Beranda > Pelajaran Hidoepku > Jangan pernah merasa ”paling” tahu.. dan ”paling” yang lainnya..

Jangan pernah merasa ”paling” tahu.. dan ”paling” yang lainnya..

Weekend kemarin ini sangat mengesankan bagiku, mulai dari bisa ke kost lama untuk sungkem Idul Fitri sama Ibu Kost, njenguk Oma yang sedang sakit, PS bareng teman-teman, dan ngumpul bersama teman-teman dari perusahaanku dahulu, di sebuah warung lesehan di bilangan Lapan Kalisari. Semuanya mengalir begitu saja dan menambah semarak hidupku di weekend ini. Tapi namanya waktu, dia terus berjalan tanpa pernah ada kata berhenti sehingga hanya seharipun aku sudah kembali ke Serang untuk bekerja.

Perjalanan balik ke tempat kerja tentunya kulalui dengan mobilku yang senantiasa hilir mudik di depan kost-an. Ada yang nomor 37 dan 41..semuanya warnanya biru, walau takkan pernah diakui orang sebagai milikku.. soalnya itu angkot sich.. Keluar dari gerbang MabeskosmaR (Markas Besar Kost Maryam) hari sudah menjelang siang. Aku dapat angkot yang lumaan padat tapi karena mungilnya tubuhku, dengan mudahnya aku nyelip dan mendapatkan tempat dudukku. Aku duduk di depan seorang bapak dan pemuda yang kuduga ponakannya sebab sering memanggil ”lek” pada si bapak (lek : paklek, sebutan paman dalam bahasa Jawa). Dan isi coretan ini berawal dari sini..

Walau angkot agak sesak, aku sedikit terhibur karena mereka (paman dan ponakannya) rupanya sedang asyik bicara futsal, salah satu olahraga kegemaranku. Si paman nampak bersemangat menceritakan futsal mulai dari jumlah pemain sampai sederet peraturannya. Si ponakan pun manggut-manggut entah paham atau sekedar gak enak melihat pamannya sampai keringatan mengatur nafas dalam bercerita.

Angkot berjalan agak lambat sehingga aku juga semakin lama mendengar ocehan si paman. Melihatku tertarik mendengarkan, si paman sambil sesekali senyum dan mengajakku berinteraksi dalam bercerita. Tapi tumben aku gak begitu tertarik nimbrung, biasanya padahal sekali nama ”futsal” disebut, sampai ujung dunia pun hayuk kalau mau ngobrolin tentangnya. Hingga tak terasa kami melewati satu venue / lapangan futsal favoritku di bekas pabrik tekstil jalan Raya Jakarta Bogor. Wuah.. si paman mulai terdengar lebay (menurutku..) sebab mulai menceritakan sesuatu yang berlebihan tentang venue futsal tersebut. Aku bisa menilai begitu sebab aku lama juga menjadi pelanggan tempat futsal yang cukup representatif tersebut.

Dengan pongahnya beliau menanyakan kepadaku apakah pernah bermain futsal. Melihatku tidak begitu bersemangat dalam menanggapi pertanyaannya, beliau memberitahuku bahwa kasir dan penjaga futsalnya cantik dan ramah. Mereka kerja di shift, ada yang rambut pendek dan panjang tapi beliau lupa namanya. Nyesel katanya kalau gak kenalan. Aku hanya tersenyum dengan kecut kepadanya dan karena Pasar Rebo sudah di depan mata, akupun turun setelah tak lupa membayar ongkos dan permisi kepada si paman plus ponakannya untuk duluan.

Setelah turun akupun geli sendiri, ingin sekali kubilang ke si paman bahwa aku kenal semua penjaga dan kasir tempat futsal itu. Bahwa kasir yang berambut panjang sekarang dah berjilbab, bahwa yang cantik sudah kerja di bank, dan si rambut pendek masih tetap berambut pendek, ada pula si jilbab yang suka nyanyi dangdut. Aku juga pengen katakan bahwa beberapa di antara mereka ada yang jadi temanku di jejaring sosial yang aku ikuti. Akh.. atau aku pengen bilang bahwa aku pernah pergi dan makan bareng dengan pemilik tempat futsal itu dulu sebelum sekarang diambil alih oleh pemilik gedung. Atau.. kuceritakan dengan semangat 45 bagaimana keakrabanku dengan para pemain team futsal venue itu. Hahaha.. biarlah si paman masih menganggap dirinya paling tahu tentang tempat itu dan menjadi hebat di mata ponakannya.

Sahabat.. aku memetik pelajaran bahwa merasa paling tahu tidaklah baik. Sebab ada tiga kerugian saat kita berada dalam fase itu. Pertama, wawasan kita tidak akan berkembang dan bertambah lagi karena kita tidak mungkin mau menerima segala masukan atau info yang terbaru mengenai hal yang sepertinya sudah ”paling” kita ketahui. Kedua,  kita merasa tahu sesuatu yang dalam anggapan kita benar padahal sebetulnya salah. Saat kita merasa paling mengetahui hal (yang salah) itu, berarti kita semakin tenggelam dalam kesalahtahuan kita. Tentu masih ingat bagaimana perkembangan pengetahuan bahwa bumi itu bulat (Copernicus dan Galileo) bukan datar seperti yang dikatakan oleh  Ptolomeus dalam teori Geosentris-nya. Ketiga, rasa paling tahu selanjutnya akan membuat orang lebay atau berlebihan, cenderung sombong, dan kadang berbohong untuk menambah yakin orang di sekitar kita bahwa kitalah yang paling tahu. Nach.. dirimu pasti bisa menambahkan beberapa kerugian lainnya dari sifat paling tahu bukan?

Kita boleh tahu akan sesuatu tetapi orang lain mungkin lebih tahu akan hal tersebut. Selalu.. di atas langit masih ada langit sahabat.. Apakah kamu masih selalu merasa paling tahu??

Iklan
  1. September 18, 2011 pukul 11:29 AM

    penjaga yang sekarang kerja di bank namanya sapa Sob? 😀

    btw, ada oleh2 niy Sob..
    mungkin berkenan, silahkan di cek langsung ke TKP…

    http://www.leutikaprio.com/berita/110980/book_your_blog_bukukan_blogmu_dengan_ikutan_lomba_ini

  2. September 23, 2011 pukul 4:31 PM

    Sob.. Sitha namane.. oke aku check ke TKP, maklum sob.. sibuk bangets…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: