Beranda > Menikmati Pekerjaan Ala DP > Bagaimana Jika Kita Harus Menentukan Nasib Orang Lain?

Bagaimana Jika Kita Harus Menentukan Nasib Orang Lain?

Sore ini terasa cerah dari biasanya, maklum hari ini dibagikan insentif lemburan, bisa buat tambahan biaya hidup di mess pabrik nich. Tapi lepas dari itu, aku dapat jatah untuk mewawancarai beberapa pelamar yang akan bekerja di bawah supervisiku. Bukan pengalaman yang pertama memang, tapi tetap penting bagiku karena aku harus menentukan nasib orang lain. Yach nasib sesamaku tentunya..

Sahabat.. tak usah kuceritakan bagaimana jalannya wawancara sebab aku yakin di antara kalian ada yang jauh lebih berpengalaman bahkan ahli di bidang yang satu ini. Aku hanya ingin mengajak sejenak berpikir tentang ‘sesuatu’ di balik sebuah proses wawancara. Sesuatu yang kiranya menggelitikku untuk bertanya padamu, bagaimana jika kamu harus menentukan nasib orang lain?

Sebelum bekerja, tentunya kita juga berada pada posisi pelamar yang beberapa jam yang lalu aku hadapi. Polos, grogi, takut, bingung, memelas, cemas berlebihan, atau penuh pengharapan. Pastinya gambaran tersebut dengan mudahnya akan tertangkap oleh si pewawancara saat pelamar memasuki ruangan. Akupun begitu, sejenak terlena dalam belas kasihan jika melihat situasi di atas atau sontak berubah 180 derajat menjadi jengkel, bosan, dan gemas, jika pelamar justru percaya diri berlebihan, terkesan kurang ajar, atau sok pintar. Namun dengan awalan doa, kuyakinkan diri untuk bersikap objektif, tanpa memandang paras (cantik atau jelek), siapa yang membawanya (ini mah sudah budaya), dan latar belakang keluarga serta pendidikannya. Saat itu yang terpikir di benakku hanya memancing keterbukaan dan kejujuran pelamar, serta menelanjangi mereka dengan pertanyaan beruntun yang akan membantuku menarik hasil atas proses wawancara yang dilakukan.

Ingat sahabat.. pada saat itu kita dihadapkan dengan kata hati untuk menentukan keputusan kita. Buat menjadi “YA” jika memang dirimu melihat adanya potensi dan lantanglah berkata “TIDAK” untuk mereka yang tidak memiliki hal istimewa untuk diterima. Kemampuan ini memang dipelajari dalam satu teknik wawancara untuk si pewawancara atau di Fakultas Psikologi saat zaman kuliah. Jangan pernah main-main pada fase ini karena sekali lagi, harapan mereka ada di pundakmu. Baik memang jika kau terima sebab mereka menunggu dengan harap-harap cemas, kelanjutan dari sesi awal sebelum menjadi anggota suatu perusahaan tersebut. Tapi akan bersalah jika kamu melakukan hal yang tidak rasional untuk menerima mereka hanya karena faktor kenalan, saudara, tetangga, atau fisik yang menawan karena perusahaan pun menginginkan mereka yang terbaik sajalah yang bisa bergabung untuk kemajuan perusahaan.

Aku ingat bahwa Tukul (baca : Mas Rey.. Rey.. Reynaldi) sering mengatakan idiom ‘Don’t Judge the Book From The Cover’. Kalimat ini mengandung makna bahwa untuk mengetahui seseorang, kita perlu bekerja keras dan cerdas untuk menilainya dalam rentang waktu yang sempit dan mungkin dalam suasana hati yang bisa jadi tidak bersahabat. Kalau alasan yang terakhir, sebaiknya jangan teruskan wawancara karena hasilnya pasti mengecewakan. Melihat secara sekilas memerlukan suatu keadaan tenang dan nyaman serta intuisi yang akan makin terasah jika kita sering melakukannya.

Sahabat.. jika suatu saat ada di posisiku saat ini, aku hanya ingin berpesan bahwa kita suatu ketika juga akan berada pada posisi yang sama. Pikirkan lagi pertanyaan yang tidak kita sukai, sikap atau ekspresi wajah yang membuat kita tidak simpatik, atau pernyataan demi pernyataan yang terkesan melecehkan. Sebab hal itupun pasti juga akan mereka rasakan.. Ingat!! Bahwa itu semua belum usai dan hanya tahap awal. Masih banyak keputusanmu yang dinanti untuk nasib mereka andai diterima dalam supervisimu. Bagaimana perkembangan karir mereka, kenaikan gaji, dan taraf kesejahteraannya, serta kenyamanan dan training demi training yang akan kita hadirkan untuknya. Semua perlu pemikiran jernih dan bijak.. Kenapa begitu? Di tanganmu tergenggam peruntungan dan harapan orang lain. Percayalah.. kita suatu saat akan kembali berada di posisi mereka.. Dan punya harapan yang sama.. Semangat pagi sahabat…

Iklan
  1. Oktober 7, 2011 pukul 7:57 AM

    hehehe bumi itu berputar, begitu pula kehidupan.. kadang kita menjadi subjek, kadang menjadi objek. menentukan nasib orang lain, wahh seperti bagaimana sekali yaa (>_<) yang jelas, berlaku bijak adalah hal yang utama ^^

  2. Oktober 8, 2011 pukul 2:29 AM

    @maya.. seperti ‘sesuatu’ kalau kata syahrini, hehehe..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: