Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan Mbak Cantik Penjual Koran.. plus Suaminya..

Akoe dan Mbak Cantik Penjual Koran.. plus Suaminya..

Ini kisahku tiga tahun yang lalu.. Ketika masih hidup di seputaran Depok, Jawa Barat. Di sela waktuku aku kadang nongkrong di keramaian jalanan Depok dan sekitarnya. Kadang sendiri atau bersama kawan-kawan. Namun lebih sering sendiri kala penat dalam menghadapi rutinitas kerjaku. Dan favoritku adalah kios koran di sudut Jalan Margonda. Sayang aku tak pernah mengambil gambar kios kecil tersebut sampai terakhir kali kemarin aku tidak melihatnya lagi dan berganti bangunan bengkel motor.

Kios koran itu kecil, tapi lengkap yang dijual, mulai dari Pos Iklan hingga tabloid remaja yang ‘unyu-unyu’ bahkan ada pula yang keluaran Om Erwin Arnada. Ada pula sekotak minuman dingin berbagai merek yang tergolek di samping kios. Yang jagain? Waow.. mbak cantik berjilbab yang sekilas mirip Uut Permatasari. Naah.. bukan itu sebenarnya yang mendasariku untuk sering nongkrong di situ. Tapi ada kisah lainnya..

Aku akrab dengan kios dan penunggunya ketika si TC (Telor Ceplok motorku dulu) tiba tiba mogok di samping kios koran tersebut. Dan hampir sama kisahnya dengan saat ketemu Mbak Rara si penjual Pizza Kramatjati, akupun bisa ngobrol dengan si mbak yang cantik penunggu kios. Aku membeli satu minuman kaleng untuk mendinginkan dongkolku karena si MC mogok di terik panasnya kota Depok. Untuk modal ngobrol kubeli pula satu tabloid tentang sepakbola kesukaanku. Waktu itu cuma setengah jam rasanya dan setelah MC bisa distarter akupun melesat meninggalkan kios.

Beberapa hari berikutnya aku kembali mampir ke kios itu, karena maaf.. kangen dengan keramahan mbak yang OK saja aku panggil mbak cantik. Tapi ternyata kali itu dia ditemani oleh seorang laki-laki yang nampaknya beberapa tahun lebih tua usianya dari si mbak cantik. Basa-basi beli tabloid lagi eh malah dikenalin bahwa laki-laki tersebut adalah suaminya. Ups.. padahal gantengan aku loooh… Tapi ya ampuuuun saat mulai ngobrol dengan Mas Alim.. begitu aku menyebutnya terasa teduh hatiku karena suaranya yang nge-bass begitu sejuk terdengar saat membagikan pengalamannya narik supir angkot. Wuaah.. jatuh hati juga rupanya aku dengan suami mbak Cantik. Rasanya kepenatan kerjaku berkurang saat mengurai satu demi satu pelajaran hidup dari mas Alim.

Selang berapa minggu, saat gerimis sore merayap di kostku, entah kenapa aku pengen banget ketemu mas Alim agar penatku hilang. Waktu itu aku masih ingat aku sedang mengalami minggu yang padat dengan trial mesin dan tetek bengek dokumentasinya. Si MC segera melesat sambil sesenggukan karena basah air hujan sedangkan aku dengan tenangnya berlindung di balik jas hujan. Sampai di TKP eeeh.. cuma mbak Cantik yang ada. Ternyata saat itu mas Alim sedang narik di jam malam (keluar sore pulang malam) sebab angkotnya sistem sewa dan aplusan (baca : gantian) dengan rekan sopirnya yang lain.

Obrolan kecil kumulai dengan nanya berapa lama nikah dan bla bla bla. Walau sesekali mukaku memerah saat si Mbak menanyakan kenapa aku belum menikah walau sudah karyawan tetap. Dasar muka badak, tetap aja aku ngeles “nunggu kembaran mbak mau sama saya..” Aiiih.. Gombalipun medal.. alias gombalku keluar deh. Yang mencengangkan adalah saat aku tanya kenapa menikah sama mas Alim, padahal mbaknya cantik banget. Nggak sopan memang, dan bisa digorok si Mas kalau dia dengar pertanyaanku. Tapi waktu itu konteksnya sedang berkelakar jadi aku ya keceplosan. Mbak Cantik hanya senyum dengar pertanyaanku dan hanya berucap “karena dia rajin ibadah”. Alamaaaak.. kukira wanita cantik maunya banyak dan muluk-muluk. Tapi si Mbak ternyata memilih mas Alim hanya karena dan ibadahnya.

Nah.. berikut kutipan jawaban mbak Cantik yang mau tak mau mendapat tempat untuk mengisi benakku tentang bagaimana melakoni hidup..

“Masku itu, mau rame atau sepi penumpang, jika sedang narik ya ijin ke penumpang untuk sholat lima waktu dulu. Bagi Masku.. Meninggalkan ibadah berarti menjauhkan diri dari pahala dan karunia Allah”

“Menikah dengan orang biasa tetapi rajin ibadah dan beramal di tengah kekurangan kami sehari-hari, rasanya lebih membuat hati tenang dan damai sepanjang hembusan nafas kami berdua”

“Masku gak neko-neko, apa adanya, jujur dan gak pernah ingkar janji, serta gak cemburuan karena selalu percaya aku bisa menjaga mahligai rumah tangga kami”

Sahabat.. kadang mungkin kita tidak percaya diri dengan apa yang Tuhan anugerahkan . Ya fisik, kerjaan, kekayaan, dan segala hal duniawi yang melekat dan dititipkanNya pada kita. Padahal saat kita menjalani dengan apa adanya tanpa memakai ‘topeng’ dan banyak bersyukur serta beribadah, ternyata segala yang tak mungkin akan menjadi mungkin. Mas Alim buktinya.. punya istri cantik, seksi, ramah, baik, dan setia padanya padahal si Mas gak ganteng, gak atletis karena perutnya membuncit, dan juga tidak kaya.

Sahabat.. melalui coretan kali ini, aku ingin mengajakmu menjalani hidup dengan sewajarnya dan penuh kedekatan dengan sang Khalik. Akupun sedang belajar menjalaninya.. Terima kasih Mas Alim dan Mbak Cantik.. walau kita gak ketemu lagi tapi kalian berdua telah menjadi satu dari sekian inspirasi hidupku.

Iklan
  1. bene satria
    Februari 21, 2012 pukul 9:18 AM

    cerita yg bagus ndul…. bisa memotivasi diri dan jd inspirasi… sukses…

    • Februari 25, 2012 pukul 5:17 PM

      mas benne.. makasih sudi mampir ya..

  2. ia
    Februari 24, 2012 pukul 9:12 PM

    aku juga cari yg rajin ibadah… 🙂

    • Februari 25, 2012 pukul 11:50 AM

      @ia.. Okay deh.. Pasti dapet dek..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: