Beranda > Pelajaran Hidoepku > Bagaimana Rasanya Menjadi Tulang Punggung Keluarga..??

Bagaimana Rasanya Menjadi Tulang Punggung Keluarga..??

Gemetar rasanya jemari ini saat memulai coretan kali ini.. Di tengah pergantian hari ke Jumat lagi yang kali ini terasa lebih cepat, hentakan tutsku pun justru melambat karena ada rasa yang berbeda kali ini. Jujur.. sebenarnya kemarin ingin kutulis coretan ini. Tapi aku masih belum mampu.. seperti ketidakmampuanku untuk menjadi sesuatu yang kujadikan judul coretan ini. Semuanya berawal dari dua kejadian kecil yang kualami di hari kemarin..

Pertama.. Kala satu undangan syukuran dari salah satu leader bawahanku atas pembangunan rumah yang hampir selesai. Sebagai atasan dan sebagai sahabat, walau hujan masih gerimis, aku antusias untuk menghadiri undangan itu. Dalam sekejap, saat memasuki ruang tamu, dinginnya sore itu langsung berganti dengan kehangatan canda tawa diselingi cemilan kue dan tentu saja kepulan asap rokok. Menjelang Maghrib.. acara yang ditunggu pun dimulai yaitu.. makan-makan, hemh.. maknyuss pokoknya. Abis itu? Biasa.. SMP eh udah gede.. SMK ah.. Sudah Makan Kabuuur..

Kedua, saat BBM-an dengan si bontot di Jogja.. Yang akan melaksanakan Kunjungan Industrinya ke beberapa di tempat di pulau Jawa dengan biaya yang tak sedikit tentunya di akhir bulan depan. Mau minta ortu, hemh.. sedang ada project di rumah Lampung (nanti akan kutuliskan di coretan lain setelah project itu selesai). “Bapak menanggapi dengan dingin.. saat aku cerita tentang rencana kunjungan industriku.. ” ujar si bontot via deretan abjad di pesannya malam itu.

Hanya dua peristiwa memang, tetapi mampu menghempaskanku ke titik paling bawah dalam hidupku, yakni suatu kebelumberhasilan.. Aku tahu penghasilan leaderku, dan entah bagaimana caranya dengan posisi sebagai pencari nafkah tunggal, dia bisa membangun rumah pribadi dan hal ini belum bisa kulakukan. Bahkan saat aku sendiri.. Saat belum banyak pengeluaran untuk keluarga. Tabungan saja aku tak punya.. Hemh.. Dia begitu luar biasa menurutku. Dengan penghasilannya sendiri mampu membangun ‘istana‘ untuk keluarga kecilnya. Tempat bernaung dan bercengkerama dengan mantan pacar (baca : isteri) dan buah hatinya..

Sedangkan aku.. Menanggapi ‘pancingan‘ si bungsu pun aku masih menunggu saldoku di bulan depan. Tidak serta merta mengiyakan.. Ternyata aku belum mampu untuk menjadi tulang punggung keluarga seperti leaderku. Rasanya perih memang mendengar si bungsu akan menjual salah satu atau salah dua di antara Venice, Beatrix, atau Marco.. Padahal dia telah jatuh cinta kepada mereka..

Tulang punggung keluarga.. Hanya tiga kata memang, tapi maknanya sungguh luar biasa. Masih banyak dalam kehidupanku yang serupa dengan peristiwa pertama. Mereka yang tinggal di bantaran sungai, mereka yang bermandi peluh mengasong di lampu merah, atau mereka yang sampai serak bernyanyi di tengah penumpang yang berdesakan dalam bus kota. Tapi luar biasanya, mereka semua adalah sandaran bagi keluarganya. Mereka kadang mampu menahan lapar hanya untuk melihat si kecil ceria menikmati makan malam spesialnya dengan sebutir telur sambal atau sepotong paha ayam goreng. Bukan yang bertepung lho.. yang biasa di jual di pinggir jalan saja kok.

Banyak juga memang mereka yang berdasi dan memiliki beberapa ATM di dompetnya dan bernilai besar yang menjadi tulang punggung keluarga. Tapi ah.. aku tak terkesan.. Aku lebih kagum dengan mereka yang dengan semangat menyala bekerja siang malam demi lembaran ribuan di genggaman tangan setiap hari, bukan dengan mereka yang memiliki lebih dari satu digit di depan deretan enam angka nol di rekeningnya per bulan.

Aku kagum dengan semangat leaderku.. Dan dalam jurang keterpurukanku, aku ingin bangkit. Masih ada waktu beberapa hari ke depan untuk menuliskan pesan singkat kepada si bontot bahwa aku bisa tanggung semua biaya kunjungannya. Aku pasti mampu walau belum tahu caranya.. Tuhan sedang mengujiku kali ini.. untuk merasakan bagaimana menjadi tulang punggung keluarga. Aku siap Tuhan.. dan jauh lebih siap karena doa yang tiba-tiba kupanjatkan di sela ketikan coretanku dini hari ini. Amin

 

Iklan
  1. Oktober 28, 2011 pukul 6:26 AM

    … Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yg secukupnya …

    • Oktober 28, 2011 pukul 12:25 PM

      @pak En.. Dan berikanlah Awan plus bundanya kesehatan selalu.. Ayah Awan berikanlah secangkir teh atau apa aja dech yang penting dalam cangkir hehehe…

  2. Oktober 28, 2011 pukul 9:27 AM

    Kunjungan balik 🙂
    link blog km sudah saya pasang yah 🙂
    thanks..

    Menjadi tulang punggung keluarga itu enak gak enak yah..hehe

    • Oktober 28, 2011 pukul 12:23 PM

      @melly.. Apapun itu, kita harus siap karena enak gak enak, suatu saat kita pasti mengalaminya.. Kelahiran Lampung juga to? Salam dari lampung timur..

  3. November 3, 2011 pukul 7:42 PM

    Ngenes banget

    • November 3, 2011 pukul 8:48 PM

      @tower solution.. Yach, apa mau dikata.. Semoga semua tulang punggung keluarga bisa menjadi yang terbaik dalam jalani perannya..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: