Beranda > Polahku Teranyar.. > Kenduri di Kampungku.. Alangkah Damainya..

Kenduri di Kampungku.. Alangkah Damainya..

Waktu menjelang maghrib di kampungku.. Kala Pak Boz memintaku segera mandi untuk mewakili beliau menghadiri kenduri di salah satu tetangga untuk memperingati meninggalnya anggota keluarga mereka. Sambil agak menyeret kaki karena masih asyik ngobrol dengan Bu Boz akupun meraih handuk dan bergegas ke kamar mandi. Brrr.. Dinginnya air di kampungku serasa menyegarkan tubuh yang letih setelah menempuh perjalanan dari Serang ke bumi Swarnadwipa.

Hampir jam tujuh malam ketika aku sampai ke tempat empunya hajat. Hemh.. Ketemu lagi dengan para sesepuh kampung dan beberapa teman sebaya semasa SD dulu. Pertanyaan klasik tetap saja terucap dari bibir mereka tentang kapan ku menikah. Secara bercanda kutangkis dengan kuminta mereka mengamati teman sebaya dan adik kelasku yang wajahnya terlihat lebih tua dariku lantaran mereka nikah dan punya anak duluan.. Makanya aku pilih belakangan aja biar awet muda.. Dan pecahlah tawa di ruangan kenduri..

Tapi sahabat.. Bukan itu yang akan kucoretkan kali ini, melainkan bagaimana suasana kenduri yang berkesan untukku. Lafal doa mulai dipanjatkan.. Mulai dari Al-Fatehah, Al-Falaq, An-Naas, dan doa2 lainnya yang aku masih hafal karena dulu mempelajarinya saat SD dan SMP.. Tapi tentu aku tidak ikut mendaraskannya. Tapi berdoa Bapa Kami dalam hati. Suasana begitu khusyuk saat itu.. Dan walau hanya aku sendiri yang tidak ikut dalam lantunan doa, tak ada sorot benci atau aneh di mata yang ikut kenduri, sepertinya mereka yang semuanya muslim maklum akan kehadiranku di situ. Pun saat cemilan dan minuman dibagikan.. Semuanya begitu wajar, tanpa ada diskriminasi buatku yang minoritas..

Hemh.. Hatiku miris sekali. Di satu sisi merasa damai.. Tapi di sisi lain prihatin jika melihat bagaimana di belahan pulau lainnya di Indonesia, ‘perbedaan’ kadang dipolitisir, berujung bentrok, bahkan sampai pertumpahan darah dan meregang nyawa. Rasanya Bhinneka Tunggal Ika begitu dilupakan dan ditinggalkan maknanya.. Apa karena penataran P-4 sudah dihapuskan? Hemh.. Andai semua tempat di bumi pertiwi ini bisa meniru budaya dan damainya kampungku. Alangkah indahnya..

Sahabat.. Mari sejenak larut dalam doaku agar negara kita semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan dan kemajemukan. Agar tercipta Indonesia yang damai dan aman bagi semua pemeluk agama apapun.. Amin. Ups sudah dulu ya.. Mau nabuh kentongan lagi karena ada gerhana bulan penuh.. Budaya masa kecilku akan kuulang lagi.. Mengusir “buto ijo” uang melahap sang rembulan.. Selamat malam minggu..

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: