Beranda > Mengenang Masa Silam > Seharusnya Hari Ini Aku Menikah..

Seharusnya Hari Ini Aku Menikah..

Sahabat.. baru saja hari Kamis berganti dengan hari Jumat.. Tanggal 10 pun berubah menjadi 11 November 2011. Hari Pahlawan kemarin seolah tak berkesan lagi untukku. Ach.. aku ingin berbagi segelas teh hangat dan sebungkus roti isi cokelat serta mendengarkan lagu Akhir Cerita Cinta-nya mas Glenn Fredly denganmu.. hanya denganmu. Berbincang.. Tertawa.. Bercanda.. Beradu olok.. Untuk sejenak lupakan sedikit getir dalam hidup ini.

Kulirik hape yang tergeletak di samping segelas teh.. Masih terbaca di sana satu sms dari Tanteku tiga hari yang lalu.. “Selamat malam Mas, pa kbr? Gmn dgn hari Jumat bsk? Kan tanggal 11-11-11, hehehe…” Mungkin kalimat itu terdengar biasa bagimu. Tapi maknanya sungguh dalam untukku. Kalimat yang mampu mengaduk isi perut dan otakku (lebay??) Namun SMS tersebut justru merupakan penguat semangatku. Yach semangat untuk melanjutkan kembali rencana yang putus di tengah jalan. Rencana indah yang memang hanya rancangan insan belaka tetapi Tuhan jua akhirnya yang memutuskan..

Hari ini.. 11 November 2011, harusnya aku sudah cuti kerja mulai Senin kemarin. Harusnya aku melewatkan malam midodareni semalam. Dan saat ini tertidur pulas untuk acara di gereja besok pagi dan resepsi di waktu sesudahnya. Namun hari ini aku masih menarikan jemariku untuk sebuah coretan yang mungkin hanya ekspresi hati atau istilah gaulnya curcol. Tapi aku berharap bahwa coretan ini mampu menyemangati sahabat-sahabat, yang mungkin memiliki kisah yang sama denganku.

Yap.. hari ini seharusnya aku menikah.. jika memang digariskan begitu. Satu acara sakral pelepasan masa lajang yang bebas dan dengan sadar dan sengaja membiarkan diri menjadi terikat. Terikat oleh pasangan dan keluarga pasangan kita, terikat dalam masa yang tak lagi sendiri, terikat atas janji untuk selalu setia, menghargai, melengkapi, dan menjadi sandaran bagi belahan jiwa yang lain. Tapi sekali lagi itu hanya rancangan dan inginku. Tuhan ternyata punya kuasa untuk tidak mengabulkannya.

gambar diambil dari http://www.hefamily.org

Drrrrrttttt.. Hape di sebelah gelas teh itu bergetar. Kulirik sekilas dan kulihat deretan kata reminder yang kutulis setahun yang lalu. Bunyinya adalah ” Come On.. now you will be a real man..”. Geli juga sih membaca kata-kata itu.. Aku pun bergegas menjalankan niatku, membuka folder m-Banking di hape, dan mentransfer sejumlah uang dalam rekening ke satu yayasan sosial yang mengurusi anak-anak gelandangan. Ups.. uang apa? Uang yang sedianya untuk pernikahanku tentunya. Memang jumlahnya tak seberapa, tapi karena dulu kami kumpulkan bersama, maka kami pun sepakat untuk tidak membagi atau memilikinya, tetapi memberikan kepada anak-anak tak mampu karena salah satu tujuan kami menikah dulu adalah memiliki anak-anak yang menjadi kebanggaan keluarga kami.

Hidup memang penuh misteri.. Jalinan kasih yang tanpa publikasi tapi memiliki kualitas tertinggi sepanjang kisah cintaku bahkan kisah cintanya. Satu tahun lebih sedikit..  kami lewati tanpa ada yang tahu kecuali si Tante pengirim SMS tadi, itupun hanya tanggal kapan aku menikah. Waktu yang begitu indah dan tanpa cela, tanpa pertengkaran, namun penuh cerita seru dalam sebuah komunitas sosial. Tak banyak yang tahu memang.. karena kami yang sama-sama punya banyak sahabat, sama-sama menginginkan hari ini sebagai surprise untuk semua. Hanya sekali lagi Tuhan berkata TIDAK! bukan lagi JANGAN ataupun TUNDA... Permasalahan keluarga membuat wanitaku (begitu sebutanku padanya) pergi ke lain pulau dan kini sudah tak kudengar lagi kabarnya..

Sahabat.. bukan sedih yang akan kubagi denganmu.. Tapi tiga pelajaran penting yang akan kurangkum dari kisahku..

Pertama, berbagilah dengan yang lain..  Andai semua sahabat tahu jalinan kisah kami, mungkin ada banyak dukungan yang kami peroleh untuk mempertahankan kisah ini sampai ke altar suci. Pasti ada banyak solusi untuk tetap menjalin cinta walau orang tua wanitaku harus berpisah dan dia bisa menahan sang mama untuk tidak keluar pulau. Hemh.. saat itu hanya ada aku, dia, mama papanya, dan Tuhan yang menjadi saksi perpisahan baik-baik kami.

Kedua, ternyata jika mempunyai perencanaan yang tepat, semuanya tetap indah pada waktunya. Ambil contoh dari kisahku, uang yang kami tabung bersama untuk pernikahan, pastinya akan sangat membantu jika terlaksana, tapi masih saja indah karena bisa untuk membantu meringankan beban sesama kami yang lebih membutuhkan.

Ketiga, harus ikhlas dan tetap bersandar pada-Nya dalam kondisi terpuruk dan terparah apapun. Dia pasti punya rancangan yang indah bagi kami. Kenapa? mungkin saja bukan kebahagiaan yang akan kami hadapi berdua, tetapi sesuatu yang mungkin lebih buruk dari apa yang kami dambakan.. Mungkin juga ada jodoh lain yang Dia siapkan untuk masing-masing dari kami. Siapa tahu kan? Sehingga Dia memutuskan untuk mengetok palu tiga kali dan menyatakan dengan ini rencana pernikahan kami DIBATALKAN!

Nach.. aku cuma berdoa dan berharap di tegukan teh manis yang kesekian, ketikan jemari yang entah berapa kali kulakukan, dan hela nafas yang panjang.. semoga setiap sahabat yang mempunyai kisah yang sama dan kebetulan membaca coretan ini.. tetap yakin dan berpengharapan besar, bahwa Gusti Mboten Nate Sare.. Tuhan tidak pernah tidur untuk umatnya. Dia selalu punya rancangan yang indah untuk kita semua meski itu selalu ada waktunya.. Selamat Pagi Sahabat..

Iklan
  1. Dian kurniawati
    November 11, 2011 pukul 5:03 AM

    Sahabat,……
    Dan aku pagi ini berdoa kelak kau akan dapatkan jodoh terbaikmu.
    Semoga. 😉
    Yang tegar ya bro…

    • November 11, 2011 pukul 10:26 AM

      Pastinya mbak dian.. Kalau gak tegar mana bisa jadi “pelita” seperti makna nama kita? Thanks ya..

  2. November 13, 2011 pukul 12:50 AM

    Silence ain’t always gold..
    What would you do, when your lovely go away for the other priorities..
    Will you keep in silent, and never share it to anybody?

    When you’ve think silence is gold..
    The one thing you should remember too,
    where love is concerned, you must speak up!
    to your lovely girl, or to your closest friend… ^_^

    • November 13, 2011 pukul 8:05 AM

      Agreed.. Sometimes, silence could become a disadvantage for us.. When a ‘sound’ was needed. Thanks..

  3. tianshuya
    Desember 20, 2011 pukul 10:19 AM

    Sama ya dg kisahQ 🙂 3 bulan mendekati hari H, kami tidak diijinkan Tuhan utk melangsungkan pernikahan. Padahal semua persiapan sudah mencapai 90%. Yah mgkn aku dan pasanganQ serta anda masih disayang Tuhan 🙂
    Semangat terus ya, Tuhan pasti akan menunjukkan jalan yg lebih baik kpd kita. Amin.

    • Desember 21, 2011 pukul 9:40 AM

      @Tian.. pastinya.. smua sudah diatur olehnya.. Thanks supportnya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: