Beranda > Mengenang Masa Silam > Ada Kasih.. di Sehelai Kain Sarung itu…

Ada Kasih.. di Sehelai Kain Sarung itu…

Pagi mulai merayap di kawasan Serang dan sekitarnya kala ku terbangun lagi untuk menyelesaikan laporan buat meeting besok. Ramai sesaat kala kulangkahkan kaki di deretan mesin2 pabrik yang tak berhenti. Dan sepi menyergap kembali saat ku kembali ke mess untuk ‘bercumbu’ dengan pacarku si Aspire. Yach.. pacar yang tak pernah mengeluh walau hampir tiap saat kusentuh dan kumainkan bagian tubuhnya dengan jemariku dan menerima kepulan asap rokok DP ku. Tapi ah.. dingin sekali pagi ini, padahal ruang kerja sementaraku (baca : dapur mess) tidak ber-AC. Lirik kanan kiri dan sambil berjinjit karena takut membangunkan yang lain, aku memutuskan untuk mengambil benda kesayanganku yang akan membantuku melewati pagi ini.

Yach.. sehelai kain sarung kotak-kotak pemberian mas Babe, lebih tepatnya warisan, yang selalu kubawa kemanapun semenjak dari Jogja. Sarung yang berwarna kombinasi merah marun dan hijau tua dimana salah satu ujungnya sudah rombeng alias bolong. Kain tipis yang sebenarnya jauh dari kata hangat jika dibandingkan sehelai bed cover. Tapi aku yakin benda ‘keramat’ ini mampu menghadirkan kehangatan di pagi ini.

Keramat? Ya benar.. Entah sugesti atau apa.. Sarung Babe ini bisa menyesuaikan dengan apa yang kuinginkan. Saat dingin, bisa hadirkan kehangatan dan sebaliknya, kala cuaca agak panas, sarung ini saat dipakai rasanya nyosss.. adem tenaan. Mungkin karena sosok spesial mas Babe yang menginspirasiku dalam hidup ini.

Aku tidak akan mengupas dalam tentang mas Babe, karena dia pasti gak berkenan. Pria Libra yang selalu memaksaku untuk membawakan belanjaannya kalau lagi belanja bareng.. “Itulah ciri khas pria Libra..” tangkisnya kalau aku mulai protes. Sosok kakak yang sempurna buatku walau tak ada ikatan darah antara kami.. Mengajarkanku untuk selalu memberi pada yang lebih membutuhkan, meski kitapun sedang kekurangan. Ada pelajaran kasih yang kurasakan melalui sarung itu..  Bagaimana untuk menempatkan diri selalu membumi dan mengharamkan rasa tinggi hati.

Sahabat.. mungkin banyak benda kesayangan kita, baik membeli, membuat sendiri, atau  pemberian orang lain yang mengingatkan kita akan seseorang atau hal lain..lengkap dengan banyak kesan tanpa bisa diungkap oleh deretan kata. Benda yang mengandung pesan tertentu bagi yang menerimanya dan menjadi tanda ikatan emosional yang menyentuh. Saat bisa merawatnya, tentu akan menjadi kepuasan bagi kita karena berarti kita menghargai pemberinya atau momen saat membelinya. Misal sarung Kalimantan pemberian om-ku saat aku disunat, yang masih tersimpan dan wangi khas Borneonya masih kental terasa saat dikibaskan. Jika aku dan si om melihat sarung itu, kami tertawa geli dan pasti langsung mengenang peristiwa sunatanku belasan tahun yang silam.

Hanya sehelai kain sarung memang.. tapi menjadi tanda kasih yang abadi… makasih ya Be..

Iklan
  1. November 9, 2011 pukul 6:04 AM

    benar sekali bahwa menerima pemberian orang lain jangan liat bendanya, atau nilai rupiahnya, tapi lihat niat dan ketulusan sang pemberinya, sebab bisa jadi untuk mempersembahkan sesuatu yang kita anggap tidak penting justru ia memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit.

    • November 9, 2011 pukul 9:40 AM

      Thanks Abi dah mampir.. Saya sekalian ijin tautkan blog Anda ke blog sederhana saya ya.. Saya setuju dengan comment tentang pemberian yang dianggap tidak penting padahal perlu perjuangan dan pengorbanan untuk itu.

    • November 9, 2011 pukul 1:02 PM

      Oke be, makasih sarungnya ya.. Ngademin ati hehehe..

  2. November 9, 2011 pukul 12:56 PM

    hehehehe, bikin terharu nih……., maaf klo sering ngrepoti suruh bawa belanjaan pria libra ya dek…………, tapi sungguh. keutamaan adalah hal luar biasa yang bisa dirasakan banyak orang, meskipun kita tak merasa melakukan apapun. Terus menjadi manusia yang rendah hati karna kita akan selalu damai ditengah panasnya dunia. Thanks for all.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: