Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan Mbah Kung.. Warisan Sucipto…

Akoe dan Mbah Kung.. Warisan Sucipto…

Entah kenapa kemarin sore menjelang mandi aku terkikik geli. Yach.. di balik kepul asap rokokku masih bisa kulirik layar hape-ku dan kubaca beberapa SMS dimana aku dipanggil ‘mbah kung’. Pun di wall akun jejaring sosialku, ada beberapa dialog antara mbah kung (baca : aku) dan si ‘cucu’. Entah tiba-tiba saja, selain sederet nama panggilanku hingga terakhir ‘Sinyo’ oleh mendiang Oma Yohana.. aku mendapat lagi satu panggilan, kali ini dariku sendiri, yaitu Mbah Kung, punya cucu, cantik pula.. Ah sudahlah, ada hal lain yang aku kan coretkan selain itu.. takutnya Mbah Kung semakin khilaf..

Sosok Mbah Kung, bagiku adalah ayah dari ibuku sebab untuk ayah dari bapak kami panggil Pak Uwo. Yah.. intinya kakekku lah.. Pak Uwo nanti akan ada di coretanku selanjutnya. Mendiang Mbah Kung yang sudah dipanggil Tuhan saat aku masih di bangku SLTP memang menjadi salah satu panutanku dalam menjalani hidup. Mungkin di antara sahabat ada pula yang meneladani kakek kalian? Tidak ada salahnya loh.. karena kadang mereka meninggalkan warisan tak ternilai yang begitu besar manfaatnya bagi cucunya. Kalau almarhum Mbah Kung-ku, sesuai namanya.. ya SUCIPTO lah warisannya…

Suka Menolong..

                Beliau tak pernah membiarkan orang yang datang untuk meminjam uang pulang dengan tangan hampa walau tak ada uang yang bisa dipinjamkan. Biasanya Mbah Kung akan memberikan hal lain mulai dari teh, lauk pauk, atau beras untuk dibawa pulang. Aku masih ingat dalam salah satu perjalananku dengan Mbah Kung, beliau menolong pengemis yang terluka karena tertabrak motor hingga ke rumahnya. Padahal waktu itu kami di kawasan wisata Grojogan Sewu, maunya liburan, pengemisnya dekil, kami cuma berdua, tidak kenal pengemisnya, tidak ada yang bantu nolongin, hari hujan menjelang malam dan tidak tahu jalan daerah situ pula.. Tapi Mbah Kung dengan sigap mencarter angkot, mengantar pulang si pengemis, tanya sana sini jalan menuju alamatnya, pulangnya si pengemis ditinggali uang untuk berobat dan.. didoakan pula oleh mbah kung meski beda keyakinan. Aku waktu itu masih umur 11 tahun.. dan sangat bangga dengan beliau..

Utamakan yang penting..

                Dalam satu kesempatan, saat ulangan umum saat ku masih SD, mbah kung main ke rumah dan melihatku sedang bermain bola dengan kawan-kawan sampai sore. Beliau memanggilku dan menanyakan apakah aku sudah belajar, akupun jawab sudah dong.. Lalu mbah kung mengusap kepalaku dan berkata “Kalau pas main bola nanti Mas kakinya sakit, trus nggak bisa masuk sekolah, trus nggak bisa ikut ulangan, kasihan dong belajarnya sia-sia, maennya nanti aja kalau sudah ulangan.. sepuasnya..”. Maka akupun mulai saat itu selalu memilih konsentrasi dan istirahat cukup saat ulangan, mengutamakan yang penting dahulu baru selanjutnya atau membuat skala prioritas dalam hidupku.

Cinta yang besar..

                Rasanya tidak ada anak dan cucu mbah kung yang tidak senang jika jalan bareng beliau karena cinta dan perhatiannya yang besar. Kenapa?  mbah kung pasti beli oleh-oleh dan perut kita dijamin tidak kelaparan. Saat ke Jakarta liburan bersama beliau, kami pernah berhenti di depan komplek perumahan Tante hanya untuk makan dulu padahal rumah tante hanya tinggal 5 menit berjalan kaki. Tapi melihatku pucat, beliau memilih untuk berhenti sejenak di warteg dan kami makan dulu. Bukan saja kepada keluarga loh.. kepada orang lain pun mbah kung juga begitu. Tentang cinta, ehm.. Mbah Kung juga termasuk rajin gonta ganti pacar sebelum nikah.. sampai puluhan.. Rasanya kami, para cucunya, harus saingan untuk pecah rekor nich.. hahahaha..

Ibadah dan amal yang rajin..

                Sosok yang religius dan takut Tuhan.. itu yang aku pelajari dari Mbah Kung. Pernah saat tamasya di Jogja, sebelum aku tidur beliau berkata dengan lantang kepada pemilik rumah yang adalah adik perempuannya bahwa aku ini rajin berdoa. Ya ampuuun.. cepat-cepat aku membuat tanda salib dan berdoa. Ugh.. mbah kung tahu sekali bagaimana ‘menanganiku’ kala itu.. Meski sekarang doaku bolong-bolong, tapi aku masih ingat pesan beliau bahwa sepandai-pandainya, sekaya apapun, sehebat apapun kita, TAKUTLAH pada Dia yang menciptakan kita. Taatlah beribadah dan beramal untuk membekali diri kita di kehidupan nanti. Sebab kita takkan tahu kejadian apa yang akan menimpa kita di detik demi detik hidup kita. Begitupun saat beliau dipanggil, tanpa sakit, tanpa bisa diduga, meninggalkan kami semua. Namun pasti.. dengan segala kekurangan dan kelebihan beliau, pasti sudah tenteram di surga mulia. Amin.

Pendirian yang teguh..

                Merengek untuk sesuatu yang gak penting, gak perlu, berlebihan, tidak mungkin, dan yang di luar pemikiran normal kepada Mbah Kung?? NO WAY.. pasti tidak akan dikabulkan, bahkan menangis sekalipun jika memang beliau melihat tidak ada manfaatnya, tidak akan beliau kabulkan. Mainan, makanan, pakaian, uang saku, waaah.. Ibu, Om, dan Tanteku pasti sudah kenyang akan sifat mbah kung yang ini. Akupun juga begitu.. Saat di Lampung pengen sate kelinci, waktu itu jelas susah didapat di kampungku, aku ngambek dan tidak mau sekolah. Waktu berangkat sekolah dengan muka yang ‘mendung’ mbah kung lantas menanyai bapak karena kebetulan mereka berdua adalah guru SD ku. Saat tahu alasannya, tiba-tiba beliau mendatangiku dan menggendongku ke parkiran motor. Waduuuuh.. aku mau dipulangin ke rumah suruh jaga rumah. Kata beliau, anak sekolah harus niat, kalau tidak mau sekolah ya tunggu rumah saja. Apees.. Bapak cuma ketawa aja ngeliat aku kalang kabut di parkiran sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal sebenarnya. Beliau dikenal keras hati saat berpendirian, memang suatu ketika akan ‘berbenturan’ dengan orang lain, tapi jika engkau tak punya pendirian, engkau tidak akan mulai belajar untuk menjadi laki-laki ujar beliau saat aku lulus SD.

Tegas..

                Jika guru kita adalah orang tua dan keluarga enak nggak ya? Pastinya tidak, karena justru kita yang akan dijadikan contoh bagi yang lainnya. Pernah suatu ketika saat beliau menerangkan tentang Bahasa Indonesia, aku dan temanku sebangku, waktu itu kelas 5 SD, malah asyik ngobrol. Tiba-tiba terdengar lantang suaranya “Dian!!  kalau sudah merasa bisa dan pandai, silakan keluar kelas!”, akupun terdiam, temanku juga, tapi kok cuma namaku yang disebut ya.. Hadeeuuuhh.. Beliau sangat tegas dalam hidup dan berkeluarga. Tapi dibalik tegasnya, terselip rasa sayang yang besar kepada kami dan orang-orang di sekelilingnya.

Orisinalitas..

                Orisinil atau asli alias jujur.. Mbah kung sangat suka akan hal ini. Jangan mencontek dach saat ada beliau, dijamin bakal dijewer atau diberi tugas ngepel toilet. Untuk hal ini memang sosok Mbah Kung bisa diteladani, selalu asli apa adanya dan jujur dalam hidupnya. Bicaralah terus terang dan jangan plintat plintut, iya bilang iya, tidak bilanglah tidak pula. Dalam satu waktu aku menangis karena ujianku jelek, mbah kung bilang ‘kalau kamu dah belajar, tidak mencontek, dapat jelek.. jangan menangis.. karena di titik itulah kamu berada. Jika pengen bagus.. ya belajar lebih keras lagi”.

Yach itulah ceritaku dengan Mbah Kung.. maaf jika isinya melulu aku dan beliau, pan judulna begituw.. Jika melihat hidup sekarang, rasanya warisan SUCIPTO masih relevan untuk dilestarikan. Terlalu banyak kebohongan, ketidakpedulian, ketidakberpihakan, kemaksiatan, dan keburukan lainnya di sekeliling kita. Nah.. kini saatnya aku yang diuji dengan warisan itu.. apakah selalu jujur? Masihkah kukuh dan tegas terhadap pantangan? Punyakah cinta yang tulus kepada sesama? Taatkah beribadah? Dan pertanyaan seterusnya harus aku intropeksikan kepada diriku. Pasti malah tambah banyak kekuranganku.. Apalagi dengan peranku sebagai mbah kung.. Apakah akan.. Apakah lantas.. Hadeeeuuh.. Maaf Mbah Kung-ku.. Aku belum bisa sepenuhnya warisi apa yang kau tinggalkan.. Tapi terima kasih, atas SUCIPTO yang boleh aku teladani, kagumi, banggakan, pelajari, dan punyai.. I love U Mbah Kung…

Iklan
  1. ia
    Januari 22, 2012 pukul 9:12 PM

    aaaahhhh….. mbah kung….

    • Januari 22, 2012 pukul 9:23 PM

      Hai cuuu.. Makasih kunjungannya tempat mbah kung ya.. Maafin kalau ada salah-salah kate.. ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ..

  2. ia
    Januari 22, 2012 pukul 9:40 PM

    yg jadi pertanyaan saya ya mbah.. knp kata khilaf sepertinya melekat betul di banak mbah kung, jadi gak enak eh… wkkwkkwkkwkwwkkkk

    • Januari 22, 2012 pukul 9:44 PM

      Gag usah dipikirin.. Tambah pening ntar.. Aku sedang menikmati peranku sbagai mbah kung kok.. Menghanyutkan.. Dan meng-khilafkan.. Kakakaak…

  3. Februari 1, 2012 pukul 12:55 PM

    Artikel ini bikin mengingatkanku pada mBah Kakung ku

    • Februari 1, 2012 pukul 8:48 PM

      Siip.. pokoknya mbah kung selalu di hati…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: