Beranda > Pelajaran Hidoepku > Belajar Dari Ayam.. Untuk Cepat Menanggapi Perubahan..

Belajar Dari Ayam.. Untuk Cepat Menanggapi Perubahan..

Bingung dengan gambar di atas? Gak usah lah ya.. itu hanya dua gambar yang sama.. dengan subjek ayam-ayamku (lingkaran merah), sebuah kandang (kotak biru), dan pohon kakao (segi tiga putih). Gambar itu kuambil dua hari yang lalu di rumah Lampung. Awalnya hanya iseng karena biasanya kalau pulang, aku punya aktivitas nggiring ayam-ayam ke kandang saat sore hari. Tapi kemarin kok sebelum maghrib dah sepi? Apa ayamnya pada kondangan? Hahaha..

Usut punya usut, ternyata ayam nya gak lagi bobo di kandang. Tapi bobo di atas pohon kakao.. waoow. Mereka pindah dengan sendirinya tanpa dikasih memo sama bapak ibu untuk keluar kandang. Dan walau gak ada SOP atau JukLak-nya, mereka ternyata mempunyai tangkringan (baca : ranting untuk hinggap) yang tetap dan tidak mengganggu satu sama lain alias tidak berisik kalau tidur. Alasan mereka pindah saat aku wawancara (tentu saja sama Bapak Ibu) adalah karena beberapa teman dan mungkin menantu, anak, atau mertua si ayam ada yang mati mendadak karena serangan musang atau ular. Maklumlah, karena masih di desa, musuh si ayam masih banyak berkeliaran. Coba Bapak pasang CCTV, bisa buat laporan ke polisi tuch. Mau tahu posisi mereka saat tidur? Monggo..

Sahabat.. jika cuma sekilas rasanya tak ada yang menarik dengan cerita mengungsinya ayam ke pohon kakao. Jelas kalah dengan bagaimana penduduk korban lumpur Lapindo yang menyingkir kan? Tapi tunggu.. kita bisa belajar dari ayam kok..

Mereka pindah karena tak ada lagi jaminan akan keamanan dan kenyamanan mereka. Inisiatif sendiri dan tanpa paksaan. Meski ada pula risiko kehujanan dan angin kencang yang bisa mengganggu rumah pohon mereka. Mereka juga tidak demo pada Bapak Ibu misal dengan mogok bertelur atau aksi tutup dan jahit mulut menuntut keadilan agar pengganggu dan pemangsa mereka dicari dan ditangkap. Kawanan itu juga tidak memohon meminta belas kasihan agar diberi tempat yang layak untuk berteduh. Mereka, dengan caranya sendiri, telah mencari solusi untuk setidaknya menyelamatkan diri dari situasi buruk yang mungkin mengancam keselamatannya.

Weits.. jangan melotot! Senyum aja dan jangan marah walau kuajak belajar dari ayam. Coba tengok kita dalam kehidupan sehari-hari.. Tak jarang sebagian dari kita merelakan ketenteraman dan kenyamanan hidupnya terkorbankan demi kepentingan orang lain atau kelompok lain kan? Bahkan hebatnya mereka bertahan dalam kondisi tersebut. Tabah? Sabar? Preet.. Ada beberapa hal yang mungkin jadi penyebabnya. Bisa jadi mereka takut dan tidak percaya diri untuk bisa lepas dari keadaan itu. Bisa pula mereka tipikal rela dizolimi alias pasrah terhadap keadaan. Atau memang ada peraturan yang menahan mereka untuk bebas dari suasana yang tidak nyaman itu. Catat.. walau berakal dan berbudi.. kita kadang kalah cepat dari ayam dalam menanggapi situasi yang akan terjadi. Kita senang dibuai dan dilambungkan dengan janji-janji yang sebenarnya semakin menjerumuskan kita ke dalam keterpurukan.

Bapakku pernah bercerita bahwa jika gerimis datang dan dia melihat ayam masih santai berkeliaran, itu pertanda hujan lebat tidak akan turun, hanya lewat sebentar. Tapi jika beliau melihat ayam langsung berteduh jika ada gerimis.. Hemh, saatnya ngamanin jemuran Ibu katanya karena hujan lebat akan segera datang. Di sini kita juga bisa belajar dari kemampuan ayam  melakukan prediksi terlepas dari berdasarkan pengalaman atau memang karunia khusus si ayam. Kapan kita bisa melakukan prediksi yang tepat seperti itu? Tentu jika kita mau belajar dari pengalaman dan secepat apa reaksi kita menanggapi sekecil apapun perubahan di sekitar kita. Hanya perlu diingat, ayam melakukan semua dengan ikhlas (sepertinya sih..) gak perlu teriak-teriak.. ngadu ke komnas HAM urusan Ayam atau demo sana sini. Yang penting aman dan nyaman dulu, baru pikirkan berikutnya..

Sahabat.. jika tulisan ini membuatmu tidak berkenan, Ayam Sorry ya.. Hanya sebuah pembelajaran hidupku yang ingin kubagi kok..

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: