Beranda > Pelajaran Hidoepku > Delapan Pelajaran Hidup Untukku setelah Obrolan dengan Pakdhe..

Delapan Pelajaran Hidup Untukku setelah Obrolan dengan Pakdhe..

Kesempatan Sabtu Minggu kemarin sungguh aku manfaatkan untuk kegiatan sosial dan  menikmati hangatnya canda tawa dengan keluarga. Salah satu yang aku masih berkesan adalah obrolan dengan Pakdhe Solly, wajah tampannya ada nanti  aku susulkan dech.. di halaman ini juga. Pakdhe atau kakak dari Ibuku ini (walau cuma angkat saudara) memang nyentrik. Rambutnya yang mulai memutih semua diakuinya karena disemir putih biar gaul hehehe… Pakdhe yang seorang petani desa sederhana ternyata memiliki pengalaman yang luar biasa dan hal ini untungnya selalu dibagikan kepadaku saat kami bertemu. Beberapa diantaranya akan aku bagikan lewat coretanku kali ini.. Berupa pelajaran hidup yang kesemuanya berdasarkan pengalaman pribadi dalam lebih separuh abad usianya.

Tuhan Maha Adil dan rancangannya selalu unik dan indah

Menyikapi #galaunya kami (aku dan anak lelakinya yang ikut ngobrol) dalam menghadapi dunia kerja, Pakdhe membangkitkan semangat kami dengan menandaskan bahwa seluruh hidup kita sudah dirancang oleh Tuhan. Segala rejeki sudah diaturnya layaknya orang yang menyiapkan makanan di meja makan. Hanya tergantung kita bagaimana untuk menikmatinya, dengan segera makan atau menunggu sampai ada yang makan duluan. Apakah kita terima dengan makanan yang disediakan ataukah kita membuat sekedar sambel atau menggoreng telur untuk menambah nikmat makanan. Apakah kita makan sedikit bin cimat cimit atau dalam porsi besar bahkan tambah porsi. Semua tergantung kita untuk menanggapi rancangan Tuhan. Tuhan juga sudah mengatur rintangan maupun kemalangan dalam bahasa kita dan sudah disesuaikan dengan kemampuan kita untuk menyelesaikannya. Ingat.. Tuhan memberi masalah atau hambatan yang selalu bisa kita selesaikan. Tergantung kita dalam menghadapinya, apakah dengan senantiasa mengeluh dan mengumpat-Nya atau dengan berlapang dada dan berserah dalam memohon bimbingan-Nya.

Manusia dilahirkan sama, tergantung lingkungan yang membentuknya..

Menurut Pakdhe, setiap manusia dilahirkan (baca : diciptakan) sama oleh Tuhan saat masih bayi. Hanya kemudian tergantung lingkungan tempat kita berada yang membentuk karakter, kepribadian, dan mentalitas kita. Ambil misal orang-orang dari daerah tandus misal Wonogiri dan Gunung Kidul (maaf ini hanya sebuah ilustrasi) dimana daerahnya penuh bebatuan, sulit air, dan tanaman sukar tumbuh. Mereka dari daerah ini terkenal ulet dan pantang menyerah bila dibandingkan dengan mereka yang lahir pada daerah yang relatif subur alamnya. Perilaku pantang menyerah dan putus asa dalam menyikapi alam ternyata mempengaruhi pola hidup dan juga bagaimana cara menyelesaikan semua persoalan hidup seseorang. Di sisi lain, orang yang besar di lingkungan dengan tingkat kriminalitas tinggi dan pergaulan bebas, juga akan membentuk kepribadian seseorang yang mengedepankan jalan singkat dan kekerasan dalam penyelesaian masalahnya.

Pelajari karakter orang untuk menentukan bagaimana kita berhubungan dengannya

Lebih lanjut Pakdhe menuturkan bahwa jangan pukul rata dalam berhubungan dengan seseorang. Lebih mudahnya beliau ambil dalam pekerjaan kami sehari-hari. Menurut pengalaman beliau, atasan, partner, ataupun bawahan kita yang BODOH akan lebih suka bicara daripada bekerja, lebih suka dipuji dan diagungkan, bahkan sering marah-marah untuk menutupi kebodohannya. Hati-hati dalam menanggapi karakter yang seperti ini karena salah langkah berarti akan disingkirkan atau dikucilkan. Ambil sikap tarik ulur dan jangan terlalu rapat karena bisa-bisa kita akan ikut menjadi bodoh. Sebaliknya untuk mereka yang CERDAS, jangan banyak bertanya tapi bertindak dengan segera. Jika ada waktu luang, barulah kita diskusikan masalah kita. Karakter orang seperti ini umumnya sangat menghargai waktu dan berdedikasi pada pekerjaan mereka.

Kekayaan materi memang penting tetapi kekayaan batin perlu juga dimiliki

Orang yang kaya secara materi semakin banyak, tutur Pakdhe, tetapi yang kaya batin semakin sedikit sehingga kurang ada tepa slira dan tenggang rasa dalam kehidupan sekarang ini. Satu contoh adalah penjual dawet ayu dari daerah tertentu. Dengan gigihnya mereka bekerja, walau penghasilan sedikit tetapi halal dan secara tradisi (seperti beberapa penjual makanan khas daerah tertentu)  mewariskannya pada keturunannya sebagai suatu kebanggaan. Orang kadang tidak perlu kaya untuk hidup nyaman sebab apalah artinya jika batinnya tidak tenteram. Sebaliknya dengan batin yang kaya dan tenteram, orang akan lebih bisa bersyukur dan menikmati setiap detik hidupnya sebagai anugerah Tuhan yang sempurna.

Apa yang sudah dijangkau panca indera, itulah HIDUP, yang belum.. itulah KHAYALAN atau IMPIAN

Pakdhe agak serius saat menuturkan hal ini karena erat kaitannya dengan realita hidup yang sekarang terjadi. Seringkali kita menyalahkan diri saat melewatkan suatu kesempatan dalam satu sesi hidup kita. Contoh nyatanya adalah.. Coba tanya ke dirimu sahabat, berapa kali kita menyesal karena tidak bisa sekolah di sekolah favorit, tidak bisa datang saat interview di satu perusahaan terkemuka, atau melewatkan makan malam bersama seseorang yang kita incar karena ada anggota keluarga yang sakit. Kita lalu akan berandai-andai.. Akh.. coba kalau aku sekolah di sana, pasti akan bla bla bla.. kuliah akan bla bla bla lalu kerjanya juga akan bla bla bla. Demikian terus dan berulang bukan? Hei!! Itu hanya angan-angan, khayalan, atau impian. HIDUP kita adalah yang kita dengar, rasa, ucap, alami, raba, peroleh, dan semua yang nyata terjangkau panca indera kita. Jangan terlalu larut dengan menyalahkan diri, sebaiknya berpikir dan fokus bagaimana kita menghadapi kenyataan di depan kita.

Minta, Berdoa, Berusaha, dan Bersyukurlah atas hidupmu

Pernahkah kita menyalahkan kondisi kita saat ini? Yang menganggur, yang putus asa, yang bercerai, dan yang berada dalam kemalangan? Itu kata Pakdhe mungkin karena kita tidak pernah meminta apa yang terbaik untuk hidup kita. Lalu bagaimana untuk mencapainya? Ya berdoa dan berusaha.. Nah, di akhir usaha, saat berbuah hasil, seringkali kita lupa bersyukur kan? Baru saat hasil sesuai atau melimpah kita mengucap syukur, padahal sekecil apapun hasilnya, tetap Tuhan juga yang beri. Mungkin Dia melihat kita belum pantas menerima lebih, atau kita harus belajar mengatur hidup dari rejeki yang sedikit. Tetapi di akhir pinta, apapun ujungnya, biasakan untuk bersyukur kepada-Nya. Sudahkah sahabat?

Jangan berlebihan saat masa Pacaran, tetapi habis-habisanlah setelah menikah..

Hanya sentilan kecil kepada kami yang muda untuk sesi obrolan ini. Pakdhe hanya melihat realita bahwa masa pacaran kadang-kadang tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh kebanyakan remaja. Ada yang foya-foya, hutang sana hutang sini untuk kado ultah atau mentraktir pasangannya, dan masih banyak contoh lainnya. Mau kaya atau tidak, Pakdhe punya pandangan bahwa sebaliknya paradigma itu diubah. Habis-habisan dan curahkanlah rasa sayang kita kepada pasangan setelah menikah, hal yang sudah pasti ada payung hukum dan ketetapan agamanya. Coba pikir? Udah habis.. masih digondol orang atau putus di tengah jalan.. Nangis kan? Nah.. kalau tanpa hura-hura ternyata cewek atau cowok yang ditaksir atau dipacari ternyata tidak berkenan gimana dong? Hehehe.. kata Pakdhe itu mah DL alias Derita Loe! Bukan.. maksud Pakdhe justru itulah tanda bahwa mungkin dia belum yang terbaik untuk kita.

Kesuksesan keluarga dan orang tua adalah saat………

Masuk ke sesi ini agak merinding, karena Pakdhe mulai menatap tajam anak lelakinya di sampingku. Bagi Pakdhe, ukuran kesuksesannya membesarkan anak dan mengarungi bahtera rumah tangganya ada beberapa kriteria. Salah satunya adalah bagaimana dan apa yang diperoleh cucunya kelak. Jika saat ini orang tua bisa meninggalkan sepetak ladang dan pendidikan SMA untuk anaknya. Maka orang tua itu akan sukses jika nanti cucunya akan memiliki dua petak ladang dan mengecap bangku kuliahan. Tetapi, jika masih sama saja yang ditinggalkan si anak untuk cucunya, berarti Pakdhe dan anaknya telah gagal dalam mengarungi hidup. Ternyata Pakdhe juga beralih memandangku..  Akupun segera pamit setelah berterima kasih atas obrolannya sebab Pakdhe pasti akan tanya “So.. Kapan kowe arep rabi…?” Mending kabuuuuuurrrr ajaaaa… Met sore sahabat…

Iklan
  1. budiaji
    Desember 13, 2011 pukul 7:49 PM

    wow… 🙂

    • Desember 14, 2011 pukul 5:13 AM

      Kenapa BA? kok wow… hhehehe

  2. Dian kurniawati
    Januari 16, 2012 pukul 12:10 AM

    Sip!
    Pelajaran berharga ..
    Seneng aku an, baca2 catatanmu.;)

    • Januari 21, 2012 pukul 2:48 PM

      Makasih yo mbak.. Semoga tidak membosankan..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: