Beranda > PLUS plus > Aku Tetap Mencintaimu.. Walau Kau Memakai Kerudungmu

Aku Tetap Mencintaimu.. Walau Kau Memakai Kerudungmu

Mendung menyapa kawasan Jogja di sore itu, Leu bergegas mengambil helm di kamar kostnya sebab sore ini dia berencana untuk mengajak Tika, pacarnya, untuk beribadah di gereja. Malam Minggu pertama setelah mereka jadian dua minggu yang lalu, rasanya bisa menjadi penawar rindu Leu karena biasanya Tika melewatkan malam Minggu di rumahnya nun jauh di utara kota Solo. Ketika mulai menyalakan mesin motor bebeknya yang seharian nggendon di garasi kost, hujan mulai turun. Tapi Leu tak peduli, dia menggulung celana jeans-nya, mengenakan jas hujan, dan bruuum.. Si bebek nan tak takut becek melaju membelah jalanan menuju kost sang pujaan hati. Maklum, penunggangnya sudah seminggu tak bertemu kekasihnya.

Sepi sekali kost Tika sore itu, sebab semua penghuninya pulang kampung, sepertinya untuk perbaikan gizi.. hahaha.. Leu pun tiba di saat hujan yang semakin deras mulai menipiskan keinginannya untuk ke gereja, tokh masih ada hari Minggu, pikir Leu dalam hati. Setelah si bebek terpakir manis di garasi kost Tika yang melompong, cowok usia 20-an tahun itupun menuju kamar kekasihnya. Tetapi ah..

Leu tertegun di pintu kamar Tika dan termangu kala melihat kekasihnya tengah bersembahyang. Waktu memang menunjukkan saat Maghrib kala itu. Tika pun terkejut dengan kedatangan Leu sebab pikirnya akan diapelin menjelang makan malam (baca : jam tujuh petang). Mereka lama sekali bertatapan tanpa bicara dan hanya mata saja yang seolah saling menyapa karena rindu setelah seminggu tak bertemu.

“Masuk Mas.. Basah tu rambut dan bajumu, aku ada handuk bersih kok..” ucap Tika memecah keheningan di kamarnya. Leu pun masuk dan walau dengan gemetar, entah kedinginan atau shock, dia masuk ke kamar Tika. Selanjutnya percakapan pun dimulai lagi dengan suasana yang tidak sehangat saat masa-masa PDKT dulu. Ada jarak antara mereka.. dan ada dinding tak terlihat di antara mereka. Leu yang biasanya ramai dengan banyolannya tiba-tiba seperti robot yang mati rasa. Tika yang centil dan manja, terlihat laksana es di puncak Jayawijaya, dingin dan kaku.

Ada kekeliruan terungkap di kamar itu.. Ada kecerobohan yang tersirat di ruangan berwarna pink dengan hiasan beberapa orang pemain bola berwajah kiyut itu. Dan ada Leu serta Tika.. yang menyadari ada yang salah dalam hubungan mereka. Mereka baru menyadari bahwa mereka beda keyakinan.. Leu yang berharap memiliki pasangan untuk menjadi orang pertama yang menerima Salam Damai-nya di gereja. Di sebelahnya ada Tika yang berharap punya cowok yang bisa mengajarinya mengaji setiap harinya. Hujan yang semakin deras turut membenamkan keduanya dalam tanda tanya dan keraguan akan kelanjutan hubungan yang baru sebentar itu.

Leu yang pertama cair.. memegang tangan kekasihnya dan meminta maaf atas ‘beda’ yang tidak mereka sadari sebelumnya. Tika pun memeluk Leu, dan seakan tak menginginkan sosok yang di dalam pelukan eratnya meninggalkannya. Mereka lama sekali berpelukan, tanpa kata, tanpa gerakan cabul, dan tanpa keinginan untuk melepaskan. Butuh sepuluh menitan hingga Leu mengendurkan pelukannya dan memposisikan wajahnya di depan Tika. Ada berjuta kata yang ingin terucap di sana, tergambar dari wajah mereka berdua. Namun hanya beberapa kalimat yang terucap dari pasangan kekasih itu.

“Mas.. aku tahu kita beda, tapi aku menyayangimu, sepenuh hatiku.. Warnai hidupku dengan canda tawamu, dan lengkapilah aku dengan lembut kasihmu..”

“Nduk.. aku juga tahu ini salah, tapi kita takkan pernah tahu ujung kisah ini.. Aku yakin aku tak salah dengan pilihanku. Karena denganmu.. aku merasa ada ruang kosong yang terisi dalam hatiku.. dan serpihan hatimu lah yang mengisinya.. Aku mencintaimu.. Sungguh.. Walau kau tak melepas kerudungmu. Biarkan kita saling melengkapi.. hingga apa yang akan Tuhan putuskan untuk kisah kasih ini…”

Dan dengan mendaratnya satu kecupan lembut Leu di kening Tika, suasana pun mulai menghangat dengan api cinta mereka. Memang.. tak pernah salah untuk membuat suatu keputusan. Sebab semua ada yang mengatur dan menggariskannya. Leu dan Tika.. cinta abadi dari dua keyakinan berbeda..

Iklan
  1. November 13, 2011 pukul 1:34 AM

    mo bikin buku karena situsnya?
    atow bener2 curcol Sob?
    bener2 kuat niy penamaan karakternya.. Salute!

    • November 13, 2011 pukul 9:34 AM

      Dibilang utuh, masih ada yang aku umpetin, gimana kalau semi curcol aja sob..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: