Beranda > Polahku Teranyar.. > Apa Wujud Semangat Nasionalisme Mu??

Apa Wujud Semangat Nasionalisme Mu??

Pemuda dulu: Telat bergerak ketembak| Pemuda kini: Telat ngangkat membengkak. *yak ampyooon*
Pemudi dulu kalo telat dihukum| Pemudi kini kalo telat langsung beli testpack.
Pemuda dulu: Namanya Syamsul Bahri| Kini: Namanya S4Ms Ch3l4Lu c4Yan9 k4m0H.
Pemuda dulu: Mati muda memeluk senjata| Pemuda kini: Mati muda di pelukan janda.
Pemuda dulu: Semangat 45| Pemuda kini: Semangat 69 *inspirasi kamasutra* guwe bangeeet..
Pemudi dulu: Liat orang dr isi hatinya| Pemudi kini: Liat orang dr isi dompetnya.
Pemuda dulu: Pahlawan gagah berani| Pemuda kini: Pahlawan berani menggagahi.
Pemuda dulu: Mengemban amanat| Pemuda kini: Mencari alamat *syndrom ayu ting ting*
Pemuda dulu: Terlambat latihan perang, dibanting| Pemuda kini: Terlambat nyabut, jadi bunting.
Pemuda dulu: Blg cinta 1 tanah air, tanah air Indonesia | Pemuda kini: Blg cinta 1 malam, oh indahnya~

Dulu: kumpulin 10 pemuda buat guncang dunia (Soekarno)| Kini: kumpulin 10 pemuda buat boyband.

Hemh.. geli sendiri saat melihat kembali BBM dari si Ade temanku.. Dalam hati bener juga ya. Peringatan sumpah pemuda yang jatuh tanggal 28 Oktober kemarin tentu adalah peringatan yang kesekian dalam sejarah negeri ini. Aku ingat di status FB teman-teman mengungkapkan perihal hari tersebut dalam berbagai versi. Ada yang menuliskan kembali isi sumpah dalam berbagai versi dan bahasa, ada yang mengajak untuk tetap bersemangat muda, ada yang menulis pentingnya Sumpah Pemuda, ada yang ngomel karena harus upacara (ketahuan kalau aparat pemerintah..) dan sebagainya. Aku??

Aku lebih memilih untuk mengenang kejadian sepuluh tahun yang lalu di tanggal yang sama dengan seorang teman saat kuliah di Jogja. Pagi itu kami melintas ringroad utara karena aku hendak kuliah di kampus Paingan. Dari jauh sebenarnya kami melihat kerumunan polisi di depan Polsek Depok Timur. Tapi karena mengira mereka akan berangkat upacara, kami tetap saja melintas. Waktu itu belum ada yang punya SIM dan motor pun STNK-nya salah, mana ada Suzuki Crystal warna biru.. Yach namanya juga minjem.. Tapi kePEDEan kami sontak berubah saat peluit menghentikan laju kendaraan kami. Appaaa?? ternyata ada pemeriksaan rutin alias cegatan. Alhasil, uang kami yang ada di dompet pun habis untuk menyelamatkan diri dengan salam damai ke pak polisi. Setelah kejadian itu aku sempat phobia terhadap peluit meski itu dari tukang parkir atau wasit bola sekalipun. Alasannya jelas.. masih juga belum punya SIM. Ah.. cerita lalu itu..

Bagaimana dengan sekarang? Bukan.. bukan tentang aku sudah punya SIM atau belum, melainkan bagaimana makna dari Sumpah Pemuda bagi kita sekalian. Bagiku sih.. yang sudah lama tidak ikut upacara bendera memperingati hari bersejarah itu, semua biasa saja. Tak ada yang spesial di hari itu.. 28 Oktober 2011 aku masih bekerja di shift pagi dan merencanakan untuk ke tempat saudara sore harinya. Semuanya berjalan tanpa kesan.. Dingin.. sedingin kawasan tempatku bekerja yang diguyur hujan sedari pagi.

Kemarin.. Adalah Hari Pahlawan, 10 November, dimana aku masih ingat betul gambar Bung Tomo di buku PSPB waktu SD ku. Gambar sosok patriotik yang kala itu membakar semangat Arek-Arek Suroboyo untuk mengusir musuh. Hasilnya benar-benar luar biasa karena seluruh rakyat bergerak untuk menanggapi ultimatum tentara Inggris. Hal ini diawali dengan berkibarnya bendera Merah Putih Birunya Belanda di Hotel Yamato yang menyulut Insiden Tunjungan dan menyebabkan terbunuhnya pimpinan tentara Inggris waktu itu, 10 November 1945. Surabaya penuh dengan darah dari pahlawan2 bangsa yang gagah berani sehingga tanggal 10 November kini dikenal sebagai Hari Pahlawan.

Bagiku, kemarin juga biasa saja tuch.. Waaah jangan-jangan aku sudah tidak memiliki semangat nasionalisme nich.. Tapi biarlah apa penilaian orang. Aku punya semangat nasionalisme ala diriku sendiri sekarang.. Yaitu pengen banget menulis tanpa njiplak karya orang.. Dan kalaupun mengutip, harus ijin empunya atau mencantumkan namanya di postinganku. Aku ingin semua blogger pun begitu, sebab menjiplak karya orang lain ternyata membuat berang si empunya karya. Setidaknya tergambar dari sahabat blog Latsmi  si itik bali yang diungkap dalam satu postingannya.

Masih banyak semangat nasionalisme masa kini yang ada di sekelilingku.. Semangat berprestasi sebagai atlet nasional, semangat berkompetisi di Olimpiade Sains dan semacamnya, semangat mengabdi  untuk memajukan daerah asalnya, dan semangat-semangat lainnya. Tuhan pasti berkati itu semua sahabat.. Itu hanya ceritaku mengenai nasionalisme, mana ceritamu??

Iklan
  1. November 13, 2011 pukul 1:20 AM

    tulisannya tidak menjiplak.. tapi bersifat sarkasme..
    menyindir yang suka copast.. 😛
    tidak sesuai dengan pengamalan Pancasila,
    sila ke-2 butir ke-4
    “Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira”. v ^_^

    • November 13, 2011 pukul 9:41 AM

      hahaha.. santai sob.. kalau copast tapi dah nge-link kan berarti dah dapat ijin otomatis kan? nach kalau yang kumaksud itu yang memodifikasi karya orang lain dan dibuat seolah-olah karyanya sendiri.. Capek mikir (kalau guwe sih gak pake mikir).. eh enak aje diambil orang.. Justru yang njiplak nggak mengamalkan Pancasila sila ke-2 butir ke-5 dan sila ke-5 butir ke-4 kan?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: