria-Maria yang istimewa di kehidupanku melengkapi sosok-sosok Maria sebelumnya.

Sahabat.. Apalah arti sebuah nama.. itu salah satu pameo yang berkembang di dalam hidup ini. Aku mungkin juga bisa menulis coretan Akoe dan Joko, Akoe dan Paimin, dan Akoe dengan sosok-sosok lain. Namun dari sosok-sosok Maria di atas, ternyata aku bisa belajar untuk mempunyai sisi lembut dan menyayangi dalam hidup ini. Bukan seorang pribadi yang keras dan tidak flexibel. Hemh.. selesai juga akhirnya coretan ini.. Selamat malam sahabat.. adakah sosok-sosok yang sangat istimewa dalam kehidupanmu?

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: