Beranda > Akoe dan.... > Akoe dan Dua Nenekku… Another Perfect Weekend..

Akoe dan Dua Nenekku… Another Perfect Weekend..

Hanya Sabtu Minggu memang.. tapi cukuplah bagiku untuk melepaskan kangen dengan keluarga di Lampung. Walau sedikit menyesal melihat foto-foto salah adik tingkat pas kuliah yang sedang plesiran di bagian tengah negeri ini. Owh.. Erlin and Dinta.. semoga bukan karena kapok ngajak ke Kuningan trus nggak kasih tahu kalau mau ke Lombok.. Grrrrhhh…

Eits.. ini juga tak kalah seru dong! Karena aku masih bisa melewatkan waktu akhir pekan bersama janda2 kesayanganku (baca : nenek). Ya dari Ibuku.. pun dari Bapakku..  Keduanya sama-sama unik, utamanya dalam hobby dan cara menyayangiku. Bukan narsis jika dalam coretan ini kupajang foto mereka, aku cuma mau mejengin foto mereka. Dan.. bukan pula permintaan mereka untuk eksis, sst.. siapa tahu salah satu dari pembaca coretan ini jadi cucu mereka nantinya (maksud guwe??.. balasan dari maksud loo..). Huft.. nyuk kenalan ma nini-niniku yang luar biasa..

Mbah Utie.. yang doyan ngisi TTS..

Hemh, ni nenekku dari Ibu.. pensiunan dosen Sekolah Dasar yang akhir-akhir ini melewatkan hari-hari purna tugasnya dengan wara-wiri nyebrangin Selat Sunda atau ngisi TTS (Teka Teki Silang). Hobby nya ini mau tak mau berpengaruh pula dalam hidupku. Aku juga sempat keranjingan salah satu sarana asah otak yang satu ini. Alhasil, pengetahuanku mulai bertambah mulai dari mahkota bersusun tiga namanya TIARA, atau beberapa kantor berita dunia pun bisa aku ketahui hanya dari menggabungkan kotak yang sudah terjawab, antara menurun atau mendatar.

Ah gak penting itu.. yang jelas di Sabtu pagi kemarin mbah Uti masih juga ngisi TTS saat aku OL di sampingnya. Beliau mengatakan bahwa sekarang lebih suka yang mencari deretan angka atau kata dalam kumpulan angka dan huruf dalam satu lembar halaman TTS dari pada yang model menurun dan mendatar. Alasannya karena kalau yang bahasa Inggris musti buka kampus eh kamus. Aku jadi inget satu Om ku yang kalau ngisi TTS, asal dapat delapan kotak, pasti diisi LABALABA.. hahaha..

Pelajaran dari seorang mbah Uti menurutku adalah jangan sampai OTAK kita berhenti hanya karena usia. Paksa bagian tubuh itu untuk tetap bekerja dan segera istirahatkan bila terasa lelah. Dengan demikian, risiko stroke akan terminimalkan. Jiaah.. tapi bener sih, mbah Uti masih OK untuk jalan kaki, naik motor sendiri, dan bahkan ke ladang. Sempat pula beliau bertanya apakah aku masih juga ngisi TTS. Hemh.. boro-boro ngisi, pulang kerja pasti langsung teduuur.. Tapi sedikit berkilah aku menjawab bahwa TTS itu Tombo Tiang Sepuh (Obat untuk Orang Tua).. dan beliau pun membuncah tawanya.. Luph u Utie..

Mbok Uwo yang tak suka diSOTRET..

Kalau yang ini..  nenek dari Bapak.. Sedikit rewel apalagi pasca jatuh dari kamar mandi yang mengakibatkan tangan kirinya harus di sangkal putung dan agak bengkok. Lucunya, kalau gak ada orang, mbok Uwo akan lincah menyapu atau memotong kayu bakar. Tapi kalau ada orang maka beliau akan pura-pura mengaduh atau mengeluh tentang tangannya yang bengkok. Weekend ini kutahu jawabannya, ternyata dia takut kalau diomelin Bapakku sebab masih aja bekerja walau sedang sakit. Hahaha.. aku ketawa dan beliau juga tertawa dengan pamer mulut merah karena kebiasaan nginang atau mengunyah sirih. Dalam satu status FB ku aku pernah ungkapkan bahwa ketika aku minta untuk menghentikan kebiasaan nginang ini, dia balik mendelik sambil menantang apa aku bisa menghentikan kebiasaan merokokku. “Wis kelangenan ki yo susah yen kon mandeg..” (kalau sudah menyukai ya susah untuk disuruh berhenti). Okelah kalau begitu…

Sahabat pasti liat foto di atas seperti baik-baik saja bukan? Padahal tidak.. segera aku dicubitnya setelah tahu diam-diam aku mengabadikan gambar kami berdua. Apalagi saat kuambil gambar saat beliau menyapu.. Takut aku aduin sama Bapak sih. Tapi sambil mengejarku (masih kenceng juga jalannya..) Beliau berkata “Aku wegah disotret…” (Aku gak mau dipotret : diambil foto).  Ciakakakak.. aku tertawa geli tapi langsung mengaduh saat cubitannya mendarat di pinggangku.

Ternyata mbok Uwo bisa balas menjahiliku. Ada sekantung tape ketan di samping kami duduk. Beliau mengambil kantong itu dan menawarkan apakah aku mau. Dengan segera kugelengkan kepala dan katakan untuk mbok Uwo saja. Eh.. beliau nyengir puas.. “aku yo gur nawari kok, sing ditukokne kan aku, kebangeten sampeyan yen muni gelem..”. Intinya beliau cuma basa basi saat nawarin, kan itu dibelikan untuk beliau, sungguh terlalu jika aku mengiyakan tawarannya. Ah siaaaal.. kena juga aku dikerjain. Sambil nyengir, beliau makan tape yang kelihatannya manis dan mak nyuss lalu tertawa tergelak.. Awas mbok ntar tersedak..

Minggu ini aku belajar dari mbok Uwo bahwa tak boleh menyerah dalam menjalani hidup. Selagi masih bisa berusaha sendiri maka jangan bergantung pada belas kasihan orang lain. Aku belum sempurna kata beliau.. sehingga masih mau mengerjakan sendiri semua kegiatan (nyapu, masak, nyuci, dll) tanpa minta bantuan anak cucu. Ternyata kesempurnaan hidup versi beliau adalah saat sudah tidak bisa ngapa-ngapain. Saat sudah tidak merasa asin, pedas, atau kurang banyak, bila diberi makanan.. Saat tidak protes jika dibelikan baju warna norak sekalipun.. Dan saat-saat dimana kita tidak lagi mempermasalahkan apa yang orang lain lakukan atau berikan untuk kita. ‘Yen aku wis ora protes, ora loro ati, ora njaluk tambah, ora ngarepke sing apik, lan wis pasrah bongkokan, kuwi tandane aku sampurno..”.  Ah.. jadi berkaca-kaca mataku saat beliau menuntaskan wejangannya saat aku pamitan.  Luph u mbok Uwo..

Aku masih punya dua nenek untuk jadi teladan, lengkap dengan kekurangan dan kelebihan mereka. Kalau para almarhum kakek paling update status via doa aja (status jomblo maksudnya..). Ntar kalau aku nikah mereka minta di email dan di tag foto2 nikahanku. Heeehheee..  hayo.. Apa ceritamu dengan nenek or kakekmu??

Iklan
  1. November 1, 2011 pukul 3:30 PM

    kalau saya disini kang: http://ariesadhar.wordpress.com/2011/10/17/alfa-yang-tahu-diri/

    tapi cuma kisah menjelang kematian mbah kakung.. baca postinganmu jadi pengen nulis tentang mereka.. 🙂

    • November 1, 2011 pukul 4:14 PM

      aku sudah baca.. boleh juga, aku pengen denger reaksi almarhum simbah kung saat kau pinjam propertinya..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: