Beranda > Pelajaran Hidoepku > Berawal dari Sandal.. Bermuara ke Ikhlas..

Berawal dari Sandal.. Bermuara ke Ikhlas..

Agak ragu untuk menulis coretan kali ini karena hanya hal yang tak terlalu penting awalnya. Namun setelah melalui permenungan ”iseng” selama semalam maka ada pula pelajaran yang bisa kupetik dari sebuah sandal. Ya.. sandal kesayanganku yang telah menemaniku saat nge-bolang mulai dari Pangandaran dan Cijulang, Borneo Island dari Pontianak sampai ke Singkawang, serta serunya touring di Ujung Genteng Beach. Hanya sebuah sandal yang kubeli secara tak sengaja karena budget untuk beli sepatu tidak cukup padahal hampir seluruh pajangan di rak sebuah toko kuminta diturunkan oleh si mbak pelayan dan kucoba satu persatu. Tapi sandal itu.. ternyata mampu memberi satu pelajaran baru bagi hidupku..

sandal kesayangan..

Awalnya begitu sederhana.. Saat ada acara buka bersama di pabrikku, aku pun berangkat dengan semangat empat lima, maklum anak baru.. Acara yang diselenggarakan dengan lesehan memaksaku untuk melepaskan sandal kesayanganku di anak tangga sebab acara di lantai dua. Menjelang sholat berjama’ah, aku pun turun untuk membakar barang yang dilarang oleh pemerintah (baca : rokok). Naek lagi ke TKP untuk makan malam bersama.. Semua masih OK.. saat menjelang pulang, maklum arena termasuk punggawa pabrik maka pulangnya belakangan.. E ladalahhh.. SANDALKU ILANG!!!

Ufft.. ingin rasanya mengumpat waktu itu. Ingin kuinterogasi satu persatu semua yang hadir sebab kalau kupukuli separuh dari mereka badannya lebih besar dariku hehehe.. Alhasil sambil tersenyum kecut diiringi tatapan menyesal panitia dan boss ku, aku pulang ke mess yang cuma berjarak sepelemparan batu dari TKP dengan sukses BERTELANJANG KAKI.. Dan sampai mess, ternyata sandalku yang lain, yang dipinjam teman saat acara yang sama juga.. hilang.. Apppaaaaaa….!!!

Terdiam sejenak dan aku mulai geli sendiri  di tengah kepulan asap rokok DP.. Siapa aku? Presiden kah? Sehingga hanya sebuah sandal hilang mau memeriksa semua orang? Bahkan SBY pun paling hanya senyum.. (sebab sandalnya banyaaaak). Tapi hatiku berkeras bahwa itu kan kesayanganku, masak diam aja.. Setelah beberapa hisapan, amarah, gelisah, dan emosiku pun stabil lagi dan dengan senyum menang aku berkata dalam hati bahwa aku harus.. IKHLAS..

Lucu memang.. belajar ikhlas hanya dari sebuah kejadian kehilangan sandal. Tapi aku pernah berkata bahwa kebahagiaan bisa berasal dari sesuatu yang kecil. Dan aku bahagia untuk bisa mempelajari ikhlas dari hal tersebut. Ikhlas yang kumaksud tetap dalam aturan main. Sebab kadangkala jika salah tafsir maka akan menjadi sifat  terlalu mengalah, konyol, atau bahkan pengorbanan yang sia-sia.

Ada banyak definisi ikhlas, tapi  aku mengambil dari salah satu forum tanya jawab di situs y***o dimana kata ini berarti bebas atau bersih dari segala sesuatu yang kotor dan semua tindakan hanya bermuara untuk bersyukur atas anugerah sang pencipta. Semua yang kita punya, dari mulai bentuk wajah, tinggi tubuh, harta benda, karier, jabatan, kejayaan, dan sebagainya hanyalah titipan atau amanahNya saja. Saat diambil pun berarti kita harus rela sebab tak ada yang abadi untuk dimiliki. Dia selalu punya cara yang unik untuk memeriksa titipanNya. Sandal itu lama tidak kucuci, jadi barangkali sekarang jatuh ke tangan orang yang dipercaya olehNya akan lebih bisa merawat barang itu. Dan.. mengingat itu hanya titipan, maka mulai sekarang harus kuhilangkan akhiran ”ku” sebagai penanda kepunyaan bukan? Tiada lagi sandalku, mobilku, bajuku, dan ku yang lainnya karena semua Dia yang punya. Aku juga yakin, jika uang yang ada padaku tidak dibagikan kepada mereka yang lebih membutuhkan maka Dia pun akan mengambilnya dariku. Nach.. di sini aturan mainnya dijalankan. Jangan sampai kita memberikan di luar batas kemampuan kita atau pada saat kitapun lebih membutuhkan. Itu konyol namanya dan pasti Dia pun pasti tidak menghendakinya. Sahabat.. mari kita mulai belajar ikhlas.. dimulai dari perkara yang sekecil apapun itu..

Iklan
  1. September 8, 2011 pukul 6:13 PM

    maap.. gw yg ngambil Sob..
    ga tau kalo itu sandal lo… ^_^

  2. September 11, 2011 pukul 9:35 AM

    Berapa sih usia mu mas Dian? Kok kayaknya dah sepuh banget dibanding abah yang baru 67 (umur 32 pengalaman hidup 35). Gak salah aja klo abah juluki sherlock homes tuh. Daya nalar dari sederet mikir dan nulis dari hasil renung dari senoktah sandal butut aja dah mampu gugah emosi abah lho. Dan abah aja belum bisa begini. Abah mo ikutan belajar, boleh ya. Bravo!

  3. September 11, 2011 pukul 10:08 AM

    @tronyok.. Ah dasar kamuu.. Kan ukuran kaki kita beda sob..
    @abah.. 28 menuju 29 usia saya abah.. Kadang2 Tuhan sebenarnya menyisipkan semua bekal hidup dan kaidah kehidupan dalam hal2 kecil di sekitar kita. Abah terlalu berlebihan memuji karena itu masih belum ada apa2 menurut saya.. Hanya coretan asal bin waton imbas dari pikiran ngawur yang meronta.. Hatur nuhun sudi mampir dan komen ya bah..

  4. September 12, 2011 pukul 11:27 PM

    hmmm.. menurut analisa saya, sebentar lagi akan terbit buku autobiografi bocahrantau…
    v ^_^

  5. September 14, 2011 pukul 2:42 AM

    @tronyok.. saya perlu masukkan sesi badminton yang alah dari sampeyan ndak ya? ah nggak usah ah.. hehehe

  6. September 18, 2011 pukul 11:28 AM

    badminton apa yak Sob? ^_^
    gw sukanya olahraga berkuda Sob…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: