Beranda > PLUS plus > Dia Aja Bisa.. Kenapa Guwe Nggak ?

Dia Aja Bisa.. Kenapa Guwe Nggak ?

Teringat janji terhadap seorang sahabat, maka aku tuangkan coretan ini walau mata masih ngantuk sepulang dari mudik. Yach.. ini diawali dari status seorang teman yang kira-kira seperti ini..

Melangkah nekat hanya dgn pertimbangan: dia bisa kenapa saya tidak.. Hmmmm.. Semoga Tuhan menolong saya.. 🙂

Saat itu lama ku tertegun memandang deretan kata tersebut. Ada dua hal yang berbeda kucerna dari kalimat yang jumlahnya sama dengan jumlah pemain satu team Rugby League. Pertama adalah sisi baik dimana orang termotivasi karena pribadi lainnya. Tapi di sisi lain bisa menjadi buruk karena orang bisa bertindak konyol oleh tindakan orang lain.

Lama juga terdiam untuk mengawali kalimat selanjutnya dalam coretan ini.. Tapi aku teringat pada satu coretanku di www.arounduslho.blogspot.com tentang kisah konyol saat ujian di satu mata kuliahku. Ini adalah satu contoh dari tafsiran buruk dimana saat itu kami berlomba untuk segera menyelesaikan tiap soal hanya karena ada yang keluar ruang ujian lebih cepat. Padahal? Kami saat itu tidak tahu kenapa dia bisa keluar dengan cepat. Bisa ditebak sesal pun datang karena harusnya kami bisa memanfaatkan waktu untuk lebih seksama dalam menyelesaikan soal ujian tanpa termotivasi dia bisa kenapa saya tidak.

Sahabat, sengaja sisi buruk ini aku angkat lebih dahulu karena inilah realita yang sering kita jumpai dalam hidup ini. Kita sepertinya lupa bahwa setiap manusia diciptakan unik adanya, lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya. Hanya karena merasa ‘lebih’ dari seseorang maka kita akan melakukan  apa saja agar tidak kalah dengan orang tersebut. Karena seseorang dinilai lemah dan kurang oleh orang kebanyakan, kita lantas ikut menilainya lemah tanpa melihat dan menilai sendiri secara obyektif. Di kesempatan dan wakt selanjutnya kita menjadi antipati terhadap segala perbuatan bahkan prestasinya. Sehebat apapun capaiannya kita tetap saja memandang sebelah mata dan enggan mengakui. Saking jumawanya kita sering berkoar bahwa kita bisa melakukan atau mencapai lebih dari itu padahal kenyataannya kita tidak mampu. Haloooo..?? Apa kabarmu sahabat jika termasuk dalam golongan orang-orang ini?  Jangan-jangan kamu mulai terjebak dalam narsisme yang berlebihan. Lebih baik kamu mulai diam dan berbuat sesuatu untuk membuktikan bahwa kamu memang ’lebih’ darinya. Tentunya dalam arti lebih baik lho.. bukan karena orang lain bisa korupsi jutaan maka kita bisa korupsi milyaran.

Menariknya, kalimat dia bisa kenapa saya tidak juga memiliki sisi baik dimana seseorang termotivasi oleh capaian positif orang lain. Ini contoh sederhananya adalah betapa fanatiknya penggemar selebriti atau tokoh terkenal dalam mengikuti idolanya. Mulai dari cara berpakaian, gaya bermain bola, model potong rambut, dan lain sebagainya. Eits.. tunggu, lupakan contoh ini jika fanatisme ini berubah menjadi  perilaku parasosial, idolatria, atau fenomena i’jab. Itu akan menjadi sisi buruk dari sepenggal tafsiran termotivasi versiku. Lebih baik kita ingat lagi pelajaran di SMP dan SMA mengenai bagaimana persaingan Rusia (waktu itu Uni Sovyet) dan Amerika Serikat dalam menjelajahi ruang angkasa. Dari mulai pesawat tak berawak hingga berawak dimana lalu dikenal kosmonot dan astronot. Sampai sekarang ini saat perjalanan ke ruang angkasa mulai dikomersilkan. Inilah contoh baik dimana dia bisa kenapa saya tidak membawa perkembangan diri bahkan bangsa dan dunia pada konteks lebih luas ke arah yang lebih baik.

Sahabat.. jika mau melihat coretanku tentang Aku yang selalu ketinggalan, akan ada istilah trend setter dan follower di sana. Jika saat ini kita masih berkata dia bisa kenapa saya tidak berarti kita masih sebagai follower bukan? Tapi yakinlah bahwa suatu saat, empat kata yang selalu tercetak miring di coretan ini akan diucapkan oleh orang lain karena prestasi akademis kita, capaian kerja kita, atau perilaku kita di masyarakat. YES!! Saat itulah kita mulai menjadi trend setter bagi sekeliling kita. Namun perlu diingat bahwa setiap tindakan kita akan ditiru sehingga kita harus semakin berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam bertindak. Kepopuleran atau ke-trend setter-an layaknya suatu prestasi atau kepercayaan, yang lebih mudah diraih daripada dipertahankan.

Lepas dari paragraf demi paragraf mengenai sisi baik dan sisi buruk penafsiran status jejaring sosial sahabatku, aku ingin memasukkan inti dari notes ku pagi ini mengenai lebah dan burung elang (walau hanya copy paste). Tak perlu ada sisi baik dan buruk jika kita sudah berserah padaNya. Memang dalam melangkah kita tidak boleh selalu mendongak atau menunduk sehingga kita harus menyeimbangkan gerakan tadi ditambah lirikan kanan-kiri agar lebih aman bahkan sesekali berputar untuk mengetahui persis keadaan sekitar. Tapi jangan sampai apa yang kita lakukan apalagi saat menghadapi masalah, hanya berdasar pada cara orang lain pada masalah yang sama, tetapi lebih karena kita menengadah dan membiarkan Dia bekerja menuntun kita. Setiap pribadi unik, caranya dalam menghadapi masalah pun akan sedikit beda dan mungkin sama sekali tidak sama. Setiap insan pasti bisa akan suatu hal sehingga tak perlu terlalu melihat orang lain dalam melangkah. Jika baik dan benar, serta memang harus kamu lakukan, ya segeralah bergegas melaksanakan atau mengerjakannya. Ubahlah dia bisa kenapa saya tidak menjadi saya bisa karena saya luar biasa dengan tangan-Nya.

Selamat menikmati siangmu sahabat..

Iklan
  1. Agustus 12, 2011 pukul 10:16 AM

    sebenarnya kalimat yang terakhir bisa diartikan sama dengan status tersebut kang.. hehehe.. Keep Writing!!!

    • Agustus 13, 2011 pukul 12:03 AM

      Kalimat yang selamat menikmati siangmu sahabat kah?
      hehheeehhee.. Thanks Bro!! sama sama tetap semangat nulis ya..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: