Beranda > Polahku Teranyar.. > Apakah Aku Masih Kompeten? Sebuah Pertanyaan..

Apakah Aku Masih Kompeten? Sebuah Pertanyaan..

Membaca postingan teranyarku di www.bocahrantau.wordpress.com, membuatku sadar bahwa aku telah keluar dari lintasanku sebagai apoteker. Maka aku berinisiatif untuk mengikuti SKPA (Sertifikasi Kompetensi Profesi Apoteker) yang kebetulan diselenggarakan di Fakultas FMIPA – Departemen Farmasi UI. Lokasi acara yang bisa kutempuh dengan sepeminuman teh membuatku bersemangat kali ini walaupun sebenarnya aku ingin mengikutinya di kota gudek Jogja. Walau ada masukan dari teman mengenai kebelumjelasan program ini pun aku tak bergeming. Walau belum gajian pun aku paksain pinjem dulu untuk biaya pendaftaran. Dan walaupun baru menerima konfirmasi bahwa aku diterima sebagai peserta di Jumat malam sehari sebelum hari H pun aku masih tetap antusias.. dan sangat antusias..

Sedemikian bersemangatnya diriku.. sehingga beberapa rencana akhir pekan kutepikan demi acara ini.Walau tidak tahu apa yang akan kuhadapi dalam acara hari ini, aku masih tetap tak peduli. Motivasiku hanya untuk menguji diriku sendiri, tanpa belajar lagi, tanpa harus tanya kanan kiri, apakah aku masih kompeten di profesi ini. Apapun hasilnya.. maaf aku tak peduli.. aku hanya ingin mengetahui sejauh mana aku telah bergeser dari lintasanku selama ini.

kartu pesertaku.. kodenya akan jadi bahan coretan berikutnya..

Duilee.. semangat bener bro.. Yach, walaupun terlambat tapi aku tetap taat. Sebab kita takkan pernah tahu apa yang akan di depan. Siapa tahu karirku akan terbentur dengan satu aturan. Dengan bertambah kritisnya masyarakat maka profesi yang aku sandang pun pasti dipertaruhkan. Sederet aturan baru dirancang dan mulai disosialisasikan bahkan dimulai dengan perubahan wadah organisasi profesi apoteker di bumi tercinta ini. Tujuannya jelas.. untuk menegakkan aturan main dan integritas setiap apoteker di negara ini. Kami yang berkecimpung di lingkungan kesehatan tentunya bermain dengan berbagai risiko seperti berondongan pertanyaan seputar penyakit dan obatnya. Selama ini bisa kuakali dengan meminta menunggu si penanya sebentar lalu aku pilih opsi phone a friend layaknya sebuah kuis. Begitu jawaban aku peroleh, tanpa ba bi bu lagi aku forward dengan kejamnya ke si penanya. Maaf, karena ini non profit berarti aku tidak melanggar pasal pembohongan publik bukan? Nach.. dari titik inilah kurasakan betapa pentingnya melihat kompetensiku. Sebab aku mulai lupa akan ilmu resep yang selama ini kupelajari bro.. Kalau tentang industri farmasi sih masih mampu lah..

Menjawab niatku itu.. Pagi ini aku bangun lebih awal dan dengan memacu si MC menuju ke lokasi. Sampai di sana ternyata bertemu juga dengan beberapa alumni civitasku. Ada beberapa adik dan kakak tingkat yang rupanya memiliki niat yang sama. Tentu saja latar belakang dan motivasinya tetap aja beda. Tak jadi soal.. bagiku ini juga sebuah reuni kecil sebab sebagian besar kami tidak bertatap muka beberapa tahun lamanya. Banyak juga apoteker-apoteker dari civitas lain yang antusias mengikuti SKPA ini bahkan ada yang sudah sepuh dan datang dari luar pulau pula.. Saluuuuuttt… Acara yang ternyata diikuti 129 orang dari kapasitas 100 orang pun dimulai. Layaknya acara resmi, ada lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan dan kali ini Hymne IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) turut pula diperdengarkan. Yach diperdengarkan karena terus terang sebagian besar dari peserta baru kali ini mengetahuinya. Lagi lagi tak jadi soal.. tetap semangaaatt..

Acara dimulai dengan penyampaian makalah mengenai Diabetes Mellitus mulai dari patofisiologi atau gambarannya sampai penatalaksanaan atawa terapinya. Setelah istirahat masuk ke diskusi kelompok dan pemecahan masalah. Di sini kami dihadapkan pada sebuah resep dan berbagai pertanyaan tentangnya. Nach.. ini baru jadi soal bagiku.. Lidah langsung kelu, tenggorokan kering, tekanan darah melemah, dan rasanya pengen.. pulaaang aja.. Hahaha… sempat kulirik susunan acara dan terbersit ideku untuk datang saja jam satu siang di hari berikutnya. Kau tahu itu apa? Di hari esok, kami ada ujian lima session mulai dari pertanyaan dengan multiple choice answer sampai konseling pasien. Jam satu siang yang kumaksud adalah saat istirahat dimana diselingi sesi pendampingan untuk peserta yang tidak lulus. Hehehe.. melihat kondisinya, saya sangat optimis tidak lulus sahabat.. Jujur saja butuh waktu setengah jam dalam diskusi untuk menggelitik lipatan otakku agar mengingat kembali mata kuliah ilmu resep yang dulu sempat kupelajari. Ah.. jadi nyesel kenapa tidak jadi long life learner ya.. Hal ini berkebalikan dengan ucapan satu dosenku yang menyebut bahwa saat sesuatu yang berhubungan dengan farmasis (baca: apoteker) semisal penyakit atau resep obat didengar.. maka  telinga akan merah, mata akan nanar, dan aliran darah meningkat. Sedangkan aku? Hemh.. speechless.. semoga tidak kejadian terhadap sejawatku lainnya dech.

Sesi hari ini cukuplah bagiku, bukan lagi pemanasan tapi PEMBAKARAN sepertinya. Yach.. semangatku terbakar untuk bisa datang di jam ujianku esok hari. Niatku terbakar untuk senantiasa tetap belajar ilmu kefarmasian setiap hari. Dan nuraniku terbakar untuk menularkan semangat ini ke sejawat lain yang mungkin belum sempat mengikuti acara ini. Tapi aku tetaplah aku.. motivasiku untuk menilai kompetensiku begitu tinggi. Tebak coba.. apakah aku belajar malam ini? Dan jawabannya adalah.. tunggu saja coretanku esok hari..

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: